Keluarga

Ketika Takdir Telah Dipilih; Boyong ke Kampung

SAM_0223
Mbah kakung bersama tiga cucunya (sekarang cucunya sudah lima)

Seperti yang saya tulis sebelumnya, meninggalnya adik ipar sedikit banyak membawa perubahan dalam hidup kami. Bahkan bisa saya katakan bahwa perubahan itu cukup besar. Perubahan itu menyangkut masa depan kami, takdir kami, dan mungkin juga nasib kami.

Suami adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak ipar menikah dengan orang Lampung keturunan Jawa. Sementara adik ipar meninggal. Jadilah mertua sekarang hanya tinggal berdua saja di kampung. Maka sesaat setelah pemakaman, saya bertanya kepada suami bagaimana kehidupan kami selanjutnya.

Maka keputusan pun kami buat. Kami akan pulang kampung, bukan untuk sambang, tapi untuk boyongan dan menetap di kampung. Kami ingin menemani orang tua yang kini hanya tinggal berdua saja. Keputusan ini sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Beberapa hari sebelum kepulangan kami ke kampung dulu kami telah membiacarakan kemungkinan ini. Kami menyadari penyakit adik yang parah pastinya membutuhkan banyak biaya dan tenaga dalam pemulihannya. Saat itu saya beranikan bertanya pada suami, bagaimana seandainya abah meminta kami untuk membantu merawat adik. Ternyata suami juga punya pikiran yang sama. Maka saat itu kami putuskan untuk kembali ke kampung bila orang tua menginginkan itu. Setibanya kami di Lamongan, kami sempat berkeliling kota mencari info perumahan dengan asumsi kami akan kembali ke kampung dalam tiga atau empat tahun lagi.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Adik meninggal begitu cepat, dua puluh hari setelah kami ikut merawatnya. Maka malam setelah pengajian kami berunding dan akhirnya kami ambil keputusan untuk menetap di kampung suatu hari nanti, dua atau tiga tahun lagi.

Suasana berduka masih menyelimuti kami semua waktu itu. Saya bahkan melihat abah begitu terpukul seolah tidak punya harapan masa depan lagi. Sampai akhirnya emak bercerita kalau abah beberapa kali risau dengan masa depan mereka. “Gimana hidup kita selanjutnya?” begitulah kira-kira. Rupanya kepergian adik membawa pengaruh cukup besar bagi abah. Abah tentu saja tidak sanggup meminta kami secara langsung untuk pulang karena beliau menganggap kami sudha mapan hidup di Lampung. Maka saat itulah saya sampaikan keputusan kami untuk menetap di kampung suatu hari nanti.

Anda tau bagaimana reaksi mereka? Saya melihat perubahan yang cukup besar, setidaknya itu yang bisa saya tangkap. Abah seolah kembali bersemangat dan kembali menemukan harapan. Saya juga kembali melihat senyum yang beberapa hari sempat hilang. Emak pun demikian. Oh, saya sendiri tidak menyangka bahwa keputusan kami untuk menetap menemani hari-hari tua mereka begitu besar pengaruhnya untuk mereka. Anak, ya, sedewasa apapun mereka, mereka tetaplah harapan.

Beberapa orang memberi tanggapan atas keputusan kami. Di antara mereka ada yang terharu dan bahkan menangis dengan keputusan ini. Mereka menganggap berlebihan atas keputusan kami. Di mata mereka kami dianggap berkorban untuk orang tua kami dengan meninggalkan semua yang kami miliki di Lampung untuk kembali ke kampung. Padahal yang kami putuskan sekedar melakukan apa yang kami bisa dilakukan.

Ada pula yang menyarankan kami untuk kembali berpikir atas keputusan besar ini. Bukan berarti mereka melarang kami untuk berbakti, tapi lebih pada rasa kasih sayang yang besar pada kami. Bagaimana pun, kami sudah dianggap telah berhasil membangun pondasi keluarga secara mandiri di rantauan. Setidaknya kami telah mempunyai rumah sendiri di Lampung, meski rumah tipe 36 dengan program KPR, juga septak tanah, serta usaha yang bisa dibilang jalan meskipun kadang mengalami pasang-surut. Suami pun sudah mempunyai aktifitas tetap sebagai guru SMK. Sementara di kampung nanti semua belum bisa diprediksi. Namanya masa depan, pastinya ia adalah suatu misteri.

Nasehat mereka sempat membuat saya ragu. Bagaimanapun kekhawatiran akan masa depan yang belum jelas itu ada. Tapi saya ingat-ingat lagi wajah ceria abah dan emak. Saya juga ingat jawaban ibu saat saya tanya tentang keputusan kami. Ibu bilang kalau ibu cukup lega dengan keputusan kami karena dengan begitu ibu tidak lagi jauh dengan anak-cucunya. Abah saya juga bilang bahwa kemandirian kami di rantauan itu sudah cukup bagus, tapi keadaan telah berubah, dan berbakti serta membahagiakan orang tua adalah hal utama. Itulah alas an-alasan yang membuat hati semakin mantap dengan keputusan ini.

Lalu bagaimana kehidupan kami nanti? Tentu saja kami tidak tau pasti bagaimana nantinya keadaan kami. Yang bisa kami lakukan adalah berencana dan berusaha. Kami berencana buka usaha, suami juga sudah mencari link untuk melanjutkan mengajar. Saya pun berencana mengajar di kampus. Itu sederet rencana kami. Selanjutnya kami serahkan semua kepada Allah Sang Mahapengatur segala urusan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s