Cerita Ringan

Catatan Pengalaman Belajar: Madrasah Ibtidaiyah (SD)

Saya masuk MI saat usia saya masih belia, lima tahun. Kata ibu, guru TK saya yang memasukkan saya ke MI karena sudah saya sudah bisa membaca. Di kelas satu, tidak bayak yang teringat (apalagi saat TK, karena itulah saya tidak menuliskan kenangan saat TK). Yang saya ingat, saya mendapat rangking 4. Tidak ada perasaan apa-apa saat itu. Saya yang masih lima tahun belum ngerti rangking. Baru saat kelas dua, saya mendapat rangking dua dan wali kelas saya saat itu memanggil peraih rangking 1,2,3 untuk maju ke depan kelas dan memberi kami hadiah. Sejak saat itulah rasa gila rangking pun menghinggapi (percayalah, mengejar rangking itu adalah hal yang tidak berguna di kemudian hari. Yang terpenting adalah gila belajar, cinta ilmu, cinta belajar, cinta bertanya, cinta penasaran). Hampir di setiap cawu saya mendapatkan rangking dua, sekali mendapat rangking satu, dan sekali mendapat rangking tiga. Itu terjadi sampai kelas enam.

Seperti yang saya katakan, tidak banyak yang saya ingat dari masa-masa MI ini. Setiap pagi saya berangkat jalan kaki ke sekolah, belajar, bermain atau ke perpustakaan saat istirahat, dan pulang saat tengah hari. Setelah pulang biasanya ibu langsung menyuruh untuk ganti baju, mandi, sholat, makan. Tapi saya biasanya ngeyel untuk baca buku hasil pinjaman dari perpustakaan. Karena kegilaan membaca saya waktu itu, ya, pekerjaan saya hanya membaca, membaca, dan membaca, tidak pernah bermain, membuat rangking saya menurun, begitu kata abah (yang juga seorang guru di MI). Karena itulah jadual membaca saya diawasi. Saya harus tidur siang lah, saya harus bermain lah, saya harus bercanda lah. Mungkin Anda tidak percaya, mas abermain dan tidur siang saja harus dipaksa. Tapi itulah yang saya ingat. Saya harus tidur siang dengan ogah-ogahan. Saya harus bermain dengan rasa malas karena teringat buku bacaan yang saya pinjam dari perpustakaan.

Masalah pelajaran, jujur saja, kalau Anda tanya pelajaran apa yang tersisa di kepala saya saat saya bersekolah di MI, saya katakan hampir tidak ada. Huahaha. Kalau ditanya apa saja yang dipelajari di pelajaran IPA, saya benar-benar lupa. Yang saya ingat, dulu saya sangat suka pelajaran IPS, tentang geografi dan sejarah. Saya hampir hafal pelajaran itu. Setiap ada jadual pelajaran IPS, saya berangkat sekolah dengan berseri-seri karena nanti di kelas, sayalah yang merajai setiap pertanyaan guru. Selain IPS, saya juga suka matematika dan bahasa Arab. Ketiga pelajaran itulah yang saya sukai. Selain ketiganya, saya bahkan lupa pernah belajar mata pelajaran apa saja. Lalu, apa gunanya ya sekolah? Pertanyaan konyol tapi filosofis, lho.

Saya memang belajar pelajaran agama di MI. Tapi yang saya ingat, abah di rumah lah yang mengajarkan saya berwudhu dan sholat. Saya memang belajar fiqih di sekolah, tapi yang saya ingat, ibu di rumah lah yang mengajarkan saya bersuci. Bukan dengan instruksi, ‘bersuci adalah bla..bla..bla..’, tapi dengan praktik langsung. Bahwa bersuci dari hadas itu begini, kaki kena air pipis itu najis, cuci tangan itu bagaimana, cuci ikan itu bagaimana, dan lain-lain. Saya juga belajar aqidah di sekolah, tapi yang saya ingat, abah saya yang mengajar aqidatul awam di sekolahlah yang menancapkan pemikiran bahwa Allahlah yang Esa, Kuasa, dan Segala-galanya. Kemudian pelajarna itu akan diulang-ulang di rumah. Tidak dengan bahasa formal seperti di sekolah, tapi dengan dongeng, renungan, dan juga obrolan ringan setelah sholat berjamaah. Ya, dulu kami selalu melakukan sholat maghrib berjamaah, wiridan bersama, mengaji yang langsung diajar abah atau ibu, kemudian kami berbincang bersama sambil nunggu isya’. Nah, dalam obrolan itulah abah banyak memberikan pelajaran-pelajaran agama yang bagi saya meresap menjadi kepribadian saya hingga saat ini. Pelajaran itu tidak ada kurikulumnya. Mengalir saja. Tapi begitu kuat tertanam dalam jiwa.

Saya ingat, saat siang hari saya tidak mau makan karena lauknya tidak enak dan bosan, malam harinya abah bilang, makanan itu cuma bisa dirasa sejengkal saja. Ya rasa makanan itu cuma sak kilan. Satu jengkal saja. Rasa enak, manis, asin, tawar, hambar, cuma bertahan satu jengkal saja. Tidak lebih. Setelah satu jam paling lama, tidak ada bedanya rasa makanan enak dan tidak enak. Karena itulah, ‘bersabarlah kala ibumu memasak makanan yang menurutmu tidak enak. Makanlah seadanya. Syukurilah yang ada. Di luar sana banyak yang tidak bisa makan, walau sekedar nasi putih saja.’

Atau saat ada nenek-nenek yang sibuk membantu anaknya mengurus rumah tangganya, menyapukan rumah, momong anak-anaknya, mencucikan pakaian anaknya, dll. Abah bilang, ‘salah satu tanda yang mempercepat datangnya Kiamat adalah orang tua yang jadi babu anaknya.’ Huuuh, nasehat abah yang satu ini benar-benar tertanam kuat di hati saya hingga saat ini. Mungkin abah lupa pernah berkata seperti itu hingga pernah memaksa momong anak saya dan meminta saya untuk bekerja saja. Tapi, saya tidak ingin mengundang Kiamat. Saya tidak ingin menjadikan mereka babu. Sudah cukup mereka repot mengurus saya saat saya kecil. Saya tidak mau menambah kerepotan mereka lagi.

Kembali cerita ke sekolah. Tentang guru-guru di sekolah saya, dulu saya masih menjumpai guru-guru tua. Guru-guru jadul kalau kata anak-anak sekarang mah. Mereka kaku, disiplin, tidak banyak bercanda, serius, dan pastinya ditakuti. Abah saya masuk dalam kategori guru seperti ini. Di sisi lain ada guru-guru muda, belum menikah, banyak bercanda dengan murid, dan cenderung plelek’an (apa ya bahasa Indonesianya?). Biasanya murid-murid lebih suka guru model begini. Tapi saya tidak. Sampai saya kuliah pun, saya menyukai model guru-guru jadul, guru yang kaku, disiplin, tidak banyak bercanda, serius, tapi tidak ditakuti. Saya bisa menghormati mereka. Tapi bukan berarti saya tidak menghormati guru-guru muda jaman saya SD. Hingga kini, saya masih menghormati mereka, menempatkan mereka di urutan penghormatan setelah orang tua saya.

Tidak ada yang istimewa di masa-masa ini. Saya murid biasa. Lulus. Dan kemudian melanjutkan sekolah ke pesantren. Tapi pertanyaan tentang pentingnya sekolah tadi penting lho untuk direnungkan. Kalau pelajaran-pelajaran sekolah tidak membekas, apa pentingnya sekolah?

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Pengalaman Belajar: Madrasah Ibtidaiyah (SD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s