Keluarga

Selamat Atasmu, Selamat di Hari Lahirmu!

SAM_0056

Ibu ingat sekali, malam itu ibu masih segar. Ibu masih menemani abahmu di luar samapi jam 9 malam, pulang, beres-beres rumah, nyuci baju, nyuci piring, nyapu, ngepel, semua ibu kerjakan malam itu. Jam 11 ibu mulai merasa lelah dan istirahat. Tapi abahmu datang setengah jam kemudian. Kembali ibu menemani abahmu nimbun tanah di halaman. Saat itu, rumah kita masih sendiri. Belum ada rumah lain di gang kita. Semua masih ilalang. Serasa tinggal di tengah sawah. Ditambah akses jalan menuju rumah kita yang masih tanah, berlumpur saat hujan, berdebu saat panas. 

Rasa mulas mulai ibu rasakan jam 01.00. Karena ngantuk, ibu sempat menolak untuk pergi ke bidan. Tapi memang abahmu cukup kuat insting dan perasaannya. Abahmu merasa saat itu kamu akan segera lahir. Jam 01.30 kita pergi ke bidan. Dan memang rasa mulas mulai menguat. Sampai di bidan langsung masuk ke ruang tindakan. Rasa mulas itu semakin sering. Ibu hanya ditemani abahmu dengan dua perawat dan bu bidan saat itu. Ibu pun merasakan apa yang sering disebut banyak orang sebagai perjuangan seorang perempuan, sakit saat melahirkan. Tapi, percayalah, ibu tidak mengeluh. Ibu bahkan masih sempat mengantuk dan tidur di sela-sela rasa mulas datang. Hihihi (lahiran kok sempat-sempatnya tidur, begitu abahmu meledek ibu).

Tidak lama. Tepat pukul 02.35, engkau lahir. Tidak panjang juga ceritanya karena proses persalinanmu memang sekejap. Ibu sangat bersyukur atas semua kemudahan itu. Kamu lahir sehat, tidak kurang suatu apapun, dan ibu pun selamat.

Tapi, tantangannya datang kemudian. Ibu harus menghadapi masa-masa berat setelah pulang dari bidan. Untungnya semua terlewati dengan baik. Abahmu, sungguh abahmulah teman terbaik selama masa-masa berat itu. Dan kamu terus tumbuh dengan baik, sehat, tanpa kurang suatu apapun.

Ibu mengasuhmu sendiri. Ibu tidak bisa meninggalkanmu. Karena itulah ibu sempat merasakan galau tingkat dewa saat memikirkan tesis ibu yang terbengkalai. Ibu ingin cepat selesai kuliah. Tapi saat membayangkan harus meninggalkanmu, rasa enggan untuk menyelesaikan itu muncul. Sampai akhirnya ibu memutuskan untuk menyelesaikan kuliah ibu dan tetap mengasuhmu. Itulah masa-masa terberat ibu. Ibu harus jauh dari abahmu, meninggalkanmu ke kampus untuk ujian-ujian dan ke perpustakaan, sering marah-marah karena ulahmu yang tidak bisa ditinggal sedikit pun. Sungguh, bila ingat masa-masa itu, ibu tidak akan berkeinginan untuk mengulanginya lagi. Ibu ingin selalu bahagia bersamamu.

Dua tahun pun berlalu. Saat penyapihan pun datang. Ibu memilih untuk menyapihmu dengan cinta. Bukan dengan paksaan, pahit-pahitan, bohong-bohongan, dan prosesnya tidak lama. Allah memang selalu memberi kemudahan bersamamu, Nak. Satu setengah bulan proses penyapihan selesai. Ibu tidak sakit. Kamupun bahagia. Dan kita tertawa bersama. Lagi-lagi, abahmulah teman sejati di setiap perjalanan.

Adikmu pun hadir di kehidupan kita. Ibu ceritakan tentang adik yang ada di perut ibu. Engkau sangat antusias. Engkau benar-benar menganggap adikmu sudah hadir di tengah-tengah kita. Setiap pagi kau sapa adikmu dengan sangat manis. Kau ajak bermain di setiap permainanmu, kau ajak membaca setiap bacaanmu, dan ibu sangat berterima kasih atas semua kedewasaanmu.

Adik pun lahir. Dan engkau sangat bahagia. Sampai saat ini, tidak sedikit pun kesalahan kau lakukan pada adikmu. Kau rawat adikmu dengan sangat baik. Kau bantu ibu mengasuhnya dengan sangat baik. Kau ingatkan ibu untuk lebih bijak saat ibu lepas emosi. ‘Ibu, yang sabar ya. Adik, adik jangan rewel. Kasihan ibu.’ Sungguh semua membuat haru.

Orang bilang, ibu sangat beruntung atasmu. Ya, nyatanya ibu memang sangat beruntung. Mereka bilang ibu berhasil mendidikmu dengan baik. Yang sebenarnya, kamulah yang menjadikan ibu terus belajar. Kamulah yang mengajari ibu. Ibu mempunyai anak cerdas sepertimu. Ibu tidak harus berteriak-teriak untuk mendidikmu. Tapi nyatanya, ibu seringkali kurang sabar menghadapimu. Ibu masih sering memarahimu. Ibu masih bisa membuatmu menangis. Ibu masih belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu dan adikmu. Ibu minta maaf. Sungguh ibu minta maaf.

Ini tahun ketiga keberadaanmu di tengah-tengah kami. Ibu tidak banyak meminta. Yang ibu harapkan semoga Allah selalu memberimu kesehatan, memberi ibu kesabaran, memberi ibu kekuatan, dan memberi kebijaksanaan untuk tumbuh bersamamu dan adikmu. Tidak ada yang mengajari dalam kehidupan kita. Yang ada kita saling belajar. Dan ibu belajar banyak darimu, Nak.

Sehat selalu Nak. Salam sun ibu, abah, dan adik Fawwaz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s