Ide dan Campur-campur

Surat Cinta #3: Terima Kasih atas Ketulusan Cintamu

SAM_0056

Malam itu ibu masih belum sepenuhnya tertidur saat mendengar kau pulang bersama abahmu membawa bungkusan makanan. Ibu mendengar semuanya.

“Abah, bangunin ibu yuk! Kita makan bareng-bareng.” Katamu.

“Kasihan ibu Nak, ibu baru saja tidur. Ibu kecapekan. Biarkan ibu tidur.” Kata abahmu.

“Tapi ibu belum makan, abah. Kalau nanti ibu bangun terus lapar, piye? Kasihan ibu, Bah. Eh, kita makannya nggak usah dihabisin ya, kita sisakan buat ibu. Nanti siapa tau ibu bangun dan lapar.” Katamu.

Taukah kau apa yang ibu rasakan? Sungguh ibu merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini, sayang. Ibu diberi anugerah anak yang begitu perhatian dan mencintai ibu. Tidak sekali dua kali kau tunjukkan rasa cintamu itu.

Suatu kali saat kau melihat ibu tiba-tiba terlelap, kau langsung memijit kaki ibu. “Ibu capek ya? Farras pijit ya.” Atau saat ibu mengantuk dan si adek belum mau tidur, kau pun menawarkan bantuan dengan senang hati. “Adek sini maen sama mas, ibunya biar tidur dulu. Ibu capek dek.”  Ah, ibu sungguh terharu.

Umurmu belum genap empat tahun. Tapi kepekaanmu sungguh luar biasa. Ketika kau berbuat kesalahan-kesalahan kecil, kau langsung menyadari dan meminta maaf. Saat kau menerima puding coklat kesukaanmu dari tangan ibu kau pun dengan tulus berterima kasih. “Makasih ibu sayang. Aku sayang sama ibu.”

Tapi seringkali ibu lupa semua itu dan khilaf sehingga tak sadar memarahimu dengan keras. Kau menangis ketakutan. Taukah kau Nak, sesaat setelah itu ibu menyesal tidak kepalang. Terbayang semua kebaikanmu serta cintamu yang luar biasa pada ibu. Saat kau menangis itu, ibupun merasa sangat bersedih pada diri ibu sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri ibu di hadapanmu. Ibu merasa menjadi ibu yang jahat. Ibu lupa kalau kita semua pernah melakukan kesalahan dan tak sepantasnya kesalahanmu itu dibayar dengan kemarahan yang keras.

Kau anak baik dan pengertian. Dan kesalahan-kesalahan kecilmu itu bukan karena kesengajaan. Ibu sadar akan hal itu. Tapi seringkali ibu lupa akal itu. Untuk itu, ibu minta maaf. Ibu minta maaf yang banyak.

Nak, perjalanan kita masih panjang. Tumbuh kembangmu adalah juga tumbuh kembang ibu. Seperti kata Naomi Aldort bahwa raising childern, raising ourselves. Orang bilang seorang ibu adalah madrasah utama, tapi sejatinya ibu dan kau belajar bersama. Saat kau belajar sesuatu, di situ ibu pun turut mempelajarinya. Saat kau belajar arti kejujuran, maka ibu pun harus menunjukkan arti kejujuran itu pada diri ibu, yang artinya ibu pun harus belajar menerapkannya. Saat kau belajar arti kesabaran, ibu pun harus mempelajarinya. Kita tumbuh bersama dan kaulah alasan ibu terus belajar.

Ibu sadar, masih banyak kekurangan di sana-sini dalam mendampingimu. Untuk itu, jangan pernah lelah untuk terus mengingatkan ibu kalau ibu melakukan kesalahan, seperti siang ini, saat kau mendengar suara azan, “Ibu, sholat dulu.” Ya Nak, teruslah begitu.

Ibu berjanji akan terus bertumbuh menjadi ibu yang terus lebih baik lagi. Marilah bergandengan tangan dan terus berjalan ke depan dengan penuh harapan.

Salam sayang dari ibu,

Untukmu si cerdas brilianku

Advertisements

2 thoughts on “Surat Cinta #3: Terima Kasih atas Ketulusan Cintamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s