pernikahan

Menjadi Ibu

SAM_0056

 

Dulu saya berpikir menjadi seorang ibu itu alami. Setelah menikah, sebagian perempuan akan mempuyai anak. Mereka merawatnya, membesarkannya, mendidiknya, mengasuhnya, dan anak-anak akan tumbuh menjadi dewasa. Saya sendiri tidak banyak mengingat masa-masa kecil saya selain beberapa peristiwa. Maka saya pun tidak mengingat masa-masa satu-dua tahun usia saya dan apa yang ibu lakukan dan rasakan saat itu.

Pertama kali si sulung Farras hadir di antara kami tentu saja kami merasa kaget. Kami yang hidup jauh dari keluarga besar harus mengurus si bayi merah itu sendiri. Saya sampai merasa stres menghadapi si bayi merah. Antara senang, sedih, bingung, jengkel, dan lebih cenderung ke perasaan negatif lainnya. Mungkin itu yang dinamakan baby blues.

Saya merasa menjadi ibu itu merubah segalanya. Saya seperti tidak memiliki diri ini sendiri karena ada makhluk mungil di luar sana yang mengontrol kehidupan saya. Saya harus makan ini, dilarang makan itu, tidak boleh tidur pulas, harus segera beranjak ketika dia menangis, harus menangis ketika dia sakit, harus panik ketika dia merintih, dan lainnya. Ya, saya seperti berubah menjadi manusia lain yang sama sekali berbeda. Saya tidak bisa lagi berbuat sesuka hati. Pergi jalan-jalan sendiri misalnya, atau belanja sesuka hati. Itu hanya soal fisik yang nampak mata.

Saat mereka tumbuh besar sedikit dan bila kebetulan mempunyai anak-anak yang super lengket maka siap-siaplah untuk benar-benar menghilangkan ‘diri sendiri,’ yang ada adalah paket, ibu dan anak. Di mana pun ada ibu, maka di situ akan ada si bayi. Si ibu baru bisa berpisah dari si bayi ketika si bayi itu sedang tidur atau dijaga anggota keluarga lain. Tapi seringkali itu tidak berlangsung lama karena si anak akan segera mengingat ibunya. Maka dalam kesempatan itu biasanya ibu akan mengerjakan pekerjaan yang bisa harus dikerjakan tanpa gangguan siapapun dengan gedubrakan dan seperti dikejar-kejar maling. Maka jangan heran bila melihat pemandangan tidak biasa dari perilaku seorang ibu, makan sambil berdiri dan gendong, memasak sambil gendong, nyapu dan ngepel sambil gendong, nyuci sambil gendong, bahkan pergi ke kamar mandi pun dengan menggendong. Saya bahkan pernah sholat sambil gendong si bungsu yang benar-benar tidak bisa lepas dari saya.

Eh, itu cerita saya ding, dan tidak semua ibu mengalaminya.

Si bayi pun tumbuh semakin besar dan mulai bisa berbicara. Maka si ibu harus menjadi pendengar terbaik karena pada ibulah kepercayaan pertama sang anak ditumpukan. Menjadi pendengar bukanlah hal yang rumit sebenarnya, tapi kalau kebetulan si balita itu benar-benar cerewet dan kritis, maka siapkanlah amunisi seribu jawaban untuk tiap-tiap pertanyaannya.

Tidak cukup di situ, ibu harus tumbuh bersama si anak. Maksudnya kalau si ibu menginginkan anak menjadi pribadi yang baik, maka itu berjalan beriringan dengan pertumbuhan pribadi si ibu. Ketika si ibu menginginkan si anak menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, disiplin, bertanggung jawab, itu akan mental begitu saja bila si ibu mempunyai pribadi sebaliknya. Misalnya, si ibu ngotot mengajarkan anak untuk berhemat dan rajin menabung, itu tidak akan mampu diterima anak bila si ibu tiap bulan membeli baju baru.

Di poin terakhir inilah tugas terberat si ibu. Seperti kata pepatah bahwa ibu adalah madrasah pertama, maka sebaik itulah sang anak akan mencontoh apa saja yang dilakukan si ibu (dan bapak juga tentunya). Mungkin mereka tidak ingat masa tahun-tahun pertama mereka, tapi bukan berarti hal itu tidak penting. Sebaliknya, masa-masa awal ini adalah pembentukan pondasi yang kuat. Ia ibarat gunung es di tengah lautan, tidak terlihat dasarnya dan hanya tampak puncaknya saja yang kecil, tapi ia sangat kokoh. Bahkan kapal pesiar sekokoh Titanic saja tenggelam dan karam karenanya.

Selamat hari ibu untuk semua ibu-ibu hebat di luar sana!

Advertisements

One thought on “Menjadi Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s