Pendidikan Anak

‘Ada Allah’ dalam Diri Tiap Anak

hiperaktif2

“Farras, kalau mau ikut abah, bolanya dimasukin ke rumah dulu, Nak.” Kata saya.

“Iya ibu.” Jawabnya.

“Enak bener punya anak kaya Farras. Cuman diomongin sekali saja langsung nurut.” Sahut beberapa tetangga.

Iya, tidak hanya sekali dua kali pujian untuk Farras terlontar. Farras memang anak yang penurut, kalem, dan mudah diatur. Dan nampaknya kebanyakan orang tua masih beranggapan bahwa anak yang baik ya anak seperti Farras, penurut, kalem, dan mudah diatur. Saya sendiri tidak menyetting Farras seperti itu. Sombong sekali kalau saya menganggap wujud pribadi Farras adalah murni bentukan saya. Tidak. ‘Ada Allah’ dalam tiap pribadi anak. Jangankan dalam diri seorang anak, seorang manusia yang disebut-Nya sebagai khalifah-Nya di muka bumi, dalam tiap guguran daun pun ‘ada Allah.’

Apa artinya? Setiap anak membawa sifat bawaan yang unik, berbeda pada tiap individunya, dan pada awalnya sifat bawaan itu tidak bersifat baik atau buruk. Anak yang aktif, banyak bergerak, dan tidak bisa diam bukanlan anak yang buruk bila diarahkan pada aktualisasi potensi yang benar serta pola pengasuhan yang benar. Begitu pula anak yang pendiam, kalem, penurut, tidak banyak bergerak tidak otomatis menjadi anak yang baik apabila tidak diasuh dengan cara yang tepat.

Farras memang berkepribadian begitu. Laki-laki tapi tidak banyak bergerak. Kalau bermain lebih suka permainan yang banyak duduknya. Karenanya saya belikan bola. Suka lari-lari sih, tapi dia akan sangat hati-hati. Makanya sejak kecil dia jarang jatuh. Urusan panjat-memanjat pun dilakukannya dengan hati-hati. Rak buku di rumah yang tadinya dikuatirkan simbahnya pun nyaris aman-aman saja. Kalau bermain pun rapi. Hampir tidak ada buku yang disobeknya padahal sejak bayi dia sudah menyentuh buku-buku kertas, bukan buku bantal.

Urusan mendidiknya pun tidak diperlukan putusnya urat nadi untuk bicara padanya. Sampai usia tiga tahun ini, saya bisa katakan kalau Farras tidak pernah tantrum. Nangis kejer sih pernah waktu bayi. Tapi itu karena rasa tidak nyaman. Bukan karena dia ingin ‘menguji’ orang tuanya. Kalau ingin sesuatu pun dia katakan dengan lembut. “Ibu, Farras mau main di luar, boleh?” Itulah kalimatnya tiap hari. Kalau berbuat salah pun tidak segan-segan meminta maaf.

Tapi bukan berarti perjalanan tumbuh-kembang kami, saya, suami, dan Farras sendiri mulus seperti jalan tol. Konflik di antara kami pun pernah terjadi, tapi tidak sering. Setidaknya saya dan suami tidak tiap hari marah-marah serta teriak-teriak kepada Farras. Sesekali tetap saja terjadi tangisan, seperti saat Farras ingin ikut abahnya pergi. Atau saat Farras menolak untuk tidur siang. Atau saat Farras ogah-ogahan membereskan mainannya, sementara emosi ibu sedang tidak sehat. Saat seperti itulah pertengkaran terjadi. Saya sadar sepenuhnya, kesalahan saat pertengkaran itu ada pada kami orang tuanya. Kami yang kurang bersyukur dan kurang sabar dalam menemaninya tumbuh.

Selain dari itu semua, hari-hari kami lalui dengan sangat ceria. Bangun pagi dengan pelukan, candaan, saling mendoakan, memandikan dengan ceria (hampir tanpa paksaan), menyiapkan makanannya (ini juga hampir tanpa paksaan), menemaninya bermain di luar, atau sekedar bercanda dengannya di ruangan, membacakan buku pilihannya, menemaninya mewarnai, hingga mengantarnya tidur. Saat adiknya lahir keceriaan pun berlipat. Farras juga terlihat antusias dalam pengasuhan sang adik. Alhamdulillah, frekuensi pertengkaran kami jauh berkurang.

Saya sendiri bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah pada sifat pribadi Farras yang memudahkan kami untuk mengasuhnya. Semua adalah semata-mata kemurahan yang dititipkan Allah pada kami. Itu perjalanan kami bersama Farras dan kami belum tau bagaimana perjalanan kami bersama Fawwaz ke depannya. Namun, bukan berarti Anda yang dianugerahi anak-anak yang aktif, tidak mau diam, dan sejenisnya tidak diberi kemurahan oleh Allah. Mereka tidak nakal. Mereka tidak buruk. Mereka (dan juga anak-anak saya) sama-sama ujian serta titipan Allah yang suci. Persepsi tentang anak nakal lah yang harus dirubah. Lautan kesabaran lah yang harus diluaskan. Serta kebijaksanaan yang dalam lah yang harus digali. Semua anak membawa misinya masing-masing. Karenanya mereka membaca sifat dan pribadinya masing-masing. Dan yakinlah ‘ada Allah’ dalam pribadi tiap anak. Jangan lupa bersyukur bagi yang diberi anugerah anak-anak yang ‘penurut’. Pun jangan lupa untuk berharap bagi orang tua yang diberi anugerah anak-anak yang aktif dan tidak bisa diam. Tetap, semua harus dikembalikan kepada-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s