pernikahan

Hamil Saat Masih Kuliah

Si sulung yang berusia 18 bulan diajak kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliah.
Si sulung yang berusia 18 bulan diajak kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliah.

Jujur, saat mengetahui saya positif hamil anak pertama waktu itu, saya merasakan emosi yang bercampur-aduk antara bahagia, sedih, khawatir, juga rasa cemas. Saat itu saya masih duduk di awal semester dua pascasarjana. Tapi bukan perkuliahan yang membuat saya begitu mencemaskan kehamilan saya waktu itu. Long distance marriage yang membuat rasa hati begitu berat dengan kehamilan pertama saya.

Saya kuliah di Jakarta dan rumah kami di Bandar Lampung. Sebelum menikah saya mendaftarkan diri di sekolah pasca sarjana di universitas negeri di Jakarta. Setelah menikah, saya mengikuti suami tinggal di Bandar Lampung. Jadi, sebulan setelah pernikahan, kami berpisah. Saya ke Jakarta dan suami tinggal di rumah. Biasanya sebulan sekali saya pulang ke Lampung. Kami pun memutuskan untuk menunda kehamilan agar bisa fokus kuliah dan cepat menyelesaikannya. Namun, tanpa ada rencana, rupanya Allah berkehendak lain. Di awal semester kedua perkuliahan, saya hamil. Masih ada satu semester perkuliahan aktif yang harus saya tempuh ditambah penyelesaian tesis. Kalau sebelum hamil, saya bisa bolak-balik Jakarta-Lampung sebulan sekali untuk pulang. Tapi dengan kehamilan yang masih muda, saat itu saya membayangkan akan merasakan beban berat sendirian di Jakarta karena suami berada di rumah Lampung. Saya membayangkan akan mabok sendirian tanpa ada yang memperdulikan. Saya akan merasakan nyidam sendirian tanpa ada yang memberikan kasih sayang. Sempat terpikir untuk cuti kuliah, tapi saya urungkan karena cuti hanya akan menambah lamanya perkuliahan dan semua akan tertunda.

Saya tetap memutuskan berangkat ke Jakarta sendirian karena suami harus lembur kerja saat itu. Dengan diantar suami ke bandara, saya tidak henti-hentinya menangis. Mata saya sembab. Bahkan sampai di pesawat pun air mata tidak tertahankan. Saya merasa sangat sedih dengan perpisahan itu. Mungkin orang-orang yang melihat saya saat itu berpikir kalau saya habis kehilangan sesuatu. Saya tidak peduli, karena yang saya rasakan memang perpisahan yang membuat sakit luar biasa.

Sampai di Jakarta saya segera mengurus perkuliahan. Saya usahakan semua mata kuliah habis di semester itu, sehingga semester depan saya bisa fokus mengerjakan tesis dan bisa pulang ke Lampung tanpa harus tinggal di Jakarta lagi. Setelah melakukan lobi-lobi yang alot dengan staf akademik, akhirnya saya bisa mengmbil semua mata kuliah. Tanpa saya duga, ternyata melewati hari-hari selanjutnya dengan rasa semangat karena ingin kuliah cepat selesai dan mendapatkan hasil yang maksimal.

387232_1746876649650_1770835494_858359_208871950_n
Hari terakhir kuliah Islam and Science dengan Prof. Mulyadhi Kartanegara

Saya juga masih mengajar TK dan TPA di sela-sela perkuliahan saya. Saya mengerjakan semua tugas dengan semangat berapi-api dan mengajar dengan penuh riang gembira. Saya sendiri heran, rasa khawatir dan cemas sat pertama kali mengetahui kehamilan hilang dengan sendirinya. Sebaliknya, yang saya rasakan saat itu ada semangat, semangat, dan semangat. Memang sih, saat berada di pesawat saya bertekad bahwa saya kuat, saya tidak lemah, saya sanggup menghadapi kehamilan ini meskipun tanpa suami di sisi (maksudnya, suami mah ada, hanya saja jauh) dan yang terpenting adalah saya tidak bolehmengeluh.

Apa saya tidak merasakan morning sickness? Sepeti layaknya perempuan lain, saya pun merasakan mual, muntah, pusing, dan lain-lain. Tapi entah, rasa itu bagi saya menyenangkan dan sama sekali tidak mengganggu jadual kuliah dan mengajar saya. Saya tidak pernah sehari pun absen dari kuliah dan mengajar. Tugas-tugas kuliah pun saya selesaikan dengan baik dan indeks prestasi pun tinggi di akhir semester.

Selama masa perkuliahan itu, saya juga meluangkan waktu untuk menyempurnakan proposal tesis. Target saya saat itu, saya bisa ujian proposal sesaat setelah ujian semester berakhir. Di situ tantangan terberat saya. Membuat inti tesis yang disyaratkan pihak akademik ternyata bukan pekerjaan ringan (bahkan sampai saat ini, beberapa teman saya belum lulus karena terhambat di proposal tesis). Saya harus mondar-mandir ke satu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk melengkapi literatur. Naik metromini dan bergelantungan sepanjang jalan sambil berdesak-desakan adalah rutinitas seari-hari selama pengerjaan proposal tesis. Konsultasi demi konsultasi juga saya lalui. Berkejaran dengan waktu, itulah yang saya rasakan saat itu. Saya harus segera selesai. Itu yang selalu di pikiran saya. Sampai-sampai terkadang saya lupa kalau saat itu saya sedang hamil. Pernah saya berlari naik turun tangga karena mengejar dosen untuk berkonsultasi. Saya sampai ditegur salah satu staf, “Mbak, hamil kok lari-lari?” Oh, iya. Saya sedang hamil.

Foto0492
bersama si dedek ddalam perut di perpustakaan ICAS

Capek, lelah, letih, pastinya terasa. Tapi makhluk kecil di perut yang sudah bisa menari selalu menjadi hiburan tersendiri. Saya bisikkan kepadanya tentang aktivitas yang sedang kami lakukan saat itu. Saya ceritakan kembali kuliah tentang peradaban Islam yang agung. Saya ajak dia menemani saya menyusun proposal tesis. Saya juga bacakan dia buku-buku sumber tesis dan tak lupa kitab suci Al-Quran. Dan dia terus bergerak tanda setuju.

Akhirnya, di akhir semester kedua saya bisa ujian proposal tesis dan lulus dengan baik. Saya pun dijemput suami untuk pulang ke Lampung dan membawa semua buku sumber tesis untuk penyelesaian tesis selanjutnya. Beberapa kali saya masih bolak-balik ke Jakarta karena harus bimbingan tesis. Saya juga diangkat menjadi dewan hakim MTQ kota Tangerang Selatan saat kehamilan saya berusia tujuh bulan. Bukan hal yang mudah memang, bolak-balik Lampung-Jakarta dengan kehamilan yang semakin membesar. Tapi, alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar hingga ke persalinan.

Persalinan saya pun tergolong mudah. Saya hanya merasakan kontraksi selama satu jam, kemudian bayi lahir. Sudah. Setelah sehari di rumah bersalin, saya pun dibolehkan pulang.

Ada hal-hal yang saya tetapkan menjadi peraturan selama saya hamil saat itu. Di antaranya, dilarang mengeluh. Ya, saya tidak boleh mengeluhkan kepayahan dalam kehamilan. Saya ingin anak saya tau kalau ibunya kuat. Saya pun ingin mengajarkan kepadanya agar tidak gampang mengeluh dan mudah menyerah. Dan itu harus saya mulai dari diri saya sendiri.

Aturan kedua, saya tidak boleh bergunjing, ghibah, dan sejenisnya. Termasuk di dalamnya menonton infotaintmen. Yang saya pikirkan saat itu adalah anak saya. Saya tidak ingin nantinya dia mengikuti perbuatan buruk saya, sekecil apapun. Lagi-lagi, semua itu harus dimulai dari diri saya sendiri.

Aturan ketiga, membatasi nonton TV. Acara-acara yang tidak mendidik benar-benar saya tinggalkan. Saya tidak ingin anak saya ikut menyaksikan acara-acara yang hanya akan merusak jiwanya. Alhamdulilah, kebiasaan ini terus berlanjut hingga saat ini. Di rumah memang ada TV, tapi TV itu nyala tidak lebih dari tiga jam sehari.

Aturan keempat adalah mengaterut. Kalau saya melakukan semua itu, dia nanti akan menirunya.

Intinya, saya jauhkan diri dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat selama kehamilan berlangsung. Saya percaya, meskipun anak dalam rahim masih berbentuk segumpal darah, ia adalah makhluk hidup yang bisa merasa. Karena itulah, pendidikan dan teladan harus ditanamkan sejak kehamilan terjadi, bahkan sebelum kehamilan itu terjadi. Di sinilah peran penting perempuan dalam pembentukan generasi ke depan. Bila perempuan itu baik dalam masa-masa kehamilan, bisa dipastikan anak yang dikandungnya akan terpengaruh kebaikannya. Maka, begitu pula sebaliknya.

13701_840104079360733_4726752232660071103_n

Tulisan ini diiukutsertakan dalam Pregnancy Story Writing Competition yang diselenggarakan NUK Indonesia

Advertisements

3 thoughts on “Hamil Saat Masih Kuliah

  1. idem mak. Setiap kali hamil aku juga membuat peraturan untuk diri sendiri seperti dirimu. Gara2nya sih krn waktu hamil anak pertama kebetulan ketemu dokter yang kebapakan banget dan dia ngasi nasehat bahwa setelah memasuki usia 5 bulan, maka janin bisa mendengar dan mengikuti semua aktifitas kita melalui pendengaran dan perasaan kita. Nah… ya sudah. mulai deh hati2….

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s