Ide dan Campur-campur

Perihal Buku Bacaan

Beberapa waktu lalu ada sebuah fans page yang menyelenggarakan sebuah kuis literasi. Mekanisme lombanya adalah peserta meresensi satu buku setiap bulan dalam satu tahun. Tentu saja saya tertarik karena bagi saya itu hal yang menantang di samping juga akan membantu peningkatan bacaan saya yang mulai menurun. Tapi saya urung mengikuti lomba itu karena syarat berikutnya yang membuat saya berpikir ulang.

Syarat itu adalah buku-buku yang diresensi harus berasal dari penerbit-penerbit Sunni (saya juga tidak paham maksud dari penerbit Sunni itu seperti apa), dan Mizan termasuk penerbit yang dicoret. Ada beberapa peresensi cilik yang menulis resensi buku-buku Mizan yang kemudian diperingatkan untuk tidak meresensi buku-buku terbitan Mizan.

Tadinya saya bersemangat untuk mengikutinya. Saya bahkan sudah memilih 12 buku yang ingin saya resensi, dan hampir semuanya tentang filsafat Islam. Tapi setelah membaca syarat tersebut, saya pun mundur teratur. Lha, bagaimana lagi, hampir semua buku-buku filsafat Islam yang saya miliki diterbitkan oleh Mizan, je? Menurut saya ini suatu yang konyol, membatasi buku bacaan hanya karena berasal dari penerbit yang pemiliknya dianggap berbeda aliran itu adalah hal konyol.

Menurut saya, sang pemilik FP ini berkeinginan bahwa buku yang menjadi bacaan umat Islam adalah buku-buku dari penerbit yang satu aliran saja. Selain aliran itu dianggap tidak tepat dan tidak layak dibaca. Jadi buku bacaan harus dibatasi. Pertanyaannya, bagaimana ilmu bisa berkembang bila sumbernya saja dibatasi? Bagaimana mau belajar sains yang kebanyakan diterbitkan oleh penerbit-penerbit non-muslim? Tapi mau bagaimana lagi, begitulah kenyataannya. Kebencian terhadap suatu aliran (yang belum tentu benar prasangkanya) telah menjadikan sebagian kita menutup diri. Padahal Nabi SAW sendiri berpsan untuk mencari ilmu sampai ke Negeri China. China itu mananya Mekkah waktu itu?

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan? Yang pertama harus dilakukan adalah perkuat aqidah. Setelah itu bersikaplah terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Kalau kita mau membaca sejarah, hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuwan masa lampau yang membawa Islam pada masa kejayaannya. Para ilmuwan masa itu tidak menolak untuk belajar pada ilmuwan-ilmuwan non-muslim. Al-Farabi (w. 950) berguru logika pada Yohanna bin Haylan dan Bisyr Matta bin Yunus yang beragama Kristen dan mempunyai murid seorang Kristen bernama Yahya bin ‘Adi. Ibn Sina juga tidak merasa canggung berguru filsafat dan sains Yunani kepada ‘Abdullah Natili. Mereka pun tidak membatasi ilmu yang dipelajari pada ilmu-ilmu agama (syar’iyyah) saja. Berbagai karya-karya ilmiah filosofis kuno diterjemahkan dan dipelajari oleh mereka dengan penuh semangat dan haus akan ilmu pengetahuan. Dari penerjemahan ini kemudian ilmu pengetahuan dikembangkan, diuji coba, dikritisi, dikomentari, dan bahkan membuahkan penemuan-penemuan baru. Alih-alih membatasi diri pada suatu mazhab tertentu, mereka justru membuka diri (dengan bekal aqidah, tentunya) pada ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani, India, Persia, dan Mesir kuno. Dalam hal belajar ilmu-ilmu agama pun para ulama terdahulu saling berguru pada ulama lain kendati mereka tidak sepenuhnya sepaham dalam pandangan keagamaan. Imam Hanafi sendiri pernah belajar fiqih dan hadis pada Imam Ja’far al-Shadiq (Imam ke-6 mazhab Syiah Imamiyah). Imam Bukhari juga berguru pada Ismail bin Abban al-Adz al-Kufi yang dinilai sebagai penganut mazhab Syiah. Di Universitas al-Azhar sendiri diajarkan berbagai macam mazhab Syiah (Imamiyah, Zaidiyah), mazhab al-Zhahiri, selain mazhab populer Sunni.

Pertanyaannya kemudian, kalau mereka yang ilmunya lebih tinggi itu begitu toleran dalam mencari ilmu, mengapa kita yang ilmunya sangat sedikit ini membatasi diri dalam belajar? Bukankah itu akan semakin membuat kita terpuruk dan tertinggal?

Kalau memang suatu penerbit tertentu menerbitkan hal yang kita anggap bertentangan dengan keyakinan kita, yang harusnya kita lakukan adalah membacanya, mengkritisinya, mendebatnya, dengan bentuk yang sama. Buku dibalas dengan buku, bukan dengan pemboikotan. Itu yang diajarkan Imam al-Ghazali dan Ibn Rushd. Imam al-Ghazali menulis beberapa kerancuan para filosof dalam bukunya Tahafut al-Falasifah yang kemudian dikritisi oleh Ibn Rushd dalam bukunya Tahafut al-Tahafut, bukan dengan pembakaran atau pemboikotan.

Khusus untuk penerbit Mizan, hmmmm….. saya harus menghela nafas terlebih dahulu. Sebagian besar buku filsafat Islam yang saya miliki adalah terbitan Mizan, ya, karena cuma Mizan yang mempunyai konsen dalam penerbitan karya-karya filsafat. Saya membayangkan bila saya harus menyingikirkan buku-buku terbitan Mizan dari rak buku saya (ini pernah diperintahkan oleh salah satu kerabat saya, lho), berarti saya harus merelakan sebagian koleksi terbaik saya. Saya bahkan bisa katakan, peningkatan kapasitas intelektual saya banyak terbantu oleh buku-buku Mizan. Saya ingat sekali, buku yang membuat saya begitu mencintai kitab suci saya adalah Wawasan Al-Quran-nya Pak Quraish Shihab yang diterbitkan Mizan. Kemudian buku yang mengantarkan saya pada indahnya perpaduan antara filsafat, tasawuf, dan pendidikan adalah buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam M. Naquib al-Attas-nya Wan Mohd Nor Wan Daud yang diterjemahkan oleh Mizan. Belum lagi buku-buku yang membuat saya semakin beriman dan bangga terhadap keimanan saya adalah karya-karya seri filsafat dan tasawuf Islam, yang memang hanya diterbitkan oleh Mizan. Sungguh saya merasa ‘kaya’ sebagai seorang muslim dengan membaca buku-buku itu. Mata hati sebagai seorang muslim seakan dibukakan dan diarahkan pada cakrawala warisan yang sangat luas dan mempesona oleh buku-buku itu.

Jadi apakah semua buku harus dibaca mentah-mentah? Tentu saja tidak. Bagaimanapun usia kita terbatas sementara buku yang ada bias dikatakan tidak terbatas. Yang harus kita lakukan adalah memilah dan milih buku secara bijak. Jangan sampai kita terjebak pada argumentum ad hominem yang menyesatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s