Review

Mari Belajar Pada Anak-anak!

buku kiki.jpg

Begitulah pesan yang saya tangkap dari buku ini. Sang penulis buku, Kiki Barkiah memberi judul bukunya dengan 5 Guru Kecilku yang memuat subjudul kumpulan kisah berhikmah seputar pengasuhan anak. Maka sesuai dengan judulnya, buku ini bercerita tentang cerita penulis menjalani hari-harinya bersama lima buah hatinya. Buku ini semacam diary atau catatan harian seorang ibu.

Apa yang istimewa dari buku ini dibanding buku serupa lainnya? Karena ini adalah kisah nyata, maka yang istimewa dari buku ini tentu saja penulisnya. Penulisnya adalah seorang yang menurut saya luar biasa. Perempuan ini dengan sadar hati memilih berkarir menjadi ibu fulltime yang mendidik sendiri anak-anaknya. Bagi saya, pilihan sadar untuk menjadi ibu fulltime bagi anak-anaknya ini membawa konsekwensi pada pengambilan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya secara penuh. Artinya, segala sesuatu yang berkaitan tentang pendidikan dan pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu (dan ayah) secara penuh. Kalaupun ada pendidik lain, seperti guru di sekolah, atau pengasuh yang membantu di rumah, itu hanya bersifat sekunder saja. Mungkin karena alasan ini, penulis memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah formal dan beliau memilih untuk menjadi guru pertama bagi anak-anaknya di rumah atau homeschooling.

Kemudian apa lagi yang istimewa dari pilihan homeschooling dari kisah sang penulis? Anaknya banyak, berjumlah lima orang. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mengurus lima anak dengan jarak dekat dan mendidik mereka sendirian tanpa asisten (begitu kisah yang tertulis di buku), apalagi keluarga ini tinggal di Amerika yang artinya mereka harus memikirkan keluarga mereka sendiri tanpa bantuan sanak kelaurga atau tetangga. Ketika membaca daftar pekerjaan yang harus dikerjakan selama satu hari, saya sampai menahan nafas karena panjangnya jadwal pekerjaan itu, mulai dari beres-beres rumah (yang tidak akan pernah ada habisnya kalau diturutin, mah), mengajar anak-anaknya di rumah (yang semuanya tersusun dalam kurikulum yang rapi), mengasuh bayi yang masih menyusui, menyiapkan makanan, dan seterusnya. Dalam kegiatan yang begitu padat, ternyata keluarga ini masih punya waktu untuk kunjungan edukasi, bermain di luar, belajar di luar, pengajian mingguan, tahfiz mingguan, bahkan camping di hutan. Si ibu ini bahkan masih mempunyai me time, bisa menulis buku, aktif organisasi, dan lainnya.

Saya yang membacanya saja merasa capek dan ribet dengan membayangkan jikalau sayalah yang berada di posisi itu. Ketika satu anak minta ini, yang lain minta itu, yang lainnya minta ngASI, yang lainnya entah apalagi, begitulah bayangan saya. Tapi ketika membaca cerita penulis, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pola asuh anak dengan jumlah banyak. Dengan jumlah anak lebih dari dua, ternyata bisa dijadikan sarana pendidikan kemandirian yang nyata. Anak yang lebih tua bisa menjadi asisten orang tua dalam mengurus rumah dan mendidik adik-adiknya. Tentu saja membangun kemandirian dalam kondisi tersebut tidaklah mudah. Banyak anak yang menjadi kakak merasa cemburu dan bahkan berujung pada aksi yang kerap kali dianggap ‘nakal’ saat mempunyai adik. Diperlukan komunikasi yang sehat untuk membangun rasa kemandirian, rasa kasih sayang pada saudara, tanggung jawab, juga rasa berbagi pada si kakak saat adik baru lahir. Bila ini berhasil, bisa dikatakan salah satu masalah utama dalam persaudaraan kakak-adik teratasi. Tidak itu saja, rasa kebersamaan dan cinta kasih yang terbina sejak kecil secara hangat ini akan terus menguat sampai mereka dewasa kelak, begitu yang ditulis oleh penulis pada kesempatan lain.

Karena jumlah anaknya lima, tentu saja cerita menghadapi pengasuhan juga menjadi lima warna. Karena setiap anak itu unik, maka pola pengasuhan tiap-tiap anak pun berbeda, termasuk dalam pola belajarnya. Itu pesan penting lain yang dapat saya tangkap. Karena keluarga ini memilih homeschooling, masalah perbedaan tiap-tiap anak ini lebih mudah diakomodasi disbanding bila mereka memilih sistem persekolahan yang biasanya menerapkan penyeragaman dalam kurikulum mereka. Lagi-lagi hal ini membawa pesan bahwa orang tua adalah pihak yang paling banyak tanggung jawabnya pada pendidikan anak karena orang tualah yang paling banyak pemahamannya tentang anak-anaknya.

Banyak hal lain yang bisa diambil pelajaran dari kisah-kisah dalam buku ini. Penerapan pola komunikasi yang sehat pada anak, sekecil apapun usia si anak, tentang aturan dan konsekwensi, pendidikan agama, juga tentang dunia pernikahan. Sekali lagi saya sampaikan buku ini bukan buku teori parenting jadi bila Anda mencari sebuah teori atau tips mendidik anak dalam buku ini, Anda harus siap-siap kecewa. Karena ini buku catatan harian yang disertai renungan hikmah, maka kita sebagai pembaca sendirilah yang harus menyiapkan diri menerema hikmah dari tiap-tiap kisah. Anda boleh saja tidak setuju pada pola asuh sang penulis, tapi saya kira lebih banyak pelajaran positif yang bisa diambil dari kisah-kisah ini.

Selamat membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s