Pendidikan Anak

Tentang Membaca; Peran Keluarga

935709_10151647712244374_2120232411_n

Sejatinya, keluargalah tempat dan pihak yang paling penting dalam penciptaan budaya cinta baca. Bisa dipastikan, orang-orang yang rajin membaca (dan biasanya mereka adalah orang-orang sukses) lahir dari keluarga yang cinta baca. Mereka menciptakan atmosfir yang mengarahkan anggota keluarganya pada buku. Keluarga macam ini akan menjadikan buku sebagai hadiah utama setelah pendidikan agama dan cinta kasih.

Apakah keluarga ini harus terpelajar (maksudnya berasal dari latar belakang sekolah formal yang tinggi)? Jawabannya, tidak selalu. Anda bisa membaca kisah dua kakak-beradik yang tersohor karena tulisan-tulisan mereka, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Orang tua mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi. Tapi ibu mereka mempunyai kecintaan yang tinggi pada buku dan menulirkan kecintaannya pada kedua putrinya. Jadi bila Anda beralasan tidak cinta membaca karena Anda tidak bersekolah tinggi, tentu saja Anda hanya sedang mencari-cari alasan yang kekanak-kanakan.

Yang perlu dilakukan keluarga (orang tua) untuk menciptakan atmosfir cinta baca adalah mereka terlebih dahulu harus membuat diri mereka cinta buku terlebih dahulu. Bagi yang tidak terbiasa membaca, hal ini tentu saja merepotkan dan sulit dilakukan. Saya ingat candaan teman saya yang mengatakan bahwa obat tidur paling mujarab adalah buku, jadi kalau Anda susah tidur, bacalah buku niscaya Anda akan segera terlelap dalam hitungan halaman buku. Karena itulah diperlukan pembiasaan atau bahkan pemaksaan untuk membaca. Bagi orang tua yang ingin anaknya cinta membaca, jalan inilah kunci utama untuk mencapainya. Mulailah membaca buku yang sederhana, buku yang disukai, atau buku tentang hobi. Tips dari saya, saat saya sedang malas membaca, saya akan mengambil novel atau kumpulan cerpen. Membaca buku genre ini terasa lebih ringan tentunya dibanding membaca buku filsafat (kecuali novel filsafat, lho). Saat rasa membaca sudah nyaman, maka bacaan bisa dilanjutkan dengan bacaan level selanjutnya.

Langkah selanjutnya yaitu menyediakan buku di setiap sudut ruangan. Ini bisa dipraktikkan bila suatu keluarga sudah menjadikan buku sebagai barang istimewa dibanding barang-barang dan perabot lainnya. Buku yang dimaksud tidak harus buku mahal dan baru. Untuk anak saya Farras (3,5 tahun), saya banyak membeli buku-buku seken yang masih layak baca dan bagus isinya. Harganya relatif murah, sekitar 7.000-20.000 perbuku. Dibanding sehelai baju yang harganya bisa 200.000an, tentu saja harga buku-buku itu jauh lebih murah, bukan? Untuk saya pribadi, saya menambahkan syarat penyediaan buku untuk Farras, yaitu, kami mengusahakan sekuat tenaga bahwa buku-buku yang tersedia adalah buku-buku berkategori living book, buku-buku hidup, buku-buku yang abadi sepanjang masa, buku-buku yang menginspirasi dan menggugah, dan bila disertai dengan ilustrasi, maka ilustrasinya pun terasa hidup. Kriteria ini saya dapatkan dari metode Charlotte Mason yang mensyaratkan buku-buku berkategori living book sebagai rujukannya. Kriteria ini juga menolong saya dari gelap mata saat berkunjung ke toko buku atau melihat promo besar-bsaran di toko buku online yang menggiurkan. Karena kalau tidak memakai kriteria ini, bisa-bisa dompet jebol karena tidak bisa menahan nafsu melihat buku.

Tapi menyediakan buku saja ternyata tidak cukup bila ia hanya berjajar rapi tanpa sentuhan sang empunya. Anak juga harus diajak, dibiasakan, dicontohkan, dan ditemani berinteraksi dengan buku. Untuk ini, pengalaman saya terhadap si sulung bisa saya ceritakan. Pertama-tama saya bisarkan dia menyentuh buku-buku rujukan tesis saya (saat hamil dan melahirkan sampai Farras usia 1,5 tahun, saya menyelesaikan tesis). Saya biarkan dia membolak-balik buku-buku saya. Saat dia mulai bisa berjalan, saya membelikannya boardbook dan saya mulai lebih sering membacakan buku untuknya (harusnya sih lebih awal). Setelah itu berjalan alami saja. Saya ajak dia ke tokoh buku, saya ajak dia membaca buku-buku saya, dan tidak lupa membacakannya buku. Saat ini, saya sampai kewalahan mengikuti kegemarannya dibacakan buku.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menjadikan buku sebagai hadiah, hal utama, dan harta serta mainan paling berharga bagi anak. Kami selalu menanamkan bahwa buku itu istimewa. Kami mengusahakan saat membaca buku adalah saat paling menyenangkan dan menggembirakan. Alhamdulillah, rasa itu tertular kepada Farras. Saya melihat di usianya yang masih muda, ketertarikannya pada buku membuat saya takjub. Matanya begitu berbinar saat melihat buku. Hatinya begitu girang saat buku-buku pesanannya datang. Dan obat ngambek yang paling ampuh buat dia adalah dibacakan buku. Suatu sore saya melarang dia main di luar karena gerimis. Tentu saja dia kecewa karena beberapa temannya masih berada di luar. Saya kemudian menawarkannya untuk membaca buku. Seketika itu tangis langsung berhenti. Kebetulan tv menyala dan sedang ada Upin dan Ipin, yang merupakan kartun kesayangannya. Saya mengira dia lupa dengan buku dan memilih nonton tv. Tapi apa yang dia katakan, “matiin tv-nya ibu, ayo kita baca buku aja. Baca buku nggak boleh nonton tv.”

Memang hingga saat ini, di usianya 3,5 tahun Farras belum bisa membaca dan baru sekedar mengenal huruf. Bagi saya itu tidak penting. Yang terpenting bagi saya di saat ini adalah menumbuhkan kecintaanya pada bacaan dan buku. Soal kemampuan ingatan luar biasa yang dimilikinya hingga dia hafal isi dari tiap-tiap buku yang pernah dibacanya, itu adalah anugerah, bukan kami yang berjasa menumbuhkannya.

Kami percaya, cinta pada buku adalah pintu menuju pada cinta ilmu. Cinta ilmu adalah pintu menuju kebijaksanaan dan menutup pintu kebodohan dan kekonyolan. Dan itulah jalan utama menuju kebahagiaan yang sejati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s