Motherhood

My Me-Time

download
sumber gambar di sini

Sebenarnya saya tidak tertarik membahas tentang pembahasan perlu-tidaknya me-time bagi perempuan, terutama bagi yang sudah menikah, punya anak, dan khususnya ibu rumah tangga. Sudah banyak perdebatan diulas dan lagi-lagi perempuan, terutama kaum ibu akan terbagi menjadi dua. Ada yang mendukung perlunya me-time dan kemudian ramai-ramai membagi artikel tentang perlunya me-time dan mencolek suaminya masing-masing. Sementara di kubu lain akan ada kelompok yang menganggap me-time sebagai hal yang mengada-ada. Dulu zaman emak-emak kita yang anaknya bejibun saja tidak istilah me-time, begitu argumennya. Bahkan ada yang lebih ekstrim mengatakan bahwa me-time itu barang bawaan dari Barat yang tidak sesuai dengan budaya kita.

Saya pribadi tidak ingin masuk di perdebatan itu. Yang ingin saya tuliskan adalah pendapat pribadi saya (sekali lagi pendapat pribadi saya) tentang me-time dalam hidup saya.

Me-time bagi saya adalah waktu untuk diri sendiri, terlepas dari segala hal yang menyibukkan, baik itu urusan rumah tangga (karena saya ibu rumah tangga full), urusan anak, bahkan urusan suami yang mana hal-hal yang saya lakukan selama me-time itu bisa membuat saya bahagia dan menenangkan. Saya punya waktu-waktu itu, yaitu ketika saya menulis dan membaca. Kalau membaca, saya masih bisa samba dengan momong anak. Tapi untuk menulis, saya benar-benar menyendiri. Bukan berarti saya harus pergi ke suatu tempat atau meninggalkan mereka bertiga. Menyendiri yang saya maksud adalah saya benar-benar fokus pada tulisan saya. Itu biasa saya lakukan saat anak-anak sudah tidur, suami nonton tivi, dan fisik saya berada di antara mereka, sementara jiwa saya fokus pada tulisan. Bagi saya itu sudah cukup untuk mengaktialisasikan diri saya.

Memangnya apa yang sudah saya tulis? Belum banyak dan hanya sekedar tulisan-tulisan di blog (yang juga belum banyak). Tapi bagi saya menulis adalah suatu hiburan tersendiri melebihi hiburan apapun. Dan itulah me-time terbaik saya. Sementara untuk membaca, saya bisa melakukannya kapanpun, selama saya sempat. Saya bisa membaca saat anak-anak tidur siang, saat mereka bermain dan tidak membutuhkan perhatian saya, saat mereka bermain bersama abahnya, dan saat mereka tidur malam. Bagi saya, membaca dan menulis inilah amunisi yang menghibur saya.a

Apakah saya tidak butuh jalan-jalan? Tentu saja saya butuh dong. Tapi sejak menikah dan punya anak, saya hampir tidak pernah berpisah dari mereka saat jala-jalan (kecuali saat saya di Jakarta ketika menyelesaikan kuliah). Bagi saya, kebahagiaan dan hiburan saya ya berada di antara mereka. Saya tidak pernah berpikir untuk pergi jalan-jalan, bersenang-senang tanpa mereka. Suatu kali saya pernah pergi sendirian meninggalkan si sulung untuk ke perpustakaan. Jujur saja, selama di perpustakaan itu, saya tidak bisa konsentrasi pada buku bacaan saya. Ujung-ujungnya saya borong buku-buku itu untuk saya pinjam. Saya bisa tenang membacanya saat saya berada di sampingnya. Eh, sekali lagi, ini me-time versi saya lho ya.

Jadi perlukah me-time itu? Saya menganggapnya perlu karena bagaimanapun keadaan dan kondisinya, perempuan butuh untuk sekedar relaksasi. Apalagi kalau sudah menjadi seorang ibu, seorang ibu harus bahagia. Karena kalau seorang ibu itu menderita, biasanya dia akan membagikan penderitaannya pada anak-anaknya. Mau itu perempuan yang bekerja di luar rumah ataupun perempuan yang bekerja di rumah, semuanya butuh me-time. Tinggal bagaimana kita memaknai me-time tersebut. Di sini kita boleh berbeda pendapat apa yang dimaksud me-time dan tentu saja masing-masing punya definisinya sendiri.

Kalau saya, sebagaimana saya tulis di atas, me-time adalah hal yang membuat saya tenang dan bahagia. Karena itu, saya tidak harus menjadikan jalan-jalan sendirian (tanpa anak dan suami) sebagai me-time saya. Saya cukup bahagia bersama mereka. Saya menikmati bermain bersama mereka. Tentu saja saya juga pernah mengalami kepenatan dan kejenuhan yang sangat luar biasa sebagai ibu rumah tangga full. Untuk mengobati kepenatan dan kejenuhan itulah saya biasa menyalurkannya pada hobi baca dan tulis saya. Atau saya akan memasak makanan kesukaan saya dengan gembira tanpa rengekan si bungsu. Biasanya saya membuat kue kesukaan saya. Ini biasa saya lakukan saat si bungsu tidur. Jadi saya tidak harus gedabrukan dan kejar-kejaran seperti saat saya memasak untuk makan sehari-harinya. Atau mengajak jalan-jalan suami dan sejenak melupakan pekerjaan rumah. Toh suami juga tidak keberatan kalau sekali-kali makan di luar, sekali-kali melondry cucian di tukang londry, sekali-kali rumah berantakan (yang terakhir ini tidak sekali-kali ding).

Jadi menurut saya, perdebatan soal perlu-tidaknya me-time ini tidak penting untuk dibahas karena tidak aka n ada ujungnya. Satu kubu akan ngotot dengan perlunya me-time sementara kubu lain juga tidak kalah ngotot untuk membantahnya. Maknai saja me-time kita masing-masing menyesuaikan kondisi kita. Jangan sampai gara-gara membaca artikel tentang perlunya me-time tiba-tiba kita merasa tidak bahagia dan kemudian latah meng-iya-kan artikel tersebut mentah-mentah, menodong suami untuk memberikan jatah me-time kita, dan mencari arti kebahagiaan di luar sana. Tak perlu galau saat perempuan lain menunjukkan me-time mereka dengan cara yang mungkin membuat kita ngiler. Yang penting kita bahagia dan ingatlah, kebahagiaan bukan kita cari, tetapi kita ciptakan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s