Review

Tentang Membaca

12193688_10153784437694374_8570975751570788529_n.jpg

Beberapa waktu lalu, saya mendapat paket kiriman buku yang berjudul Iqra; Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang Lalu dari penulisnya. Beliau adalah Pak Satria Dharma, salah satu pendiri Ikatan Guru Indonesia (IGI). Saya sungguh tersanjung dengan kiriman buku ini karena menurut beliau buku tersebut diterbitkan terbatas dan hanya dibagi untuk para sahabat beliau saja.

Baiklah, saya akan mereview buku tersebut. Mungkin sekilas tidak ada yang istimewa dari judul buku itu. Tapi percayalah pada saya, buku itu telah banyak membuka kesadaran saya untuk berbagi. Kalau untuk pekerjaan ‘membaca,’ untuk saya pribadi, saya tidak mengkhawatirkannya, meski saya akui kalau kualitas bacaan saya mengalami penurunan akhir-akhir ini. Tapi kalau untuk menyebarkan virus membaca –yang merupakan pesan utama dari buku ini- saya merasa masih berada di titik nol. Saya belum melakukan apa-apa untuk menularkan pekerjaan yang mulia ini.

Pesan utama buku ini adalah penyebaran virus membaca seluas-luasnya. Kebiasaan membaca harus disebarkan, disiarkan, dikampanyekan, dan dicontohkan secara masif. Penyebaran ini harus dilakukan segera karena keadaan kita sedang kritis. Kita semua berada di titik darurat karena generasi kita sedang berada di garis nol buku. Apa itu garis nol buku? Itu berarti generasi kita sedang tidak membaca apa-apa selain buku teks pelajaran yang kaku dan kering. Anda tau apa yang dihasilkan dari bacaan buku yang kaku dan kering itu? Hanya jawaban soal ujian saja, tidak lebih. Lalu pantaskah kita berharap lebih dari hasil tersebut? Generasi yang berbudaya dan beradab, misalnya? Ah, itu terlalu mengada-ada rasanya.

Satu-satunya hal mendesak yang harus dilakukan dari tragedi nol buku (istilah Tragedi Nol Buku ini berasal dari budayawan Taufiq Ismail yang dikutip oleh penulis) adalah membaca. Ini bukan hal yang baru tentunya karena dalam Islam sendiri, perintah membaca adalah perintah pertama yang menjadi pilar agama. Bisa dikatakan juga bahwa dasar utama dari agama Islam adalah membaca, artinya Islam hanya bisa dipelajari dan dipahami dengan membaca. Namun karena saking mendasarnya perintah membaca seringkali umat Islam melupakannya dan melangkahinya. Padahal bila perintah membaca ini diabaikan, ajaran Islam hanya dilaksanakan dan dipraktekkan secara taqlid saja.

Lalu apa susahnya membaca? Toh membaca kan bisa dilakukan oleh siapa saja dan saat ini juga hampir semua masyarakat kita bisa membaca. Di sinilah ada satu pesan penting yang diberikan penulis, yaitu bahwa membaca dan menulis adalah sebuah ketrampilan yang untuk memperolehnya dibutuhkan latihan yang sistematis, intensif, dan terstruktur. Artinya, kemampuan membaca (yang baik) tidak secara otomatis dimiliki oleh orang yang bisa mengenal huruf, mengeja kata, dan mengucapkan kalimat. Artinya (lagi), membaca yang baik tidak cukup hanya sekedar bebas dari buta huruf. ‘Membaca’ yang diharapkan mampu menjadi solusi dari tragedi nol buku adalah sebuah usaha yang harus diupayakan terus-menerus oleh semua pihak dengan satu tujuan besar yaitu terciptanya budaya membaca.

Membutuhkan laman yang luas untuk menjelaskan manfaat dari budaya membaca. Singkatnya, sejarah telah mengajarkan bahwa kunci untuk mencapai besarnya suatu bangsa adalah dengan budaya membaca. (Anda bisa membaca sejarah abad keemasan Islam sebagai contoh terbaik dalam ilustrasi manfaat dan dahsyatnya budaya membaca bagi kegemilangan suatu bangsa). Untuk mencapai hal ini, semua pihak harus bergerak. Dalam hal ini, penulis tidak sekedar berteori tentang kampanye cinta baca. Di bagian akhir buku ini, penulis bercerita tentang perjalanan beliau secara nyata bergerak dalam mengupayakan pencapaian budaya baca di bangsa ini. Beliau banyak berkeliling sekolah untuk mencontohkan langkah-langkah nyata yang harus dilakukan untuk mencapai budaya membaca. Kenapa sekolah yang menjadi sasaran utama? Karena jamak kita ketahui bahwa di sekolahlah tempat yang paling terkondisikan untuk membaca. Kalau sebelumnya para siswa hanya sibuk membaca buku teks, maka setelah diadakan kampanye cinta baca dari beliau, bacaan siswa bertambah. Siswa diharapkan –bahkan diwajibkan- membaca buku non-pelajaran minimal 15 menit di sekolah.

Apakah itu cukup? Tentu saja tidak. Harus ada kemauan semua pihak untuk mewujudkan tercapainya budaya membaca. Sekolah harus menciptakan atmosfir yang sehat untuk menyiapkan budaya membaca ini. Pemerintah mempunyai tugas menyediakan buku-buku berkualitas bagus yang bisa diakses seluruh kalangan siswa, di samping pemahaman yang juga kuat tentang pentingnya penciptaan budaya membaca itu sendiri. Sedangkan masyarakat bisa juga berperan lebih luas dengan aktif berbagi bacaan, pendirian rumah baca, bahkan hanya sekedar berbagi rasa kenikmatan dalam membaca. Dan lapisan yang paling berperan penting dalam terciptanya budaya cinta baca adalah keluarga, dan baru pada tahap inilah saya bisa berperan dalam dunia literasi. Semoga kedepannya saya bisa melakukan hal yang lebih luas lagi.

Silahkan simak tulisan saya selanjutnya!

Advertisements

One thought on “Tentang Membaca

  1. Assalamualaikum ibu
    dengan terbatasnya buku pak satria dharma khusus tentang membaca ini, adakah pengertian/definisi yang membahas “membaca dalam arti luas seperti membaca alam, sekitar kita” agar lebih aware begitu ibu

    terima kasih atas sharing nya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s