Cerita Ringan

“Abahku Kerjanya Jualan”

images.jpg

Begitu jawaban Farras kalau ditanya  apa pekerjaan abahnya. Suami memang berprofesi sebagai pedagang pecel lele. Saat ini kami memiliki satu warung setelah sebelumnya sempat memiliki dua lokasi. Kami menjual satu warung karena tidak lama lagi kami pindah ke Jawa.

Suami sudah mulai menekuni usaha ini sejak lulus aliyah, tahun 2003. Tahun pertama dia mulai ikut bekerja membantu paman yang sudah terlebih dahulu mempunyai warung pecel lele. Ketika modal untuk membuka usaha sudah cukup, tahun berikutnya dia membuka warung pecel lele juga bersama kakaknya. Begitulah, sejak saat itu dia menjalankan usaha bersama kakaknya dan tahun 2009, beberapa bulan sebelum lulus kuliah dia memegang sendiri usaha tersebut. Usaha itulah yang menjadi andalan dan modal melamar saya, selain cinta dan kesungguhan tentunya.

Sebenarnya, suami pernah mencoba peruntungan lain. Sebulan setelah lulus kuliah dia sempat diterima bekerja di sebuah bank, entah sebagai apa saya lupa, tapi tidak bertahan lama. Tidak cocok katanya. “Aku malas kalau diperintah-perintah ,” begitu alasannya. Padahal saat itu berita tentang diterimanya dia di bank sudah tersebar di kampung. Saya yang saat itu masih di Jakarta saja dengar berita itu dari kampung. Tapi apa boleh dikata, dia masih nyaman dengan profesi utamanya, pedagang pecel lele.

Tahun 2010 kami menikah. Awalnya saya kaget dengan profesi ini karena jauh dengan dunia saya, mengajar. Saya harus menemaninya pergi ke pasar pagi-pagi, kemudian menemaninya memasak, dan kalau sedang liburan di Lampung saya juga menemaninya berdagang di warung. Terkadang sampai larut malam. Tapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa, apalagi dengan hasilnya, saya jadi sangat terbiasa. Hehehe.

Bisa dikatakan kami hidup dari usaha ini. Bisa saya katakan juga saya lulus s2 dari usaha yang dijalankan suami ini. Kami memiliki rumah (meski masih nyicil) dan sepetak tanah (yang akhirnya juga kami jual) juga dari sini, meski datangnya rizki kepada kami tidak hanya dari jalan lain. Saya pernah mendapatkan hadiah yang nominalnya cukup lumayan untuk merenovasi rumah kami. Suami juga pernah mendapatkan proyek dari Sucofindo yang hasilnya bisa untuk membayar cicilan tanah kami.

Saat ini, selain menjalankan usaha warung, suami juga menjadi guru di sebuah SMK di sini. Dengan bantuan dua karyawan, suami bisa dengan tenang mengajar, meski beberapa waktu harus terjadi benturan dan kami harus menyiasatinya.

Mengajar sebenarnya bukan cita-cita suami, begitu katanya. Tapi saya berhasil meyakinkan bahwa dia bisa menjadi guru yang baik karena abah adalah pengajar yang baik. Maka sejak tahun 2012 suami resmi menjadi guru computer di SMK dan nampaknya dia sangat menikmatinya. Buku-buku computer pun mulai berdatangan ke rumah kami dan menempati satu deret rak buku keluarga kami. Bahkan Farras yang berusia 3,5 tahun pun sudah bisa mengenali mana buku abah dan yang mana buku ibunya. “Buku abah tuh yang ada gambar computernya.”

Saya katakan dengan tulus di sini, saya sangat menikmati menjadi istri seorang yang berjiwa wiraswasta tinggi. Meski pendapatan tidak sepasti pegawai dan karyawan dalam tiap bulannya, berwiraswasta telah banyak mengajari saya dalam kehidupan ini. Bisa dikatakan saya banyak belajar tentang takdir-Nya dari profesi suami ini. Bahwa kita hanya bisa berusaha sekuatnya dan setelah itu serahkan semua kepada-Nya. Saya juga diajari bagaimana bersikap pada pegawai, bagaimana harus sabar menghadapi perilaku bermacam-macam orang, bergaul dengan pedagang-pedagang kecil di pasar dan melihat ungkapan syukur mereka. Jatuh-bangun membangun usaha, naik-turun mempertahankan usaha, bahkan saya juga diajari bagaimana menghadapi tawaran irasional dalam dunia usaha. Nyatanya saya telah terbiasa dan nyaman di sini.

Kami telah banyak menyusun rencana usaha di kampung saat kami pindah nanti. Suami tetap pada jalannya dengan memilih pada wiraswasta sebagai profesinya. Saya sendiri berencana mengajar di kampus (mohon doanya ya mudah-mudahan keinginan saya ini dimudahkan). Sementara untuk karir mengajar suami, kami belum memutuskannya. Suami bilang, selama usaha belum kuat berdiri untuk sementara tidak memberikan perhatian pada karir mengajarnya, kecuali bila mendapatkan lokasi mengajar yang dekat dengan rumah dan tempat usaha. Toh jalan mengajar masih bisa ditempuh di tempat-tempat lain selain dunia formal, bukan?

Di sini saya mengamini nasehat Mbah Maemun di atas, bahwa ketika kita berniat menjadi guru kita harus mempunyai usaha sampingan (kalau saya mengartikannya usaha utama). Eh, ini bukan berarti tidak boleh menjadikan profesi mengajar dan tenaga pendidik sebagai profesi lho ya, boleh-boleh saja asal profesional. Jadi ketika mengajar tidak melulu memikirkan dana tunjangan, sertifikasi, atau hal-hal seputar itu saja. Mari kita ambil sisi positif dari nasehat beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s