pernikahan

Ketika Sahabat Sudah Menikah

Saya memiliki beberapa sahabat dekat. Bahkan ada sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Kami mulai berteman sejak kami masuk pesantren tahun 1997 dan kami terus dekat meski saya berpindah-pindah, mulai kuliah di Jakarta sampai menetap di Lampung. Kami tetap dekat seperti dulu saat pertama kali bertemu. Setelah menikah pun kedekatan kami tidak berkurang karena kami tidak sekedar bersahabat hanya berdua saja, tapi kami berempat, saya, suami saya, sahabat, dan suaminya, saling kenal dan menjadi seperti keluarga. Setiap ada berita senang kami tetap berbagi, dan ketika ada kesusahan pun kami saling menguatkan. Setelah anak-anak lahir jadilah persahabatan kami semakin besar karena anak-anak kami pun bersahabat. Bagi saya, sungguh indah persahabatan semacam ini.

Tapi tidak semua sahabat seperti itu. Ada sahabat yang tidak bisa dekat lagi setelah sahabatnya menemukan pasangan hidupnya. Ada pula sahabat yang tidak bisa menghargai pasangan hidup sahabatnya. Maka tidak jarang hubungan persahabatan yang lama terjalin bisa saja renggang atau bahkan terputus saat salah satu dari sahabat itu menemukan pasangan hidupnya. Apakah itu wajar? Sebelum menjawabnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat sahabat dekat sudah menemukan pasangan hidupnya.

  1. Turut berbahagia atas pilihan sahabatnya

Sahabat yang baik adalah ikut merasakan susah-senang yang dialami sahabatnya. Maka ketika sang sahabat telah menemukan belahan jiwanya, siapapun itu, hendaknya kita turut berbahagia, kendati dalam hati mungkin kita tidak menyukai pasangan si sahabat tersebut. Kalau si sahabat bahagia, untuk alasan apa kita tidak berbahagia? Kalaupun kita tidak sepenuhnya setuju dengan pilihan sang sahabat, sebaiknya itu disimpan di dalam hati saja. Toh membahagiakan orang lain juga perintah agama, bukan?

  1. Sadar bahwa sang sahabat sudah memiliki sahabat sejati

Ya, ketika sudah menikah maka sahabat sejati adalah suami/istri. Sahabat sejati ini tidak hanya bisa diajak berbagi suka, tetapi juga sanggup diajak berbagi duka. Sahabat sejati ini mau mengorbankan apa saja, jiwa, raga, harta, bahkan nyawa sekaligus. Seorang istri rela bersusah payah mengandung anak mereka. Si istri juga rela bertaruh nyawa demi anak yang merupakan harapan hidup mereka. Si istri akan menjadi orang pertama mendoakan suaminya saat berangkat bekerja dan tak henti-hentinya berharap suaminya pulang dengan selamat dan bahagia. Begitupun suami, dia rela mengorbankan apa saja demi pasangan dan anak-anaknya. Mereka akan menerjang hujan, petir, dan angin demi menghidupi mereka. Panas matahari juga tidak dihiraukan lagi demi menjemput rezeki Ilahi. Saat mereka menghadapi susah-payah kehidupan, mereka akan saling menguatkan. Saat mereka menghadapi masalah, mungkin mereka akan bertengkar, tapi cinta kembali mendekatkan. Nah, kita sebagai sahabat hanya orang luar mereka. Kita tidak banyak merasakan susah-payah mereka. Maka sudah sewajarnya kalau hubungan persahabatan yang mungkin lama terjalin bisa renggang saat sahabat lainnya sudah menikah. Kita sebagai sahabat juga tidak berhak untuk terus-terusan meminta perhatian dari sahabat yang sudah memiliki pasangan karena pasangan mereka itu lebih berhak mendapatkannya.

Lalu, apakah itu berarti bahwa persahabatan harus diputuskan begitu saja saat sahabat kita menikah? jawabannya tidak bila kita bisa melakukan hal berikut ini.

  1. Hargai pasangan sahabat dan jadilah teman bagi pasangannya

Banyak persahabatan terputus begitu saja saat salah satu dari sahabat tidak menghargai pasangan sahabatnya. Pasangan sahabat tidak dianggap ada dan tetap asyik dengan dunia persahabatan akan melukai perasaan pasangan sahabat lainnya, terutama bila persahabatan itu terjalin antara laki-laki dan perempuan. Bayangkan saja bila ada dua sahabat, laki-laki dan perempuan, kemudian salah satu mereka sudah menikah, tapi si sahabat perempuan ini sama sekali tidak menghargai keberadaan istri sahabatnya. Bagaimana perasaan si istri? Tentu saja terluka, bukan? Istri yang setiap harinya mendampingi susah-senang kehidupan suaminya, si istri yang rela mengorbankan apa saja dalam hidupnya demi pernikahan mereka, kemudian ada orang lain yang mengaku sahabat sang suami yang tidak menghargainya. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan si istri, bukan?

Termasuk menghargai pasangan sahabat adalah dengan tidak mengungkit-ungkit masa lalu sahabat kita di depan pasangannya karena hal itu bisa mengganggu perasaan pasangannya. Hargai mereka dengan kehidupan mereka saat ini dan masa depan mereka, bukan menarik sahabat pada masa lalunya yang mungkin juga ingin dilupakannya.

Intinya, sahabat suami adalah sahabat istri, sahabat istri adalah sahabat suami. Kalaupun tidak ingin berteman dengan pasangan sahabat kita, setidaknya jangan membuat masalah dengan tidak menghargai mereka.

  1. Menjaga untuk bercurah hati

Sebelum menikah bisa saja kita bercerita apa saja dengan sahabat kita. Maka setelah dia menikah, sebaiknya kita memilih cerita apayang layak dan tidak layak untuk diceritakan kepadanya. Apalagi bila sahabat kita itu lawan jenis, ada baiknya untuk tidak lagi bercerita tentang hal-hal yang bersifat pribadi kepadanya karena hal itu bisa merusak hubungan penikahan mereka bila terjadi salah faham.

  1. Menjaga komunikasi dengan sahabat

Mungkin sebelum sahabat kita menikah kita bisa saja bebas kapan saja menghubunginya. Tapi setelah sahabat kita menikah, kita tidak bisa lagi bebas berkomunikasi dengannya karena dia sudah mempunyai waktu-waktu privasi yang tidak bisa diganggu. Dalam aturan agama, ada waktu-waktu di mana anak yang sudah besar atau anggota keluarga lain tidak diperbolehkan masuk kamar pasangan suami-istri tanpa izin. Nah, di zaman gadget yang memungkinkan seisi dunia masuk dalam kamar, kita pun harus memahami aturan ini. Menghubungi sahabat atau mengirim bbm di tengah malam, tentu saja itu sangat mengganggu, apalagi bila sahabat itu lawan jenis. Mungkin saja saja dia sedang menikmati waktu privasinya bersama pasangannya setelah seharian merasakan kepenatan bekerja. Maka, apakah pantas bila kita mengganggunya dengan memasuki kamar mereka melalui pesan-pesan elektronik kita? Untuk alasan apapun kita tidak berhak melakukannya. Bahkan anggota keluarga saja tidak pantas untuk melakukannya kecuali untuk alasan tertentu, misalnya mengabarkan ada anggota keluaga yang meninggal atau ada kejadian darurat lainnya. Lha, apakah pantas bila kita hanya ingin ber’say hallo’ saja menggunakan waktu privasi mereka?

Akhirnya, bagi kita yang sudah menikah, ikutilah pesan agama yang agung dalam menjaga pernikahan. Jadikanlah pasangan kita sebagai pusat perhatian. Bila pasangan kita tidak merasa nyaman dengan sahabat kita, maka jadikanlah sahabat kita hanya sebatas kenalan saja. Bukankah hubungan pernikahan itu lebih sudi dari sekedar persahabatan atau pertemanan yang terkadang hanya sebagai tempat berhahahahihihihuhuhu saja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s