Keluarga

Mengenang 40 Hari Kepergianmu

IMG_0451

Semoga Allah menyayangimu di alam sana adikku. Itu doa yang selalu aku panjatkan untukmu, hanya itu yang bisa aku berikan untukmu. Maafkan aku. Selanjutnya, aku berniat untuk melanjutkan tugasmu. Aku akan berusaha sebaik mungkin berada di sisi emak dan abah, meskipun aku sadar sepenuhnya, kenangan mereka akan kebaikanmu tidak akan bisa tergantikan oleh apapun.

Kau memang bukan adik kandungku, hanya adik ipar, adik suamiku. Tapi ikatan keluarga yang terjalin anatara kita begitu kuat. Aku begitu saja langsung menganggapmu seperti adikku sendiri saat kakakmu menikahiku. Sejak itu aku tidak menganggapmu seperti orang lain. Kaulah adikku, sebagaimana emak dan abah yang aku anggap seperti orang tuaku sendiri.

Tau kah kau betapa aku sangat iri kepadamu? Saat kau masih hidup, emak selalu menceritakan kebaikanmu. Ya, hanya kebaikanmu. Tidak ada sedikitpun keluh kesah emak atasmu. Emak selalu bercerita tentang kemurahan hatimu, keikhlasanmu, kesabaranmu, ketaatanmu, kasih sayangmu, serta cara terbaikmu menemani emak dan abah. Tak pernah sekalipun engkau membantah mereka. Tak pernah sekalipun engkau membuat mereka susah atau kecewa apalagi sakit hati. Engkau selalu menghibur emak kala emak merasa sendiri dan bersedih. Dan yang paling terkenang oleh siapapun adalah kesabaranmu atas penyakit yang kau derita selama sepuluh bulan. Tak pernah sedikitpun engkau mengeluh atau meratapi cobaan yang kau terima.

“Daroji itu Hid, selalu menenangkan emak. Saat emak sedang ingin marah kepada abahmu, Daroji selalu mengingatkan emak untuk sabar, tidak marah, dan ikhlas. Itu ibadah. Begitu katanya. Dia paling bisa mengambil hati abahmu.”

“Daroji itu selalu membagi-bagi gajinya yang tidak seberapa itu Hid. Kadang dikasih ke emak, dikasih ke mbah bu, dikasih ke bude, dan banyak yang dihutang orang-orang.”

Dan masih banyak cerita lainnya. Saat mendengar cerita-cerita itu, aku sungguh iri. Memandang semua kepribadianmu itu seperti menengok puncak gunung dari dasar sumur. Tapi, semua cerita itu membuatku tenang saat itu. Aku merasa tenang karena emak dan abah berada dalam tempat dan pendamping yang tepat. Saat itu aku greneng-greneng dengan kakakmu kalau suatu hari kami akan menemui calonmu. Kami berdua akan mengajukan syarat kepada calonmu jika ingin terus menjadi pendampingmu, syarat itu adalah ketersediaannya dan kesabarannya ngramut emak dan abah. Sayang, semua itu tinggal angan yang tak akan pernah terjadi.

Engkau sakit. Sejak kecil memang engkau sering sakit. Tapi kali ini sakitmu berbeda. Beberapa kali kami di rantau diberi kabar akan keadaanmu. Beberapa kabar sempat membuatku pilu. Tapi aku tidak berdaya. Aku hamil tua saat itu. Tidak memungkinkan bagiku untuk menjengukmu dengan segera. Pun kakakmu. Tidak mungkin baginya meninggalkanku sendirian di rantau dalam keadaan seperti itu. Untuk itu, aku mohon maafkan aku. Maafkan kami yang baru bisa datang setelah sekian lama kau menanti kami. Aku tau, kau sangat merindukan kakak dan ponakan-ponakanmu. Dan jujur saja, aku tak bisa menahan air mataku saat melihatmu menangis dan memeluk kakakmu sesaat setelah kedatangan kami. Sekali lagi maafkan aku, Dar.

Engkau sakit. Aku mengerti keadaanmu. Aku pun ikhlas saat kakakmu menghabiskan waktunya merawatmu dan menitipkan aku dan ponakan-ponakanmu pada ibuku. Aku sama sekali tidak keberatan akan itu. Dan rupanya itu adalah waktu-waktu terakhir kebersamaan kalian. Sungguh, keikhlasanku itu berbuah ketenangan bagiku karena aku tidak menyesal bisa memberikan waktu suamiku untukmu di hari-hari terakhirmu.

Taukah kau Dar, dua puluh hari bersamamu di dua puluh hari terakhirmu itu penuh dengan rasa was-was. Tiap hari selalu terpikir tentang perkembangan kondisimu. Meskipun aku tidak selalu menemanimu, rasa was-was itu selalu ada. Saat aku berada di rumah ibuku –seminggu sebelum kepergianmu- aku selalu berharap kemajuan keadaanmu. Tapi rupanya Dia berkehendak lain. Abahku yang aku minta untuk mengunjungimu di malam-malam terakhirmu bercerita tentang kemunduran kesehatanmu. Aku sudah hampir putus asa mendoakanmu. Tapi tetap saja ada harapan untuk kesembuhanmu.

Sampai akhirnya mimpi itu datang. Beberapa jam sebelum kepergianmu aku bermimpi, kakakmu menangis dan mengajakku pulang kampung karena ingin mengantarmu. Dan tepat di hari Jumat pagi engkau bener-benar pulang, meninggalkan rasa sakitmu, menyisakan kelegaan emak dan abah karena cara pergimu yang sangat menenangkan.

Emak bercerita, semalam sebelum kau pergi, kau mengajak orang-orang yang menemanimu untuk berdzkir, bershalawat, membaca asmaul husna, dan kau sela dengan ocehan-ocehan khas. Sampai pagi sebelum kepergianmu, kau meminta emak untuk menuntunmu membaca surat Tabarak (al-Mulk) sampai dua kali. Dengan nada terbata-bata kau bisa mengikuti bacaan tersebut. Dan tak lama kemudian nafasmu berakhir. Tidak lama. Tidak susah. Semua tenang. Bahkan emak pun terlihat ikhlas. Hanya abah saja yang terlihat sedikit terguncang.

“Hid, Daroji minta maaf sama kamu. Katanya dia merasa bersalah karena Rodhi hanya mengurusnya selama di kampung dan tidak mengurusmu dan anak-anakmu.” Kata-kata emak membuat hatiku semakin sesak.

Bukan hanya hidupmu yang membuatku iri. Saat kau pergi pun kau masih menyisakan rasa iri. Kepergianmu diiringi rasa kehilangan yang mendalam. Ratusan orang datang melayat. Hamper satu kampung jamaah shalat Jum’at menyalati dan membacakan tahlil dan kemudian mengantarmu di pemakaman. Aku bergumam dalam hati saat itu, apakah nanti saat aku tiada pun bisa seperti keadaanmu? Ah, beruntungnya dirimu, Dar!

Sehari, dua hari, hingga beberapa hari setelah kepergianmu, beberapa orang dan teman-temanmu datang. Mereka tidak menagih utang. Sebaliknya, beberapa di antara para pelayat itu justru membayar hutangnya padamu. Emak menerima hampir dua juta rupiah dari orang-orang yang membayar hutang padamu. Ada beberapa barang seperti modem, power bank, baju, dan lain-lain yang juga kami terima dari beberapa temanmu. Semua orang menyaksikan kebaikanmu. Ya, tidak ada yang mengeluhkanmu, sebaliknya, semua mengatakan kalau kau suka berbagi, suka mengajak makan, suka memberi, suka mendengarkan, tidak suka marah, dan cenderung mengalah. Dan hampir semua sahabatmu berkesan seperti itu di halaman media sosialmu.

Ah, lagi-lagi kau membuatku iri. Akankah aku dikesankan seperti kesan atasmu saat aku mati kelak? Akankah aku meninggalkan kesan sebaik kesan yang kau tinggalkan?

Dan abah emak. Taukah kau Dar, mereka selalu memuji-mujimu di hadapan kakak-kakakmu. Saat kakakmu enggan menyanggupi permintaan emak, emak pun berandai-andai akan kehadiranmu. Saat kakakmu agak bawel soal kopi yang terlalu manis, abah langsung bercerita tentang perangaimu yang tidak pernah mencela apapun yang emak masak. Sekali saja tidak pernah. Ah, Dar, terlalu banyak kenangan yang kau tinggalkan untuk kami.

Seperti doa Farras, aku pun berdoa, semoga Allah memelukmu dengan limpahan kasih sayang-Nya. Semoga saja kami bisa meniru perangaimu, bisa sabar menjaga emak dan abah seprtimu, dan kelak bisa meninggalkan dunia ini setenang dirimu. Amiin.

Bandar Lampung, 10 Agustus 2015

Advertisements

2 thoughts on “Mengenang 40 Hari Kepergianmu

  1. sabar ihklaskan kepergianya biar tenang…. buka lembaran bru lg biar bisa melupakan .. lakukan apa yg ada d depanmu sekarang. dan jgn lupa selalu mendoakan…. mf ya klo lancang…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s