Ide dan Campur-campur

Surat Cinta #6: Hai Cita! Apa Kabar?

Rasanya sudah lama aku tak menyapamu. Sejak kudapatkan dua lembar ijazah itu, aku semakin jarang saja menyapamu, bahkan sekedar mengingatmu. Pernah sekali aku membangunkanmu dari tidur panjangmu, yaitu saat aku mencoba peruntungan dengan mendaftar seleksi CPNS dosen. Tapi nampaknya kau harus kembali lagi ke dalam ranjang nyamanmu dan menikmati istirahatmu.

Taukah kau Cita, sejak menikah dan punya anak, aku bertekad menduakanmu. Maafkan aku. Aku sadar kau banyak berjasa pada perjalanan hidupku. Tanpamu mungkin saat ini aku tidak di tempat ini. Kau membawaku dari pelosok kampung ke ibukota. Aku ingat, saat SD aku membaca buku sejarah bahwa univeristas tertua di dunia ada Kairo. Saat itulah untuk pertama kalinya kau muncul. Kau selalu membisikkan kepadaku, “Ayo, kamu pasti bisa belajar di sana!”

Waktu pun berlalu dan akhirnya aku lulus SMA. Tapi keadaan berkata lain. Terbukanya informasi tidak sederas saat ini. Ibu dan abahku tentu saja terkaget-kaget dengan gagasanmu itu, Cita. “Mesir itu di mananya Mekkah?” Aku jawab, “Masih ke sono lagi.” Tentu saja mereka tidak menyetujui idemu itu. Melepas anak sulung untuk belajar ke ujung dunia yang belum ketahuan di mana letaknya tentu saja hal yang konyol menurut mereka. Tak apalah pikirku saat itu. Yang pasti idemu tentang alternatif kedua untuk keliah di Jakarta menjadi pilihan yang memungkinkan. “Ya, daripada minta ke Mesir, mending di Jakarta lah.” Begitu jawab abah kala itu. Aku ingat, saat itu aku tertawa bahagia atas strategi cerdikmu.

Sejak saat itu kau selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku belajar sekuat tenaga demi menggapaimu. Menjadi sarjana, lulus kuliah, melanjutkan s2, dan nantinya menjadi dosen. banyak pengorbanan yang aku berikan untuk semua itu. Aku harus bekerja paruh waktu karena harus membiayai kuliah dobelku, mengajar les privat hingga tengah malam, bekerja lembur menjadi editor freelance di sebuah penerbit besar, berkejaran dengan deadline redaksi di sebuah majalah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku juga sudah menyelesaikan kuliah s2ku di tengah-tengah kesibukanku mengasuh bayi mungilku kala itu.

Tapi anak-anakku lebih mendesak untuk dijadikan priorotas saat ini. Karena itu aku memilih citaku yang lain. Citaku yang itu sebenarnya sudah terpikir sejak dulu kala, yaitu aku yang akan mendidik anak-anakku sendiri, terutama di tujuh tahun pertama mereka. Karena itulah saat ini engkau masih kusimpan rapi bersama ijazahku di lemari.

Aku masih berharap engkau masih bertenaga jika saatnya nanti tiba, yaitu saat kubangunkan engkau lagi bersama ijazahku. Kita akan bergandengan tangan lagi, berjalan bersama lagi, berjuang bersama sambil begadang ditemani kopi dan roti selai lagi. Tapi ada satu yang kupinta padamu, Cita, janganlah kau cemburu dengan citaku yang lain, yang sudah menjadi aliran darah ini, yaitu cita ibu yang baik untuk anak-anakku. Kalau nanti kalian bersinggungan, maka kau tetap kunomorduakan.

Kuharap dengan sangat, mengertilah!

Dariku, sahabatmu.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Cinta #6: Hai Cita! Apa Kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s