Pendidikan Anak

Obrolan Ringan: Pendidikan Anak

Ini bukan membahas tentang teori yang ndakik-ndakik karena yang akan saya ceritakan adalah obrolan yang sangat ringan. Obrolan ini khas ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya sekolah di sebuah TK di kampung. Sekedar informasi, latar belakang pendidikan ubu-ibu ini rata-rata lulusan SMA, tidak begitu aktif di media sosial, dan mayorits masih berfikiran konvensional mengenai pendidikan. 

Pendidikan masih dianggap hanya persekolahan. Tidak lebih dari itu. Maka saya pun mendengar keluhan umum, “duh, gimana dong anakku nggak mau sinau? Nanti ketinggalan sama teman-temannya.” Dan rata-rata para ibu-ibu berpikiran sama. 

Memang bagus memandang penting pendidikan anak. Tapi mempersempit pendidikan hanya pada persekolahan dan pengajian TPA, bagi saya di situ letak permasalahnnya. 

Begini, anak usia TK memiliki kemampuan belajar yang tinggi, belajar apapun itu. Tidak terbatas pada dunia persekolahan. Lebih dari itu ada hal penting yang harusnya menjadi prioritas orang tua dalam mendidik anak-anaknya di usia ini, yaitu penanaman aqidah, akhlak, dan pe!biasaan perilaku baik (yang menjadi dasar karakter). Itu semua tidak bisa diserahkan ke sekolah sepenuhnya karena waktu anak lebih banyak dihabiskan bersama keluarganya. Juga karena ikatan keluarga mempunyai potensi lebih besar untuk dipercaya anak dibanding guru-gurunya. Maka itu pendidikan usia dini seharusnya lebih ditekankan pada hal-hal tersebut karena itu fondasi utama yang menuntun perjalanan hidupnya kelak. 

Lalu bagaimana strateginya? Teladan. Saya menganggapnya sebagai metode yang terbaik di antara metode-metode lainnya. Yang menjadi role model di keluarga adalah orang-orang dewasa, baik itu ibu-ayah, kakek-nenek, atau siapapun orang dewasa di rumah tersebut. Tapi teladan yang utama adalah orang tua. Jangan berharap banyak pada keshalihan anak bila orang tuany sendiri tidak shalih. Jangan berharap anak akan rajin shalat kalau orang tuanya malas-malasan shalat. 

Tidak hanya terkait aqidah dan ibadah saja, teladan juga metode efektif untuk pembelajaran akhlak. Jika ingin anaknya santun, orang tuanyalah yang terlebih dahulu mencontohkannya. Jangan berharap anak akan menjadi dermawan bila orang tuanya bersifat pelit. 

Sayangnya pendidikan utama ini seringkali luput dari perhatian para orang tua. Orang tua lebih khawatir anaknya tertinggal dalam kemampuan membaca daripada menghadapi sifat boros si anak yang suka jajan berlebihan. Padahal jajan berlebihan juga dilarang agama, sama juga dengan perintah iqro’. Orang tua lebih khawatir anaknya tidak bisa matematika daripada kondisi anak yang kecanfuan pornografi atau kebiasaan misuh. 

Maka saat mendengar keluhan para ibu-ibu tersebut, saya hanya bisa tertegun. Ada banyak hal yang seharusnya lebih pantas dikhawatirkan dibanding hanya sekedar ketertinggalan kemampuan calistung. Ada kecanfuan pornografi yang sudah merambah kampung, ada kebiasaan misuh dan berkata kotor serta umpatan-umpatan yang seolah wajar diucapkan anak, ada sikap hilang rasa hormat pada orang tua, ada kebiasaan boros dan budaya instan, dan masih banyak hal lainnya. Semua itu terkait akhlak, aqidah, dan juga pembentukan karakter, yang semua itu jauh lebih penting dari sekedar kemampuan calistung di usia dini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s