Keluarga

“Ibu Jangan Sakit Sih!”

Jika saya sakit, si mas suami akan cepat-cepat mengambil minyak kayu putih dan koin.

“Jangan sakit sih dek.”

“Kenapa? Nggak ada yang bikinin kopi ya?”

“Iya sih. Tapi bukan itu masalahnya. Serasa ada yang kurang kalau adek sakit. Keceriaan rumah akan hilang.”

Lain lagi dengan si sulung. Suatu sore saya mengeluh sakit kepala. Buru-buru dia pergi dan kembali membawa balsem. Hah?! Balsem. Dapat ide dari mana lah dia kalau sakit kepala harus dikasih balsem. Udah gitu ditungguin pula. Saya harus segera mengoleskannya di leher dan kening. 

“Udah ga cakit, Bu?”

“Masih sakit Nak. Ibu tidur bentar ya Nak. Nanti kalau sudah sembuh, kita main lagi.”

“Ibu jangan cakit sih.”
“Emang kenapa kalauu ibu sakit?”

“Farras nggak mau main dewe (sendiri). Farras mau main macak-macak cama ibu. Farras mau main mobil cama ibu. Farras mau main buku cama ibu. Farras mau main nulis cama ibu. Farras mau main di luar cama ibu.”

“Semua sama ibu?”

“Iya lah.”

“Ibu nggak boleh ke mana-mana dong?”

“Iya lah. Ibu di rumah aja cama Farras, cama adek.”

“Jadi ibu nggak boleh kerja?”

“Nggak boleh lah. Kalau ibu kerja, Farras mau ikut lah. Eh, kalau ibu pergi trus adek nangis, gimana?”

Begitulah percakapan suatu sore. Intinya, ibu tidak boleh sakit. Ibu tidak boleh pergi. Ibu harus ada terus. Ibu harus menemani mereka, menemani apa saja dan di mana saja.

Selagi kalian masih membutuhkan kehadiran ibu, ibu akan usahakan yang terbaik Nak.

Advertisements

2 thoughts on ““Ibu Jangan Sakit Sih!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s