Keluarga

Menjadi Ibu (Bag. 2)

11889421_10153631704979374_1984569145939738223_n

Lanjutan dari tulisan sebelumnya.

Lalu, apakah saya menyesal mempunyai anak? Mengeluh sih pernah. Tapi untuk menyesal telah menjadi ibu dari dua jagoan cerdas sama sekali tidak terlintas di pikiran ini. Sekedar mengeluh karena lelah dan kehabisan tenaga menghadapi mereka adalah manusiawi. Biasanya saat saya lelah, saya akan mengunci di kamar, tidur sepuasnya (tidak bisa lama juga sih), dan anak-anak diambil alih oleh si abah. Setelah saya mulai tenang, saya menemui mereka dan memeluk mereka.

Nah, untuk menyesal, seperti yang saya tulis sebelumnya, saya tidak pernah berpikir untuk menyesali takdir saya sebagai ibu anak-anak luar biasa itu. Bagaimana saya menyesal dianugerahi dua anak cerdas, sehat, aktif, dan selalu membuat kami ceria?

Saya mau bercerita sedikit tentang mereka, ya, hanya sedikit karena kisah mereka begitu banyak sebanyak hari-hari yang saya lalui, sebanyak jam-jam yang saya lewati, sebanyak menit-menit yang saya tapaki, sebanyak detik-detik yang saya jalani.

Awalnya keceriaan itu muncul dari satu makhluk cerdas nan kritis dengan segala celotehnya. Maka setelah adiknya lahir, keceriaan itu berlipat. Kalau si kakak selalu memberikan keceriaan melalui celotehnya, maka si adik memberikannya melalui tingkah polahnya. Si kakak selalu memberikan pertanyaan, pernyataan, protes, juga daya kritis yang sering membuat kami kewalahan. Sementara si adik menyita seluruh tenaga kami di pergerakannya yang tiada henti.

“Bu, emangnya ikan bisa bicara? Kok itu ikan-ikan di tv bisa bicara?”

“Bu, emangnya beras bisa ngomong? Kata ibu beras bisa nangis. Mana mulutnya? Mana matanya yang keluar airnya?”

“Bah, napa omnya jalan terus, kan lampunya merah. Lampu merah kan berhenti?”

“Bu, nggak boleh ya melempar kucing pake batu? Besok kalau mau melemparnya pake ayam aja.” (ya abahmu nggak jadi dagang, Nak).

Dan masih banyak lagi celotehnya.

Sementara si adik, tingkah polahnya semakin membuat kami bahagia. Saat dia mulai memanjat cendela, bermain mobil-mobilan, mencakar mulut saya monyongin dia, loncatannya saat mendengar suara motor abahnya, membantah saat diajak ngobrol kakaknya dengan teriakan khasnya, “haaaaa.”

12208455_10153802144874374_8866347779114158922_n.jpg

Dan paduan mereka begitu indah. Kakak yang penyayang dan adik yang berlaku manja pada kakaknya. Kakak yang kalem dan adik yang agresif. Kakak yang banyak bicara dan adik yang banyak tingkah. Kakak yang nempel pada ibu dan adik yang nempel pada abah. Bahkan pertengkaran mereka pun terasa begitu indah dipandang.

Ya, merekalah hidup kami. Merekalah harapan kami. Merekalah masa depan kami. Kalau orang bilang anak adalah “sangu” akhirat karena doa-doa mereka, saya tidak berpikiran ke sana karena itu adalah wilayah Sang Pengatur hidup. Kami hanya berusaha semaksimal mungkin berbuat yang terbaik sebagai orang tua, menyayangi mereka, mendidik mereka, membesarkan mereka, mencintai mereka, berdoa, berdoa untuk saya, untuk kebaikan mereka, setelah itu sepenuhnya kami serahkan pada-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s