Ide dan Campur-campur

Surat Cinta #4: Untuk Abah Tercinta

12661859_10153988170804374_7476263115856753693_n.jpg

Abah,

Beberapa hari yang lalu, aku buka buku harian lamaku. Aku terkejut saat menemukan selembar surat yang sudah robek jadi dua. Surat itu abah kirim tahun 2009 yang lalu, setahun setelah kelulusan kuliahku. Aku masih menyimpannya, Bah. Akan aku jadikan surat itu kenang-kenangan indah dari seorang ayah yang luar biasa.

Banyak sebenarnya yang ingin aku sampaikan pada Abah sebagaimana ribuan kasih dan sayang yang Abah limpahkan kepadaku. Tapi biarlah semua itu tetap tersimpan dalam hati bersama doa-doa yang kupanjatkan untuk Abah sepanjang hari.

Abah,

Di surat ini aku ingin mengucapkan berjuta-juta terima kasih atas segalanya, atas semua hidup dan waktu yang telah abah persembahkan untukku dan adik-adikku. Aku merasakan semua cinta itu, Bah. Yang ada di pikiran dan hati Abah hanya aku dan adik-adikku. Semua pekerjaan Abah kerjakan demi kami. Semua usaha Abah lakukan demi menyekolahkan kami. Semua doa selalu terpanjat untuk kebaikan kami.

Aku merasa bahwa aku bisa menjalani kerasnya hidup ini karena didikan Abah. Abah dulu selalu mengatakan bahwa dunia hanya persinggahan, bahwa di dunia ini tidak perlu banyak tertawa karena Sang Jurupengawas selalu mengintai, bahwa kenikmatan makanan itu hanya sejengkal tangan, bahwa semua kemewahan hanya pertaruhan jawaban di akhirat, bahwa semua akan kembali tanpa membawa apa-apa. Semua masih membekas dalam ingatan. Saat hati menginginkan suatu kemewahan, yang terbayang adalah kata-kata abah tersebut.

Tidak itu saja, aku masih mengingat saat-saat Abah mengajariku sholat, berwudhu, mengaji, atau mengajariku membaca, menulis, berhitung. Semua kenangan itu tidak pernah hilang dari ingatan.

Abah juga yang selalu mengajarkan kesederhanaan hidup, menggunakan barang yang masih bisa dipakai, memakan apa yang ada, tidak ndakik-ndakik menjalani hidup, memakai pakaian yang sederhana, menerima segala karunia yang ada meski mungkin masih jauh dari harapan kita. Semua itu memang tidak pernah terucap dalam kata, tapi contoh perbuatan Abah selalu menjadi panutan sepanjang masa.

Mungkin tidak banyak kenangan yang aku ingat saat-saat kebersamaan kita. Tapi aku ingat bagaimana Abah mengajariku membuat tas dari bungkus rokok, membuat mainan dari pelepah pisang, memanggang singkong di tengah ladang, memasak daun kacang sebgai sayuran saat ibu tidak ada di rumah, mengajari bagaimana memasak nasi yang benar, membiarkan aku mencoba merasik bumbu masakan meski hasilnya tidak enak, membuat gambar-gambar binatang yang aku minta, tertawa riang saat hanya kita berdua saja pergi ke Malang entah aku lupa untuk apa tujuan ke sananya. Aku merasa begitu berarti bagi Abah. Hal-hal seperti itu jugalah yang ingin aku tinggalkan kepada anak-anakku nanti agar mereka pun menyadari bahwa mereka juga berarti bagiku.

Kini aku sudah menjadi ibu. Tapi Abah masih memperlakukanku sebagai anak. “Kau tetap anakku meski kau sudah menjadi ibu,” begitu kata Abah. Karena itu Abah masih rajin menanyakan kesehatanku, menanyakan sariawanku, mengirimkan makanan kesukaanku, dan setelah ada cucu, Abah pun melakukan hal yang sama, membuatkan mainan kesukaan mereka, menyediakan makanan kesukaan mereka, masih juga memberikan kebutuhan kami semua. Untuk semua itu sungguh aku tidak mampu untuk membalasnya. Hanya doa yang terpanjat semoga Allah menyayangi Abah sebagaimana Abah menyayangiku di waktu kecilku hingga saat ini.

Salam sayang dari anak riwayatmu, Abah.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Cinta #4: Untuk Abah Tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s