Review

Laron

Masih capek setelah pulang mengantar sekolah dan menidurkan Fawwaz, saya ditodong Farras untuk membacakan buku. Tidak bisa nanti, harus saat itu juga. Maka saya minta dia mengambil buku tipis saja. Dan buku Seri Metamorfosis menjadi pilihannya.

Buku tentang laron dan ternyata banyak hal yang saya baru tau setelah membacakan buku tersebut (kemane aje bu?). Soal laron yang hanya muncul di musim hujan, misalnya. Ternyata itu karena si laron/rayap iyu keluar dari sarang-sarang mereka karena mereka kebanjiran. Air hujan yang masuk ke tanah membuat mereka tidak nyaman dan akhirnya mereka keluar. 

Rayap/laron itu ternyata berkoloni dan sang ratulah yang menentukan tugas hidup koloninya. Maka ada tiga tugas rayap, rayap pekerja, rayap prajurit, dan rayap reproduksi. 

Nah, rayap reproduksi inilah yang memiliki sayap yang ternyata berfungsi sebagai alat terbang untuk mencari pasangannya. Mereka yang sudah hidup lama dan berada dalam sarang akan keluar saat awal musim hujan tiba. Mereka terbang ke arah cahaya untuk menghangatkan dan mencari pasangan. 

Laron yang menemukan pasangannya akan melepas sayapnya dan melakukan proses perkawinan. Mereka akan terus hidup dan membentuk koloni baru. Nah, bagi laron yang tidak menemukan pasangan yang cocok, maka dia akan mati saat fajar tiba.

Saat itulah saya teringat salah satu puisi Maulana Rumi,

Hingga Kau Terbakar

Kita telah mengalami berjuta kelahiran.

Dari materi yang tak bernyawa.

Kita dengan tanpa sadar berkembang menjadi kesadaran tetumbuhan,

lalu berubah ke dalam kehidupan binatang.

Dan, di tiap perubahan selalu diiringi dengan berbagai kesulitan, lalu bergerak menjadi makhluk yang memiliki daya fikir dan moral. Kemudian berubah menjadi makhluk yang dikaruniai kesadaran intuisi yang bisa mengetahui segala yang ada di balik bukti-bukti indrawi. Jejak-jejak kaki terus membentang hingga ke pantai. Lalu melampaui jejak itu sirna dalam samudera.

***

Samudera kesadaran itu luas. Bentuk-bentuk kita mengapung-apung di atas permukaannya. Seperti sebuah cawan-cawan kosong. Hingga kita menjadi penuh dengan air. Lalu, kita tenggelam ke dalam dasar samudera.
***

Apakah kamu ingin tenggelam dalam Tuhan?

Maka selamilah dirimu!

Jangan pernah menyembul ke atas dan ke dalam lagi. Seperti sesuatu yang mengapung di lautan. Dengan ketakjuban, “Mana yang lebih menyenangkan—di dasar atau di permukaan?”

***

Para kekasih yang dekat dengan Kekasihnya adalah laron-laron yang tidak dapat menghentikan hasrat ketertarikan pada cahaya lilin.

***

Tak ada yang meyakinkan hingga kamu terbakar. Apakah kamu ingin mengetahuinya dengan yakin? Jika mau, duduklah di dekat api!”

Jalaluddin Rumi

Diterjemahkan oleh Tasirun Sulaiman dalam buku Kalender Kearifan Sufi: Renungan Sepanjang Tahun 

https://rumisufi.blogspot.co.id/2015/04/hingga-kau-terbakar.html?m=0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s