Ide dan Campur-campur

Liburan di Rumah Saja? Mari ber-DIY Ria!

Libur sudah lewat dari satu minggu dan kami belum kemana-mana. Tidak masalah sebenarnya karena sejak dulu pun tidak ada agenda khusus untuk berlibur atau jalan-jalan. Kalau ada waktu dan semua sehat, tidak harus saat liburan, kami selalu menyempatkan jalan-jalan, meski sebatas mengelilingi perumahan. Iya, lingkungan perumahan kami di Lampung dulu bagi saya sangat indah dan sudah cukup dibilang sebagai refreshing. Perumahan kami dikelilingi bukit kapur (yang mulai menyempit karena dikeruk habis oleh satu makhluk yang paling rakus di dunia), persawahan, perkebunan karet, dan juga pegunungan. Kalau ada waktu lebih kami jalan-jalan mengelilingi kota, bahkan kami pernah bertiga Farras jalan-jalan lintas kabupaten mengendarai motor, waktu itu Farras berusia 11 bulan. Jadi tidak ada waktu khusus untuk jalan-jalan.

Apalagi kini kami tinggal di kampung. Kami berwiraswasta. Tidak ada waktu yang mengikat kami. Mau libur ya monggo, mau buka terus ya silahkan. Hampir tidak ada beda antara hari libur dan hari biasa, kecuali kegiatan mengantar Farras sekolah.

Karena kami bekerja di rumah dan tidak ada niat liburan khusus, masalah justru ada pada sulung kami. Farras bisa berpeluang besar untuk terus-terusan nonton TV. Memang acara yang ditontonnya cukup aman untuk usianya, tapi saya menyadari penuh bahwa menonton TV dalam jangka waktu yang lama juga berbahaya.

Maka salah satu cara saya menyiasati masalah tersebut adalah dengan ber-DIY ria. Do it yourself. Membuat sesuatu kreasi dengan tangan kita sendiri. Farras membahasakannya dengan “bikin-bikin.” Dia sangat antusias dengan kegiatan ini. Bahkan acara paling menarik di TV pun bisa terkalahkan dengan kegiatan DIY ini. Bagi saya, itu adalah manfaat besar dari berkreasi.

Manfaat lain dari dari DIY adalah bisa mengasah kreativitas anak. Dengan seringnya bikin-bikin, maka anak akan terbiasa menemukan ide untuk terus berkreasi. Anak akan selalu melihat peluang setiap melihat sesuatu. “Ini bisa dibuat apa ya?” Contoh kongkrit, saat baling-baling pesawat mainannya hilang, Farras langsung mengambil kertas tebal, digambar, dan digunting. Jadilah pesawatnya tersebut berbaling-baling lagi. Bagi saya, ketika anak sudah memiliki jiwa yang kreatif, itu berarti dia sudah memiliki satu bekal penting dalam kehidupannya. 

Keuntungan selanjutnya adalah menumbuhkan jiwa produktif pada anak. Anak akan lebih berpikir “ayo bikin!” daripada “ayo beli!” Sebenarnya awalnya saya tidak sengaja membuat kebiasaan ini. Dulu ketika di Lampung, perumahan kami jauh dari jalan raya dan jauh dari pertokoan. Sedang saat itu saya tidak bisa mengendarai motor dan kegiatan suami lebih banyak di luar. Maka ketika anak-anak meminta sesuatu, seringnya makanan ringan, kami merasa kesulitan. Akhirnya sering saya bilang ke anak-anak, “bikin aja yuk!” Karena seringnya saya katakan kalimat itu, anak-anak, terutama sulung Farras menjadi terbiasa. Sedikit-sedikit saya belajar masak di luar masakan pokok. Saya juga jadi belajar membuat mainan anak-anak sendiri dari internet. Tanpa sadar hal itu membekas pada kebiasaan anak. Kini, saat kami tinggal di kampung, meski dikelilingi toko-toko mainan, warung-warung makanan, dan juga swalayan-swalayan, saya tidak terlalu pusing pada kebiasaan jajan anak-anak. Anak-anak minta jajan dan mainan seperlunya saja. Dulu saya sempat khawatir bagaimana nasib dompet kami saat kami tinggal di kampung yang kondisinya penuh dengan pedagang? Bagaimana mengatasi keinginan jajan dan mainan anak-anak? Saat melihat anak-anak merengek minta pedang-pedangan di toko mainan depan rumah kami, Farras berujar, “nanti minta bikinin mbah aja ya pedang-pedangannya.” Saat tercium bau nasi goreng dari warung sebelah rumah, dia juga berujar, “ayo bu, bikin nasi goreng!” Saya bersyukur untuk kebiasaan Farras ini. Namun saya masih dihadapkan PR besar pada pembentukan kebiasaan produktif ini pada adiknya. 

Kelebihan lain dari pembiasaan aktivitas DIY adalah mengurangi sampah. Saya teringat, suatu waktu, di terik matahari yang panas, kami dapat bonus minuman berbotol dari swalayan. Yang pertama kali diucapkan Farras bukan meminta minuman tersebut untuk diminum, tapi “tutup botolnya jangan dibuang ya bu. Nanti bisa dibuat bikin-bikin hewan.” Karena kebiasaan ini pojok aktivitas dia lebih sering terlihat seperti tumpukan sampah. Ada bermacam-macam barang bekas di sana. Apalagi sekarang usaha kami adalah percetakan dan fotocopy. Seringkali saya menjumpai dia memilah limbah kertas yang ada di kardus. “Jangan dibuang yang ini, ini bisa dibuat bikin-bikin.” Saya dan abahnya sih sudah terbiasa. Namun seringkali barang-barang itu terkena razia simbah dan beralih tangan ke tukang rongsok dan bertukar dengan brambang. Hahaha. Makanya saat saya tanya ke dia, “enak mana abah kerja di pecel lele atau fotocopy?” Jawabannya adalah fotocopy. Alasannya, karena ada banyak kertas sisa yang bisa dibuat bikin-bikin. Namun apa yang kami lakukan terkait limbah dan sampah ini masih jauh dari ideal. Kami masih harus banyak belajar tentang pengelolaan sampah yang lebih besar di keluarga kami, bahkan kalau bisa meminimalisir produksinya. Semoga!

Nah, itu sedikit manfaat aktivitas DIY yang saya rasakan sendiri selama menemani tumbuh kembang anak-anak. Tentunya masih banyak lagi manfaat lainnya. Mau merasakan manfaatnya? Mari ber-DIY ria!

Prakarya dari stik dan penjepit
Miniatur kota
Peluncur
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s