Review

Cinta Yang Berpikir, Mengajak untuk Mencintai dengan Logis

images

Itulah kesan pertama saya saat membaca buku Cinta Yang Bepikir karya Ellen Kristi. Bagaimana bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda dalam satu objek? Bisa. Itu pula yang ingin dikampanyekan penulis dalam buku ini. Mencintai anak dengan logika yang benar.

Cinta adalah urusan hati. Sementara berpikir adalah urusan akal. Sepintas kedua aspek jiwa ini terkesan berbeda. Tapi pada hakekatnya, keduanya adalah satu hakekat yang satu.

Ketika bergelut dengan sesuatu yang berkaitan dengan intelektual dan pemahaman, ia disebut intelek. Ketika ia mengatur tubuh, ia disebut jiwa. Ketika sedang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut hati. Dan ketika kembali ke dunianya yang abstrak, ia disebut ruh. –al-Attas-

Cinta bersumber dari hati, sementara berpikir adalah aktifitas intelek. Begitulah penjelasan filsof muslim tentang psikologi manusia. Kaitannya dengan pendidikan anak, istilah Cinta Yang Berpikir juga sangat relevan. Mencintai anak tanpa berpikir akan menjadikan pola pengasuhan yang memanjakan anak karena dengan dalih cinta anak, semua yang dibutuhkan anak akan dipenuhi. Sementara mendidik anak hanya dengan logika akan menjadikan pola pengasuhan yang kaku, hanya berkutat pada benar-salah yang rigid, serta penerapan aturan-aturan yang tanpa hati. Maka mencintai anak dengan berpikir akan menjadikan pendidikan dan pengasuhan yang seimbang, seimbang antara perasaan dan logika.

Sebenarnya, buku ini adalah manual salah satu metode pendidikan. Dalam hal ini metode tersebut adalah model Charlotte Masson. Buku ini diawali dengan ajakan untuk merenung tentang hal-hal yang penting dalam pendidikan itu sendiri, seperti tentang hakekat anak, batas otoritas orang tua, perumusan filosofi pendidikan keluarga, kepercayaan tentang hakekat alamiah belajar yang dimiliki anak, sampai pada perumusan visi pendidikan karakter. Memang bagian ini adalah bagian pendahuluan, tetapi bagian inilah pokok terpenting dalam buku ini. Kendati buku ini berbicara tentang satu model, tetapi yang dibicarakan di bagian pendahuluan ini adalah hal-hal universal yang bisa diterima oleh banyak kalangan dan kelompok yang berbeda.

Dalam bab hakekat anak misalnya, dijelaskan bahwa hakekat anak adalah manusia sempurna sebagaimana manusia dewasa. Ia adalah suatu pribadi yang unik, tidak ada duplikatnya, tidak ada yang menyamainya, bukan produk pasaran, dan bukan sekedar angka dalam statistik. (h. 18-19). Anak tidak kertas kosong, anak juga bukan ‘binatang plus’. Anak bukan sekedar mesin atau suatu komoditas. Ia adalah jiwa yang sempurna, kendati terbungkus dalam fisik yang kecil dan lemah. Sementara otoritas orang tua dijelaskan sebagai bagian tengah antara dua konsep ekstrim, child-centered dan parent-centered. Otoritas orang tua bukan hal yang menjadikan orang tua bisa semena-mena terhadap anak, tetapi otoritas orang tua adalah ototritas yang harus dipertangungjawabkan pada otoritas yang lebih tinggi. Dalam pendidikan Islam, otoritas tertinggi adalah otoritas Sang Pencipta. Jadi otoritas orang tua itu tidak bebas karena ada otoritas lebih tinggi di atasnya. Jika ada istilah anak yang durhaka pada orang tua, maka orang tua pun bisa melakukan kedurhakaan, bukan durhaka kepada anak, tetapi durhaka pada sang Pencipta.

Bagian kedua dari buku ini lebih pada teknis pelaksanaan pendidikan karakter ala Charlotte Mason yang mempunyai ciri khas. Ciri khas yang dimaksud adalah buku sumber belajar yang harus berupa living book (buku hidup, buku yang kaya ide), narasi, serta materi-materi wajib dalam proses belajar, seperti membaca-menulis-tata bahasa, pendidikan agama, sejarah, sastra dan puisi, kewarganegaraan, bahasa asing, musik dan seni, sains, matematika dan logika, pendidikan jasmani, hasta karya, dan kegiatan bebas. Sekilas semua materi itu terlihat sama dengan materi-materi di sekolah formal pada umumnya. Lalu apa bedanya? Perbedaannya adalah metode pelaksanaannya. Jika dalam pendidikan formal pada umumnya proses belaja mengajar umumnya dilakukan dengan guru mengajar dan murid mendengarkan, atau metode lain yang sering disbeut siswa aktif, atau apalah istilahnya, maka metode CM ini bersifat individu. Metode yang digunakan adalah narasi. Anak membaca (dibacakan) buku satu kali,kemudian sang anak diminta menarasikan isi bacaan tersebut. Di sini dibutuhkan konsentrasi tinggi, perhatian, dan juga fokus dari anak karena kesempatan yang diberikan hanya satu kali. Metode narasi ini pula yang dijadikan bahan evaluasi. Alih-alih ada acara contek-mencontek, narasi ini bersifat individu dan juga orisinal karena yang diminta dari anak adalah pemahaman yang ditangkap dari materi yang ada.

Kemudian tentang buku-buku yang disebut sebagai living book. Disebutkan bahwa living book adalah buku yang well-written, well-considered, well-illustrated – ditulis dengan baik, disajikan dengan baik, dihiasi ilustrasi yang bagus, (h. 112). Dalam hal ini, Anda tidak akan menemukan buku teks yang kering yang dipakai oleh metode ini, karena metode ini mensyaratkan buku-buku yang berstandar well-written, well-considered, well-illustrated sebagai sumbernya, baik itu buku fiksi maupun non-fiksi. Dalam sejarah misalnya, buku yang terbaik adalah buku yang dituturkan oleh pelakunya langsung, semacam otobiografi, memoar, atau buku harian. Bisa juga sejarah bersumber dari biografi. Sejarah juga bisa ditunjang dengan novel-novel sejarah, semacam Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer.

Masih banyak yang bisa diungkap dari buku ini, tapi akan tidak menarik kalau saya menuliskan semuanya di sini. Saya persilahkan Anda untuk menikmati sendiri ide-ide besar buku ini. Oya, sekedar catatan, buku ini tergolong buku berat karena Anda diajak untuk berpikir. Penulisnya pun menyarankan untuk membacanya secara pelan-pelan dan tidak terburu-buru. Makin penasaran? Maka jadilah pendidik yang filosofis.

Advertisements

2 thoughts on “Cinta Yang Berpikir, Mengajak untuk Mencintai dengan Logis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s