Review

Review Perempuan di Rantai Kekerasan

936625_10153925644914374_3139024437032747860_n.jpg

Saat mendengar kisah rumah tangga salah satu sahabat, saya teringat pada buku ini, Perempuan di Rantai Kekerasan. Buku yang saya beli menjelang hari ulang tahun saya ke 22 itu merupakan hadiah dari saya untuk saya. Saat itu bisa dikatakan jiwa aktivis saya masih menyala-nyala. Oya, sedikit info, saya dulu seorang aktivis, meski tidak seaktif teman-teman lainnya. Saya pernah menjadi ketua KOHATI cabang. Saya banyak belajar tentang relasi gender pada masa-masa itu.

Membaca buku tersebut untuk kedua kalinya membawa kesan yang berbeda pada saya. Kalau dulu saya membacanya saat saya belum menikah. Isi buku itu (meski tidak semua cerita yang tertulis di dalamnya saya ingat detilnya) membawa dampak psikologi yang sangat kuat pada diri saya. “Saya harus kuat,” begitu pekik saya sesaat setelah menamatkan buku tersebut. Memangnya seperti apa isi buku tersebut?

Seperti judulnya, buku tersebut berisi tentang kisah nyata beberapa perempuan yang terjerat dalam rantai kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun psikis. Pelakunya bukan orang jauh dan sebaliknya justru pelakunya adalah orang-orang terdekat mereka yang mayoritas adalah laki-laki, yaitu ayah atau suami mereka.

Ada cerita ayah yang begitu kasar memperlakukan anak-istrinya hanya karena ia merasa sebagai pencari nafkah. Ada ayah yang dengan status kepemimpinannya dalam keluarga menjadikan anak-anak dan istri adalah hamba yang senantiasa harus menurut, patuh, tunduk, tidak boleh membantah, apalah melawan. Atau perilaku kasar ayah pada ibu yang disaksikan langsung oleh anak-anaknya. Untuk kasus ini biasanya dialami anak-anak perempuan di masa kecilnya yang kemudian membawa dampak psikologis mendalam yang akan terus dibawanya hingga dewasa. Pengalaman yang tidak menyenangkan ini juga berpengaruh besar pada pembentukan karakter sang anak yang cenderung kea rah negative seperti pembenci, pendendam, ketidakpercayaan pada lawan jenis, bahkan pada kecenderungan lesbian.

Selain kekerasan yang dilakukan oleh ayah, status suami juga sering menjadi alasan perbuatan kekerasan kepada perempuan. Di buku tersebut banyak sekali diceritakan perilaku penindasan suami pada istri, mulai dari kekerasan kata-kata, kekerasan psikis (perselingkuhan), hingga kekerasan fisik (pemukulan, tendangan, bahkan percobaan pembunuhan). Sayangnya, untuk keluar dari rantai kekerasan tersebut banyak perempuan yang sulit sekali beranjak. Mereka seolah mempunyai seribu maaf pada seribu kesalahan. Atas alasan menjaga keutuhan rumah tangga beribu maaf tersebut terbentang pada tiap-tiap kesalahan, bahkan kesalahan besar yang sudah tidak wajar dan mengarah pada kriminalitas. Hingga akhirnya bom waktulah yang berbicara dalam kisah mereka. Merekalah yang menentukan.

Jujur saja, saya bergidik membaca cerita-cerita tersebut. Saat itu saya berpikir apakah sebegitu menyeramkannya dunia rumah tangga? Begitu pertanyaan yang mengganggu saya. Saya yang saat itu belum menikah diam-diam menekadkan diri bahwa saya harus kuat. Saya tidak mau menjadi perempuan-perempuan lemah seperti dalam kisah-kisah tersebut. Saya kuat. Saya tidak lemah. Saya bahkan menetapkan garis toleransi kesalahan yang boleh dilakukan pasangan saya kelak, yaitu selama saya tidak dipukul, diselingkuhi, atau dijerumuskan pada perbuatan dosa. Itu batas toleransi saya. Bila pasangan saya melewati garis ini, saya yang akan memutuskan nasib rumah tangga kami. Begitu tekad saya dulu. Saya begitu khawatir dengan masa depan pernikahan saya (padahal nikah saja belum). Saya saat itu merasa bahwa nasib para perempuan dalam buku tersebut bisa saja menimpa saya.

Tapi setelah menikah dan membaca ulang buku tersebut, kesan saya berubah. Bahwa tidak semua laki-laki itu penindas. Bahwa tidak semua laki-laki itu bersifat otoriter meski ia dibesarkan dalam latar keluarga patriarkat. Bahwa tidak semua laki-laki menjadikan status kepemimpinan keluarga sebagai pribadi superior dalam keluarga mereka. Saya merasakan sendiri dalam perjalanan rumah tangga yang telah kami jalani selama lima tahun (dan semoga akan terus seperti ini dan lebih baik lagi). Kami seperti teman. Kami berjalan beriringan. Kami setara. Kami sama-sama berpendapat. Kami saling berdebat. Kami bergantian mengalah. Kami saling mendukung. Kami juga bisa sama-sama marah. Kemudian kami saling berminta maaf dengan cara kami dan kami sama-sama bisa memahaminya. Kami juga berbagi tugas, tidak ketat pembagiannya. Kami saling berbagi dan bergantian.

Tapi bukan berarti rasa simpati saya pada penindasan terhadap perempuan luntur. Saya tetap seprti dulu, saya tetap peka terhadap segala bentuk penindasan terhadap perempuan. Salah satu penindasan yang sering mengganggu saya adalah penindasan yang dialami sahabat saya. Bukan penindasan fisik memang, tetapi perilaku kesewenang-wenangan suami terhadap segala hal, termasuk keputusan jumlah anak, bagi saya adalah penindasan. Pendapat istri tidak didengar dan dianggap angin lalu adalah salah satu bentuk penindasan. Perselingkuhan adalah penindasan. Juga meremehkan kerja istri di ranah domestik serta membiarkan istri bersusah payah membesarkan empat anak sendirian adalah penindasan.

Mendengarkan cerita sahabat tersebut membuat saya lelah sendiri. Saya kemudian mengingatkan padanya bahwa kita punya Rasul. Kita punya panutan. Rasul juga seorang suami. Kalau masih bingung dengan perilaku baik-buruk suami, ukurlah dengan tuntunan Rasul. Tidak harus plek seperti Rasul karena beliau memang suami terbaik dalam memperlakukan istri. Paling tidak jangan sampai perilaku suami melenceng dari aturan dan tuntunan Rasul. Itu saja catatan saya untuknya. Akhirnya saya katakana kepadanya bahwa keputusan besar ada di tangannya. Bahwa dia berhak bahagia, setidaknya bahagia untuk dirinya dan anak-anaknya. Karena perempuan yang tidak bahagia dan menderita akan berusaha membagikan penderitaannya pada anak-anaknya. Dan anak-anak dan masa depan mereka bukan barang taruhan serta tidak berhak untuk dipertaruhkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s