pernikahan

Yang Terjadi Setelah Menjadi Ibu

Picture-2ssa
sumber gambar di link

Setelah melahirkan, perempuan pasti mengalami banyak perubahan, baik perubahan itu bersifat fisik maupun non fisik. Biasanya, perempuan akan panik dengan berat badan yang tak kunjung turun, garis-garis di perut, wajah pucat, cepat lelah, dan lain-lain. Segala solusi untuk mengatasiperubahan tersebut pun dilakukan, mulai dari minum jamu, perawatan medis dan kecnatikan, sampai melakukan ritual-ritual yang disarankan oleh para orang tua. Eits, ritual amacam apa itu? Hihihi. Maksudnya ritual kebiasaan-kebiasaan yang diwajibkan oleh orang-orang tua, yang terkadang sekedar mitos, seperti tidak boleh tidur siang, tidak boleh menyapu, tidak boleh ini-itu.

Tapi banyak perempuan tidak menyadari perubahan non fisik yang pastinya juga terjadi pada mereka setelah melahirkan. Bagi yang tidak siap mentalnya, perubahan tersebut bisa mengakibatkan stres. Pada titik yang paling ekstrim, tingkat stres sang ibu bisa berujung pada kematian. Masih ingat dengan ibu di Bandung yang membunuh tiga anaknya sekaligus? Nah, diperkirakan, sang ibu mengalami tingkat stres dan ketakutan akut setelah melahirkan yang terus dipendam hingga bertahun-tahun. Belum lagi kasus pembunuhan bayi yang banyak diberitakan di TV. Serem ya. Tapi, bagi yang belum mengalaminya jangan merasa kecil hati. Keadaan tidak seburuk yang diberitakan. Asal sang ibu siap mental pada perubahan pascapersalinan dan ia mendapat dukungan positif dari lingkungan sekitar, perubahan-perubahan tersebut bisa dihadapi dengan baik.

Apa saja sih yang berubah setelah perempuan mengalami persalinan?

Yang pertama adalah sindrom babyblues. Kehadiran anak membuat perempuan merasakan emosi yang campur aduk. Rasa bahagia, senang, bangga, sekaligus sedih, takut, bahkan rasa benci. Rasa bahagia, senang, dan bangga sudah bisa dipahami lah ya. Lalu kenapa perempuan harus merasa sedih, takut, atau bahkan benci pada anak mungil, lucu, menggemaskan, dan berwajah tanpa dosa itu? Sulit untuk mengungkapkannya. Tapi itulah yang terjadi. Yang saya rasakan saat kelahiran anak pertama adalah ini anak mengganggu banget. Singkatnya begitu lah. Tapi itu akan hilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan sang buah hati yang menggemaskan. Di saat seperti ini, yang bisa dijadikan obat adalah dukungan dan pengertian orang terdekat.

Perubahan kedua itu terjadi pada pola tidur. Ibu baru akan mengalami perubahan total pada jadual tidurnya. Jika sebelumnya ia bebas mau tidur kapan saja dan , itu tidak bisa lagi dilakukan setelah ia punya bayi. Mau tidak mau si ibu harus menyesuaikan jadual tidurnya dengan si bayi. Inilah faktor terbesar yang membuat sindrom babyblues terasa semakin menyakitkan. Bagaimana tidak, saat enak-enak tidur, tiba-tiba si bayi menangis. Sambil terkantuk-kantuk si ibu harus menyusui si bayi. Ketika si bayi sudah tertidur, giliran si ibu yang tidak bisa tidur. Nah, jadi seperti main petak umpet kan. Makanya bidan-bidan zaman sekarang tidak menganjurkan untuk pantang tidur di siang hari. Saya yang waktu kelahiran pertama tidak punya pengetahuan tentang ini, sempat mengalami meriang berkepanjangan karena mengikuti omongan orang-orang tua untuk tidak tidur siang. Katanya nanti darah putihnya bisa naik ke mata. Tapi setelah periksa ke bidan, saya malah dimarahi. ‘Ngantuk mah tidur aja mbak, kalau bayinya tidur, mbak ikut tidur. Biar mbak bisa istirahat. Kalau mbak istirahatnya cukup, kesehatan tidak terganggu. ASI pun akan lancar.’ Nah, benar kan logika si ibu bidan? Maka saat kelahiran anak kedua, pantangan itu lewat aja. Saya pun merasa lebih nyaman, tidak panik, tidak merasakan babyblues, isinya tertawa dan tersenyum saja.

Perubahan lain terkait dengan penampilan. Seorang ibu, apalagi yang memutuskan untuk menyusui, mau tidak mau harus memperhatikan model pakaian yang akan digunakan. Baju-baju saya yang tidak berkancing depan otomatis masuk musium penyimpanan, setidaknya sampai dua tahun. Setelah dua tahun, baru deh, baju-baju itu bisa dipakai lagi. Eh, taunya hamil lagi. Setelah melahirkan lagi, disimpan lagi deh baju-baju itu. Hihihihihi.

Selain baju, barang bawaan juga akan berubah setelah melahirkan. Kalau dulu tas bisa dipenuhi dengan aneka barang yang dibutuhkan saat bepergian, maka setelah melahirkan si ibu harus memikirkan juga bawaan untuk si bayi. mulai dari minyak telon, tisu, diaper, baju ganti, handuk, bedak, dan lain-lainnya. Si ibu pun harus siap-siap mengurangi barang-barangnya sendiri. Sebelum bepergian pun si ibu juga harus meyiapkan waktu yang lebih lama karena harus menyiapkan keperluan si bayi juga. Usahakan saat bepergian itu semua sudah siap, tidak hanya bagi ibunya, tapi yang lebih penting adalah kesiapan dan kenyamanan si bayi.

Perubahan lain adalah pola makan. Ini terkait dengan berat badan juga. Ibu menyusui biasanya menggunakan alasan menyusui untuk bisa makan lebih. Kenyataannya sih memang perut terasa lebih cepat lapar dan ingin ngemil terus-terusan. Itu saya, maksudnya. Tapi ini tidak boleh jadi alasan untuk tidak mengendalikan nafsu makan lho ya. Boleh makan apa saja, asal dikendalikan dan diperhatikan gizinya.

Saya kira cukup itu perubahan-perubahan yang terjadi. Tapi kalau nanti saya mengingat ada perubahan-perubahan yang lain, nanti akan saya sambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s