Institut Ibu Profesional

#NHW3: Di Sini Saya Berdiri

Jatuh cintalah lagi! 

Ya, saya selalu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi setiap hari. Padanya, kekasih hati. Tak bosan saya mengirim surat cinta, meski surat-surat iu tanpa balasan. Bagi saya pelukan dan perhatian yang diberikannya setiap hari adalah balasan surat cinta yang saya kirimkan, termasuk video ini. 

Respon suami hanya tersenyum dan biasanya saya akan mendapat bungkusan nasi goreng plus pelukan. Yang pasti, sejauh ini, cinta kami terus hidup dan berkembang.

Tentang anak-anak, kedunya memiliki pribadi yang sangat berbeda dan unik. Farras (4 tahun 5 bulan) memiliki perasaan yang lembut. Dia sangat peka dan perasa. Tidak perlu bicara keras apalagi membentak untuk berbicara kepadanya. Saya melihat, dia punya potensi berbagi dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi. 

Sementara Fawwaz (21 bulan) lebih aktif secara fisik, selalu bergerak, dan tidak bisa diam. Meski demikian, dia sangat serius, selalu sungguh-sungguh dan berkemauan kuat ketika menginginkan dan mengerjakan sesuatu. Di sini saya melihat potensi besarnya adalah bermain di bidang proyek. Dia akan menyelesaikan proyeknya secara tuntas. Semoga.

Keduanya cerdas secara intelektual. Mereka juga sama-sama pandai bergaul. 

Saya, sebenarnya saya sangat suka mengajar dan mendidik. Karena masih diminta suami menemani anak-anak di rumah, merekalah yang menjadi media aktualisasi potensi saya saat ini.

Untuk lingkungan tempat tinggal kami sebenarnya masih kondusif untuk kehidupan beragama dan bersosial. Enam bulan yang lalu kami pindah ke kampung tempat kami lahir dan besar sebelum akhirnya kami merantau. Kendati di kampung, kami mempunyai tantangan yang tidak kalah besar dibanding hidup di perkotaan, yaitu tantangan kemajuan teknologi. 

Di tengah-tengah merekalah saya ditempatkan oleh-Nya. Suami yang bertanggung jawab, senang berwiraswasta, orang IT, meski kurang tertarik menjadi guru tapi selalu ingin menjadi guru yang baik, anak-anak yang cerdas yang membutuhkan ibu yang cerdas pula, dan lingkungan pedesaan yang masih buta teknologi meski mEreka sudah menggenggamnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s