Review

Financial Parenting (bag.1)

Prindip 5 T dalam mendidik anak

Time (waktu)

Telling (memberi tahu)

Teaching (mengajar)

Training (melatih)

Togherness (kebersamaan)

Kalimat tersebut mengakhiri bab 1 buku Financial Parenting karya Kak Seto dn Lutfi Trizki dan saya baru sampai di situ membacanya. Mau dilanjutkan? Tentu saja, tapi harus menulis hal-hal ini dulu sebelum melanjutkan bacaan ke bab-bab berikutnya, begitu petunjuk yang tertulis.

Yang pertama, nilai didikan orang tua. Orang tua saya –seingat saya–tidak pernah bertengkar karena permasalahan uang. Karena itulah, saya tumbuh dalam kondisi yang selalu positif dalam memandang keuangan. Singkat kata, ketika saya memilih pasangan hidup, uang atau harta tidak menjadi tolak ukur dominan. Pun setelah menikah, uang tidak pernah menjadi topik permasalahan kami. Maka pesan utama orang tua yang selalu menjadi pijakan adalah bahwa harta di dunia hanya titipan, cari dan gunkan dengan baik dan benar. “Niat nyambut gawe kanggo sangu ibadah.” Begitu kata simbah saya. 

Yang kedua,  refleksi sikap dan perasaan saya terhadap uang. Saya akui, saya tidak banyak tahu tentang ilmu pengelolaan keuangan. Apa yang saya lakukan dan terapkan dalam mengelola keuangan keluarga kami semata-mata hasil didikan tidak sengaja keluarga kami terdahulu. Meskipun demikian, didikan itu semacam prinsip teguh yang sudah mengakar dalam pribadi saya. Salah satu pertanyaan yang ada kuisener di buku ini adalah bagaimana sikap saya, saya merasa banyak bersyukur dengan tiap keadaan meski hidup kami sederhana karena saya menyadari bahwa masih banyak keluarga yang keadaannya lebih tidak beruntung secara finansial. Saya juga tidak boros dan cenderug pelit. Membeli sesuatu bagi saya harus benar-benar diperhitungkan matang-matang. Sebelum belanja, saya selalu membuat daftar belanjaan dan akan saya patuhi. Saya menyadari sepenuhnya, sikap saya ini banyak dipengaruhi oleh perilaku ibu saya dan akan saya tularkan ke anak-anak saya.

Soal pemenuhan kebutuhan atau keinginan anak, sepenuhnya saya tidak memnjakan mereka. Saya tidak setuju dengan ungkaoan “anak saya tidak boleh menderita seperti say dulu.” Bagi saya, anak juga harus diajarkan untuk berjuang sebelum mendapatkan sesuatu.Yang ketiga, tentang riwayat keuangan saya. Sampai saya kuliah semseter 4, saya masih full mendapat pembiayaan dari orang tua saya dan harus berbagi dengan keenam adik yang semuanya sekolah. Bisa dibayangkan kan betapa sempitnya ruang gerak keuangan keluarga kami dengan satu hektar sawah sebagai satu-satunya pendapatan keluarga. Yap! Selama itu saya dipaksa berhemat. Setelah masuk semester 5, saya mulai bekerja sampingan seiring dengan kebutuhan hidup di perantauan yang semakin tinggi. Di saat-saat itulah  (sampai saya menikah) saya bekerja dengan keras. Menjadi editor, wartawan lepas, reporter, guru ngaji, guru privat, dan apa saja yang bisa saya kerjakan. Di masa-masa itu pula saya pernah merasakan diri ini sangat miskin, sampai saya kehabisan uang sama sekali, berhutang sana-sini, pernah makan sehari sekali bahkan berpuasa, dan tidak kuliah karena kehabisan ongkos. Tapi di waktu-waktu itu pula saya pernah merasa sangat kaya dan semua apa yang saya inginkan terpenuhi, yaitu saat saya mendapatkan bonus dari lomba MTQ. 

Di kemudian hari, saya merasa bahwa ternyata masa-masa itu, yaitu masa saya kuliah semester 5, kuliah rangkap, sampai saya menikah, adalah masa-masa penting pembentukan kepribadian saya tentang arti harta benda dan ambisi. Bahwa saya pernah merasakan semuanya. Maka jika saat ini kami berada pada situasi kekurangan harta, ingatan saya kembali ke masa itu, yaitu saya pernah hanya makan sekali dalam sehari. Atau ketika kami menginginkan sesuatu kemewahan, saya juga langsung teringat bahwa kemewahan ya “cuma begitu saja.”

Kini, saya merasa semakin tenang dalam menjalani hidup. Keinginan terbesar kami –yang terkait dengan uang– sudah terpenuhi, yaitu mendaftar haji. Bagi saya itu sudah cukup dan tinggal menjalani hari dengn semangat dan optimis. Tidak ada ngoyo, ngotot, atau merasa dikejar-kejar dengan keinginan. Jabariyah? Tentu bukan dong, toh kami masih bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Selama nafas masih berhembus, bekerja dengan baik dan benar adalah suatu keharusan. Dan yang terpenting adalah mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam hal finansial ini. 

Eh, jadi panjang begini ya review sebuah buku. Intinya, di bab 1 buku Finansial Parenting ini, penulis mengajak para pembaca untuk berefleksi tentang cara pandang kita tentang uang. Cara pandang inj penting sebagai fondasi pendidikan finansial yang akan dilatihkan ke anak-anak. 

Sampai jumpa di review bab-bab berikutnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s