Institut Ibu Profesional

#NHW 10 : Mari Berkomunitas!

It takes a village to raise a child

Saya suka peribahasa Afrika ini. Saya sendiri mengartikan peribahasa tersebut sebagai sosialisasi. Bahwa kita sebagai anggota masyarakat perlu terlibat dalam urusan masyarakat (dengan catatan membereskn urusan pribadi terlebih dahulu). Termasuk dalam hal ini adalah urusan pendidikan anak. Mau tidak mau, pendidikan anak tidak akan bisa berjalan maksimal jikalau kita hanya berjalan sendiri, sementara kita hidup di tengah-tengah masyarakat.

Saya pribadi merasa butuh dengan keterlibatan banyak orang, baik untuk mendidik anak-anak saya, juga untuk mengembangkan potensi saya. Saya senang berkomunitas sejak dulu. Saya senang berbicara, mengungkapkan gagasan dan ide di tengah-tengah komunitas tersebut. Karena itulah, sebelum anak-anak lahir, dunia saya full berkomunitas, mulai HMI, lembaga pers, mengajar, bekerja di tim redaksi, dan lain-lain. Selain pendidik, bakat yang saya miliki adalah menulis (meski masih harus banyak berlatih). Dua bakat inilah yang membuat saya terpancing untuk terus belajar, membaca, mengamati (terutama pada bidang utama saya, pendidikan anak dan kerumahtanggaan) agar saya bisa menuliskannya kembali menjadi suatu ide dan solusi. 

Dari situlah saya dikenal teman-teman dekat saya sebagai ibu yang mempunyai konsern pada pendidikan anak, terutama pendidikan keluarga. Maka setelah saya dan keluarga pindah ke kampung halaman saya berfikir bahwa saya harus berbuat sesuatu di sini. 

Saya melihat masih banyak anggapan di masyarakat bahwa pendidikan anak ya di sekolah. Maka orang tua yang sudah menyekolahkan anak ke sekolah formal dianggap sudah menunaikan kewajibannya. Di sinilah saya melihat pokok masalahnya. Seperti pepatah di atas, “butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.” Artinya, menyerahkan pendidikan anak ke sekolah saja itu tidak cukup mengingat betapa terbatasnya gerak lembaga pendidikan yang bernama sekolah. 

Menghadapi persoalan tersebut, dalam benak saya terpikir untuk menyadarkan para orang tua, terutama para ibu untuk mengambil kembali peran mulianya, yaitu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Untuk mensosialisasikan ide saya tersebut saya membutuhkan wadah bernama komunitas karena saya menyadari bahwa berjalan sendirian sungguh tidak menyenangkan. Karena itulah saya bersama sahabay terbaik say sepanjang masa untuk mendirikan IIP di Lamongan. Kami mengajak teman-teman dekat kami yang mayoritas satu almamter untuk bergabung. Alhamdulillah, meski tidak membludak, beberapa teman memberikan respon positif, dan beberapa dari mereka bersedia melangkah satu langkah lebih maju, yaitu mengikuti kelas matrikulasi. 

Di sini saya memang yang menginisiasi pembentukan IIP Lamongan. Peran saya di sini adalah connector antara para pemilik ide brilian (yang bisa jadi berasal dari para member) kepada para member, dan harapannya bisa menular ke masyarakat lain. Saya juga akan mengginakan bakat menulis saya untuk mendokumentasikan perjalanan kami untuk kemudian disosialisasikan ke masyarakat lebih luas. Bagaimanapun tulisan lebih luas jangakauannya dibanding ucapan/ceramah.

Karena kami di sini baru memulai, tantangan berat belum kami jumpai. Justru tantangan besar itu ada pada saya pribadi. Saya yang mungkin terlalu lama berada dalam kepompong nyaman yang bernama dunia dalam rumah terkadang merasa tergagap-gagap dengan dunia luar, termasuk komunitas yang membutuhkan perhatian dan aksi cepat. Di sini saya merasa harus belajar lagi mengatur waktu antara aktivitas utama, sekunder, dan aktivitas pelengkap. 

Untuk kedepan, saya bersama teman-teman hebat kami akan membuat program rutin (yang akan kami bahas di kopdar perdana bulan Februari nanti), dan semoga kami bisa membuat satu even besar di tahun depan. Semoga. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s