Cerita Ringan

Menarik, Tapi Tidak Tertarik

Kok nggak komentar soal demo-demo kemarin sih? Nggak peduli sama masalah umat ya?
Sebenarnya ada rasa ingin sekali berkomentar, membagi link, atau bahkan menulis status tentang hal-hal kekinian, termasuk tentang demo beberapa waktu lalu. Tapi ada kalimat sakti yang dipesankan bu Septi (founder IIP) dalam menghadapi tsunami informasi dan agar tetap fokus pada jalan yang kita tempuh, “menarik, tapi tidak tertarik.”

Isunya menarik, saya sebagai muslim tentu saja tergerak untuk memikirkannya. Tapi saya memilih menjadi pembaca diam saat membuka timeline facebook yang sangat bising dengan perdebatan pro-kontra seputar kasus tersebut. Menjadi pembaca diam saja membuat saya baper (saya memang laperan  buuuuk), apalagi kalau saya ikut membagi link atau bahkan menulis status yang berpotensi mengundang perdebatan, bisa-bisa saya tidak enak makan dan tidak enak tidur nantinya. 

Mungkin ada yang menyanggah, kenapa tidak berpendirian begitu? Yang pasti saya punya sikap dan biarlah saya dan Sang Maha saja yang tau. Untuk berdebat, saya tidak siap karena pastinya menguras energi dan emosi, padahal banyak prioritas-prioritas lain yang lebih membutuhkan energi dan emosi saya. Toh pendapat saya juga tidak banyak dibutuhkan orang, tidak mengubah keadaan, dan juga tidak berpengaruh pada pendapat orang lain. Saya berpendapat/berdebat atau tidak toh demo sudah terjadi, dan alhamdulillah aman, tentram, sentosa, dan damai. Mau saya bagikan link/tidak juga tidak mempengaruhi teman-teman yang sudah punya pendirian teguh dan pastinya tidak akan berubah. Saya nulis status/tidak juga para pendukung/penentang akan tetap pada sikapnya. Duh…saya mah apa atuuuh…

Hanya seorang perempuan dengan dua putra dan satu suami yang tinggal di pelosok kampung (nggak pelosok-pelosok amat sih). Pekerjaan sehari-hari mengurus rumah dan membantu usaha suami untuk menyambung hidup (jiah). Itu saja sudah cukup menyita waktu. Gadget baru bisa kepegang saat anak-anak tidur. Jadi saat mereka terjaga, seluruh jiwa raga saya untuk mereka dan  bapaknya  tentunya. Mulai dari memandikan sampai mendandani mereka, menyiapkan makanan, mengantar ke sekolah sambil momong, menemani mereka bermain, membacakan buku, sampai meladeni tiap ocehan mereka, hingga mereka tidur kembali. Pernah suatu ketika terlintas di pikiran saya, saat itu saya sedang melongok ke kolong meja-kursi mencari kepala robot ninja yang besarnya seujung kuku, “ini di belahan bumi sana mungkin teman-teman saya sedang menghadapi para mahasiwanya, atau sedang duduk di kursi anggota dewan dan mencatat agenda sang anggota karena teman saya ada yang menjadi asistennya.” Hehe.

Maka saat anak-anak tidur, kalau saya masih kuat, saya baru bergadget ria. Itupun saya pilah-pilah. Apalagi seperti saat-saat ini, bergadget lebih banyak saya pergunakan untuk belajar mengerjakan pe-er kuliah online IIP. Kuliahnya memang online tapi pengerjaan nice homeworknya membutuhkan banyak keahlian dan keseriusan yang tinggi. Deadline tiap minggu pula. Itu yang maya, belum lagi komitmen-komitmen saya (sesuai nice homework IIP) di dunia nyata yang harus saya lakukan (dan nyatanya saya belum bisa konsisten), membaca buku parenting, membaca buku non parenting, menulis, mereview buku, menulis portofolio anak-anak, menyiapkan aktivitas untuk anak-anak, menjaga keistiqomahan mengaji, dan ditambah belajar photoshop dan corel (karena suami berencana mengajar kembali, jadi saya harus menguasai ilmu-ilmu yang dibutuhkan di percetakan kami). Dan satu lagi, merenung sejenak. Saya perlu itu untuk menyehatkan pikiran. 

Itu kalau masih kuat, kalau sudah tepar ya wassalam. Jadi mana sempat saya memikirkan yang lain (sok sibuk lah ya)? Saya sadar kelemahan dan keterbatasan saya, jadi tetap fokus pada prioritas dan semacam memakai kaca mata kuda adalah langkah terbaik bagi saya. Bagi Anda-anda yang berkesemapatan memberi perhatian dalam bentuk apapun terhadap kasus ini, saya sampaikan salam hormat setingi-tingginya karena saya mendapatkan tidak sedikit ilmu dan pengetahuan baru, terutama perihal ilmu bahasa, hermeneutika, dan juga logika.Salam hormat dari emak beranak dua yang sedang tertatih-tatih memikirkan NHW#4 yang tidak mudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s