Keluarga

Selamat Ulang Tahun, Pak!

308082_10150322126024374_1687969874_n

Untuk menghidupi dan membahagiakan keluarganya, laki-laki tersebut memilih profesi yang tidak lazim. Ia memilih menjadi bos begal. Dan malam itu saya menjadi saksi penggrebekan rumah sang bos begal tersebut. Alasannya satu, ingin keluarganya tidak hidup kekurangan lagi, tidak menderita dan terlunta-lunta lagi, tidak mondar-mandir pindah rumah karena diusir sang pemilik akibat telat bayar tagihan sewa. Ia ingin istri dan anak-anaknya hidup bahagia berkecukupan harta. Laki-laki tersebut baik. Tetapi ia tidak benar.

Lain cerita dengan laki-laki kedua. Ia rela keluar dari pekerjaannya demi anak-anaknya. Awalnya dia galau antara bekerja dan tinggal di rumah. Kalau dia masih bekerja, anak-anaknya akan terlantar, terutama si bungsu yang masih berusia di bawah satu tahun. Selama ini, si bungsu dititipkan ke pengasuh, tapi tidak pernah cocok dan akhirnya gonta-ganti pengasuh. Pernah juga dititipkan pada si nenek. Tapi si nenek lama-lama juga keberatan karena masih mengurus ibu, suami, ladang, warung, dan lain-lain. Tapi kalau dia tidak bekerja, otomatis pendapatan keuangan akan berkurang. Kenapa tidak sang istri saja yang keluar kerja? Tidak, karena gaji istri lebih besar. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya sang suami keluar kerja dan membuka usaha di rumah, membaut roti dan kue. Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Jarang lho ada suami yang betah di rumah serta telaten merawat anak-anak yang masih kecil.

Laki-laki ketiga, seorang suami yang taunya bekerja saja. Urusan rumah adalah urusan istri. Bahkan sampai genteng bocor, kran air copot, jemuran yang rusak, semua diselesaikan sang istri. Pernah suatu ketika ada kerusakan di dapur mereka. Sang istri meminta suaminya memasang paku di dinding. Bukan paku yang dipukulnya, tapi tangannya yang dipalu. Lagi-lagi si istri mengambil alih urusan paku-palu di rumah mereka. Tapi jangan salah, urusan keuangan mah, istri sejahtera. Mau minta uang sebanyak apapun pasti diusahakannya. Semampunya, maksudnya. Hehehe.

Lalu bagaimana dengan suami saya? Suami terbaik di muka bumi. *uhuk… biar dapat bonus apa gitu. Kami memang sudah saling kenal sejak kecil. Tapi bukan berarti perjalanan kami mulus tanpa rintangan. Kami bahkan baru mengenal karakter masing-masing setelah menikah. Ada rasa kaget, kecewa, bangga, semua bercampur jadi satu. Yang pasti tekad saya, saya mencintainya sepenuh jiwa raga saya.

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada

Begitulah kata Once. Tapi kami tidak kemudian menerima kekurangan kami masing-masing begitu saja. Kami bertekad untuk tumbuh bersama, memperbaiki kekurangan kami bersama, dan saling mengingatkan kesalahan kami untuk kemudian memperbaikinya bersama-sama. Karena usia kami yang tidak terpaut jauh, kami tidak merasa kesulitan untuk hal ini. Kami seperti teman, dan nyatanya kami memang berteman, teman sejati, sehidup semati. Insya Allah, Amiiin.

Banyak hal yang telah dia lakukan untuk saya. Memberi ijin saya kuliah dan meninggalkannya di rumah, sementara dia bekerja, mengambil alih semua tanggung jawab nafkah keluarga tanpa menuntut saya untuk membantunya, menerima setiap kekurangan saya, memaafkan segala kesalahan saya, dan terus berusaha menjadi suami dan ayah terbaik di keluarga.

Untuk urusan pemenuhan nafkah, suami saya bekerja sepanjang waktu tanpa kenal lelah dan mengeluh (paling kalau meriang minta dikerok, hihihi). Untuk urusan membantu pekerjaan rumah, saya akui semakin hari suami saya semakin pengertian. Saya tau ini tidak mudah. Lahir dan besar dari pola pengasuhan yang menjunjung tinggi budaya patriarki (laki-laki, bapak, anak laki-laki adalah segalanya, tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah dan hanya tau bekerja) terus kemudian menikah dengan saya yang dibesarkan dengan pola kesetaraan (di rumah saya tidak ada pembedaan tugas antara anak laki-laki dan perempuan) membuatnya menyesuaikan diri dengan saya, bukan sebaliknya. Saya yang pada awalnya memintanya membantu pekerjaan rumah, berbagi mengurus anak, sampai terkadang menyiapkan makanan saya membuatnya terbiasa melakukan semua itu tanpa paksaan. Kini suami sudah terbiasa membersihkan kotoran anak, membantu mencuci baju, mencuci piring, nyapu, ngepel, menidurkan anak, bahkan menyiapkan makan untuk kami.

Dia bukan suami romantis. Tidak pernah ada acara pemberian atau kejutan jam dan cincin, seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati untuk hari-hari spesial kami. (Eh, pernah ding, sekali memberi cincin, cincin mas kawin saat pernikahan. Itu saja). Tapi bukan berarti dia tidak memberi apa-apa. Dia memberi segalanya selain jam, cincin, seikat bunga, puisi, dan kalung hati. Dia memberi hidupnya, waktunya, perhatiannya, jiwa raganya, untuk saya, untuk anak-anak kami, dan itulah arti romantis yang sesungguhnya buat saya. Bagi saya, segala usahanya untuk terus menjadi lebih baik adalah bukti cinta yang sesungguhnya, tanpa harus diucap dalam puisi, tanpa harus disimbol dengan seikat bunga, tanpa harus dinyatakan dengan kalung hati (tapi kalau dibikinin cincin dengan batu yang cantik, mau juga sih. hihihi).

Bulan ini ulang tahunnya ke-30 (udah tua juga ya Pak?). Tidak ada perayaan khusus karena hasilnya akan lucu (pernah saya bikin kejutan dengan kue ulang tahun, tapi tanggapannya garing. Jadi tidak lagi-lagi deh bikin kejutan seperti itu). Hanya sebuah smartphone sederhana yang bisa kupersembahkan. Maaf, bukannya pelit, atau nggak mau bermodal dikit. Yang aku ingin beri padamu, doa setulus hati. Semoga Allah selalu melindungimu, menjagamu, membimbingmu untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sehat terus ya Mas. Yang luas pintu maafnya untukku. Yang sabar menghadapiku. Mari bersama-sama melanjutkan perjalanan rumah tangga dengan rasa bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s