Keluarga

Tentang Kepindahan Kami

C360_2015-08-18-15-06-11-074.jpg

Tidak ada yang tau pasti seperti apa hari esok akan terjadi. Itu penggalan ayat yang dituliskan sahabat saya sebagai pengingat. Saya sendiri tidak pernah menyangka bahwa setelah menikah saya akan tinggal menetap di Lampung. Saya juga kembali terkejut dengan jalanNya yang membelokkan kami ke kampung halaman secepat ini. Saya pun menghadapi banyak pertanyaan, “Emang harus pulang ya?”

Iya. Itu jawaban saya. “Kenapa mertuamu tidak dibawa ke Lampung saja? Toh kedua anaknya sudah punya rumah di Lampung?” Tanyanya lagi. Pikiran seperti itu memang pernah terlintas di pikiran kami. Tapi setelah dipikir-pikir, kami kemudian menghapus ide itu dari kepala kami. Sedikit sekali oang tua yang bersedia meninggalkan rumah yang sekian lama ditinggalinya. Rumah itu bukan sekedar tempat tinggal persegi empat dengan atap limas di atasnya. Ada kenangan yang terajut di dalamnya. Ada perjuangan dalam membangun, merawat, serta mempertahankannya. Ada cinta untuk mengikat penghuninya. Ada kehidupan sosial yang meliputinya. Itu sudah dibina berpuluh-puluh tahun lamanya. Kami tidak tega bila memaksa mereka untuk meninggalkan itu semua. Pastinya mereka ingin menghabiskan sisa umur mereka di sana. Maka yang bisa kami lakukan untuk mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka, menemani mereka dengan harapan mereka bisa kembali tersenyum setelah kedukaan melanda.

Lalu bagaimana dengan rumah kami sendiri? Kami akan meninggalkannya, dengan segala kenangan tentunya. Anggap saja itu bentuk pengorbanan kecil kami untuk mereka. Hanya pengorbanan kecil yang sangat tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perjuangkan untuk kami.

Beberapa kali suami berbisik, “Bagaimana nanti kalau hidup kita tidak seperti yang kita harapkan?” Saya menjawab, “Aku akan tetap di sisimu.” Huahaha. –bercanda tapi serius-. Kami kemudian mencatat apa saja kekhawatiran kami sebenarnya. Harta, kebebasan, lingkungan, fasilitas, dan seterusnya. Satu-persatu kami uraikan hal-hal tersebut.

Uang atau harta. Kami sadari, profesi sebagai wiraswasta yang dijalani suami mengantarkan kami pada rasa cukup atas kehidupan kami. Ya, kami merasa cukup, meskipun pernah sesekali kekurangan. Setidaknya profesi tersebut telah mengantarkan saya menjadi magister pendidikan Islam dan memberi rumah sebagai perlindungan. Tapi bukan berarti kan usaha yang kami rencanakan di kampung itu nanti lebih buruk nasibnya? Toh kami belum mencobanya. Toh (lagi) kehidupan di kampung tidak buruk-buruk amat keadaannya.

Kebebasan. Ya, saat ini kami memang bebas berbuat apa saja di rumah kami sendiri. Saya sendiri bebas mengerjakan pekerjaan rumah sesuka-suka hati. Kalau capek ya berhenti. Begitu pun dengan pendidikan anak. Kami merasa sangat leluasa menerapkan prinsip-prinsip yang kami sepakat atas kebenarannya. Nah, mungkin hal ini nanti akan sedikit banyak berubah ketika ada kakek-nenek yang pastinya ikut terlibat di dalamnya. Kembali lagi saya ingat, orang tua kami adalah orang baik. Kami percaya, kebaikan mereka akan mampu berdamai dengan kebiasaan baik kami. Dan sebaliknya, kebaikan mereka akan menghapus kebiasaan buruk kami. Dan bila ada benturan, mudah-mudahan kami bisa mendamaikannya.

Akhirnya satu-persatu kekhawatiran kami terurai. Dan ternyata semua itu tidak sebanding dengan rasa ketenangan kami saat kami dekat dengan orang tua. Saya sudah pernah merasakan bagaimana paniknya saya yang berada jauh di rantauan sementara abah saya terbujur tidak sadar di ruang ICU. Rasanya ingin sekali melipat ruang dan waktu untuk segera menengoknya. Saya juga pernah merasakan tidak enaknya menunggu kedatangan orang tua yang datang dari kampung karena khawatir mereka kelelahan di jalan disebabkan jauhnya jarak tempuh. Saya pun pernah merasakan perihnya hati karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga saat hari raya karena ketiadaan biaya untuk ongkos. Yang terakhir yang kami alami adalah ketidak berdayaan kami untuk segera pulang saat adik sakit karena pada saat yang bersamaan proses persalinan saya yang semakin dekat.

Kami tidak sanggup untuk membayangkan orang tua kami yang sudah sepuh harus tetap berlelah-lelahan bekerja karena tidak ada yang bisa diminta bantuan. Kami tidak bisa membayangkan sosok-sosok yang sewaktu kecil menggendong, menyuapi, menuntun kami dengan rasa sayang itu harus bersusah-susah menyiapkan makanan mereka sendiri di hari tua mereka. Kami tidak mampu bila harus membayangkan sosok-sosok bersahaja itu meninggalkan dunia tanpa iringan kalimat syahadat dari kami.

Meskipun nantinya kami tidak sepenuhnya melenyapkan beban hidup mereka, setidaknya kami ada di sisi mereka ketika mereka membutuhkan. Meskipun nantinya kami tidak mampu memberikan limpahan materi, setidaknya kami bisa menghadiahkan mereka senyuman dari anak-anak kami, cucu-cucu mereka. Kami hanya ingin menemani mereka dan berharap bisa membahagiakan mereka.

Hanya kepada Allah Sang Mahapengatur kami berserah.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Kepindahan Kami

  1. Enak memang jika dekat orangtua. Sy juga jauh2 dari orangtua stlh dinas pindah dari kampung halaman. Balikpapan 10 tahun, Palembang 6 tahun, Cimahi 3 tahun, Jakarta 7 tahun. Setelah pensiun baru bisa dekat Emak lg.
    Semoga sehat, sejahtera, dan bahagia Jeng.
    Salam hangat dari Jombang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s