Pendidikan Anak

Membesarkan Anak di Tengah Kenyamanan

12299124_10204354672540576_2533816671662218637_n.jpg

Di waktu luang dan anak-anak sibuk dengan mainannya, atau saat mereka tidur dengan pulasnya, biasanya saya dan suami bercerita banyak hal, tentang masa kecil kami, misalnya. Meski tumbuh bersama, rupanya banyak hal yang tidak saling kami ketahui. Misalnya, suami yang tidak suka dengan pisang dan labu itu ternyata pengalaman masa kecil yang selalu diberi dua macam makanan tersebut karena keterbatasan emak-abah untuk memberikan jajanan lainnya. Atau cerita saya kepadanya tentang ‘kepelitan’ ibu yang membagi-bagi satu ekor ikan bandeng dengan irisan yang kecil-kecil agar semua anak-anaknya kebagian.

Ya, bisa dikatakan kami tumbuh dalam keterbatasan, meski saya juga bisa mengatakan kami tidak berada di garis kemiskinan. Cukup atau dicukup-cukupkan, begitulah mudahnya gambaran masa kecil kami. Kami, saya dan suami berada dalam keadaan yang serupa, karena ibu dan emak masih sepupu, meski keadaan saya mungkin lebih baik daripada suami. Saya masih bisa langsung kuliah setelah kelulusan sekolah Aliyah, sementara suami harus menunggu dua tahun untuk mengumpulkan biaya kuliahnya. Saya baru bekerja dan mencari penghasilan sendiri saat kuliah semester 6, sementara suami sudah terbiasa bekerja sejak SMP atau bahkan sejak SD.

Dalam perjalanan hidup kami yang singkat, bisa dikatakan banyak lika-liku perjuangan yang kami lalui. Banyak kesulitan yang telah kami lewati. Karena itu, bisa dikatakan kami sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Itu pula salah satu alasan suami memilih saya. Curcol sedikit. Hihihi.

Memiliki ketangguhan dalam menghadapi kehidupan bukanlah suatu hal yang mudah didapat. Menancapkan prinsip dalam hati bahwa hidup adalah sebuah perjuangan adalah suatu tekad yang kuat. Dan keadaan keluarga sedikit banyak telah mengkodisikan kami untuk melewati semuanya. Artinya, pribadi tangguh yang kami miliki ini sebenarnya adalah suatu paksaan, mau tidak mau kami harus memilihnya hingga kami mencapai cita-cita kami. Oh, tapi kami sebenarnya bisa memilih sih. Kami bisa saja memilih untuk menyerah waktu itu, tapi itu tidak kami pilih dan kami memilih untuk terus berjuang.

Setelah menikah kami bersyukur dengan keadaan kami. Kami merasa perjalanan lima tahun kami ceria (dan semoga begini seterusnya). Bukan berarti kami tidak mempunyai masalah, tapi masalah yang kami hadapi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan masalah yang dihadapi orang tua kami dahulu, saat kami sama-sama masih kecil. Sebulan setelah menikah kami langsung tinggal di Lampung, di sebuah rumah kontrakan yang cukup nyaman untuk ukuran saya. Tiga bulan setelah itu kami mulai mengangsur dan membangun rumah melalui KPR dan di ulang tahun pertama pernikahan, kami telah menempati rumah sederhana ini. Anak pertama kami lahir di tahun kedua. Saya pun bisa menyelesaikan kuliah S2 saya di tahun ketiga. Dan di pembukaan tahun kelima, anak kedua kami lahir.

Dibandingkan dengan masa kecil kami yang sempat terekam memori (artinya kami sudah berusia sekolah yang berarti usia kami lebih besar dari usia anak-anak kami saat ini), keadaan kami dan anak-anak jauh lebih baik. Bukan untuk sombong-sombongan lho ya, tapi apa yang saya tuliskan di atas itu sebagai penyebut nikmatNya. Apalagi dengan mengingat masa kecil kami, sungguh apa yang kami rasakan saat ini adalah suatu anugerah yang patut kami syukuri. Meskipun bukan berupa kekayaan melimpah, tapi keterbatasan pada masa lalu telah mengajarkan kami untuk lebih mudah bersyukur dan tidak mudah mengeluh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Masa lalu juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak melulu berurusan dengan materi atau kekayaan. Sederhana saja, hingga saat ini saya merasa sangat dicintai orang tua saya karena perhatian mereka yang begitu mendalam pada pendidikan saya.

Nah, tantangan lebih berat yang kami hadapi saat ini adalah membesarkan anak di tengah kenyamanan kami. Kalau kami bisa dikatakan tangguh karena terkondisikan oleh keadaan keluarga, bagaimana anak-anak kami bisa tangguh dengan kondisi yang berbeda?

Inilah pekerjaan berat yang selalu saya dan suami pikirkan. Pertama-tama kami membuang jauh-jauh ungkapan yang sering dilontarkan banyak orang, “saya dulu menderita, kini saya bekerja keras agar anak-anak saya tidak merasakan penderitaan seperti saya dan mereka bisa hidup lebih baik dari saya.” Yang harus saya tanamkan pada anak adalah bahwa hidup adalah perjuangan. Untuk mendapatkan sesuatu harus ada usaha. Orang tua mungkin bisa mencukupi semuanya, tapi bukan berarti semua bisa dengan mudah didapatkan. Karena tidak selamanya hidup anak-anak itu selalu ditemani orang tuanya.

Kedua adalah tentang pendidikan finansial. Ada referensi bagus (dan bisa dimodifikasi sesuai dengan kondisi keluarga) yang saya kutip dari terjemahan bu guru kece Irma Nugraha,

12342556_10206619918151364_1800504771265882720_n.jpg

5-6th:
Mengerti konsep uang.
Mengerti bahwa uang bisa membeli barang dan jasa.
👉Ortu:
Bantu anak mengenal bentuk dan nominal uang (misalnya dengan permainan sortir atau main jual2an).
Ajak anak belanja.
Biarkan anak membayar belanjaan2 kecil.
👉Hati2:
Rentang konsentrasi anak masih pendek, aktifitasnya jangan lama2 yah.

👉7-9th:
Mulai punya celengan.
Sudah diberi kebebasan menentukan penggunaan uang pribadi.
Punya tujuan jangka pendek penggunaan uangnya.
👉Ortu:
Belikan anak celengan.
Buka rekening khusus untuk uang2 besar (hadiah ultah, hadiah lebaran dll).
Kasih uang saku mingguan.
👉Hati2:
Kalau uang saku habis dipertengahan, jangan ditambah, jangan dibelikan barang yang dia inginkan, dan jangan perbolehkan anak meminjam uang saku minggu depan.

👉10-12th:
Berbelanja sendiri.
Belajar nilai uang.
Punya tujuan jangka menengah dalam penggunaan uang pribadinya.
👉Ortu:
Membantu anak membuka rekening pribadi atas namanya.
Membayar anak untuk pekerjaan tertentu (magang pada ortu).
Tidak lagi membelikan barang2 keinginan anak.
👉Hati2:
Kadang anak meminjam uang dari teman. Tekankan pentingnya pengembalikan utang.

👉13-15th:
Punya anggaran pribadi.
Belajar tentang kartu kredit dan kartu debit (plus minusnya).
👉Ortu:
Ajarkan anak mengenali pos2 pengeluaran yang dibutuhkan dan cara membuat anggaran.
Biarkan anak menggunakan kartu debit pribadinya di bawah pengawasan ortu
👉Hati2:
Ingatkan anak agar menjaga informasi keuangan pribadi.

👉16-18th:
Belajar tentang investasi, pinjaman, pajak, dan asuransi.
Bekerja part time (magang di luar).
Mengerti tentang anggaran rumah tangga.
👉Ortu:
Mengajarkan anak tentang investasi, pinjaman, pajak, dan asuransi agar anak siap masuk ke fase mandiri.
Bekerja part time akan mengajarkan anak mengendalikan ego dan menghargai kerja keras.
Libatkan anak dalam keputusan2 terkait anggaran rumah tangga.

Ketiga, pembiasaan karakter mandiri, tangguh, tidak manja, hemat, sederhana, dan tidak konsumtif. Ini tidak akan efektif kalau pola hidup keluarga berlawanan dengan karakter-karakter tersebut. Jadi ini adalah PR yang tak kalah besarnya dengan dua poin di atas.

Terakhir, selalu menanamkan nilai pada diri sendiri dan keluarga bahwa kehidupan dunia bukan segala-galanya. Dunia hanya sementara. Nama tenar hanya fatamorgana. Saya biasanya pake cara ini untuk meredam ambisi pada sesuatu, “kalau sudah begitu/mempunyai barang itu/mendapatkan hal itu lho terus kenapa?” Kalau jawabannya itu rasional maka saya akan maju, tapi kalau jawabannya itu berujung pada hal-hal yang tidak rasional, saya akan berhenti memikirkannya. Contohnya, saat saya menginginkan sesuatu, aka pertanyaan itu pun saya ajukan kepada diri saya. Kalau jawabannya perabot itu bisa meringankan pekerjaan saya, saya akan menyisihkan sebagian uang belanja untuk membelinya. Tapi kalau jawabannya perabot itu untuk gaya-gayaan, agar rumah terlihat mewah, atau sbagainya, maka saya akan berhenti memikirkannya.

Semoga saja niat dan usaha kami dalam hal ini dimudahkan. Amiiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s