Cerita dari Kampung

Cerita dari Kampung: Tahun Baru

Seharusnya tulisan ini terbit pada saat tahun baru, tanggal 1 lalu. Namun karena faktor M(alas), jadilah tulisan ini baru rampung hari ini. Di sini, saya menulis tentang perbedaan kesan yang saya rasakan tentang tahun baru antara di kota dan di kampung.

Setelah tiga belas tahun saya merasakan tahun baru di kota (8 tahun di Jakarta dan 5 tahun di Lampung), akhirnya saya dan keluarga kami merasakan tahun baruan di kampung. Tidak banyak perubahan berarti dalam mkmen tahun baru di sini. Sepi, tidak ada terompet, tidak ada pesta, tidak ada kembang api, tidak ada petasan, tidak ada bakar ayam dan jagung, hujan, libur sehari, petani tetap pergi ke sawah, pengrajin tetap menganyam tas, pedagang tetap membuka kiosnya, termasuk kami. Tidak ada yang istimewa di sini. Dan saya menikmatinya.

Ini sungguh jauh berbeda dengan momen tahun baru di kota. Saat di asrama dulu, kami memang tidak ikut pesta pora merayakan tahun baru (anak santri gitu lho), tapi suatu waktu kami pernah berkumpul di halaman menyaksikan warna langit menjingga saat detik-detik tahun baru tiba. Pengurus asrama bahkan sengaja menyediakan jagung untuk dibakar bersama. Sayang, kalau tidak salah ingat, waktu itu hujan. Jadi acara kumpul pun tidak berlangsung lama.

Kemudian saat pindah ke rumah tante di perumahan Kedaung, saya menyaksikan kehidupan yang benar-benar berbeda. Tahun baru di sana adalah momen penting bagi mereka untuk benar-benar berkumpul karena perbedaan agama penghuni komplek perumahan tidak memungkinkan mereka menyatu di hari-hari peringatan agama mereka. Jadilah tahun baru sebagai pesta besar. Ada makan-makan, hiburan, dan pastinya kembang api dan petasan. Tidak hanya ratusan ribu dianggarkan. Jutaan pun dijabankan. 

Saat di Lampung perayaan memang tidak semewah di perumahan Kedaung. Tapi saya melihat mayoritas masyarakat menyambut tahun baru dengan rasa istimewa. Karenanya pemandangan perayaan adalah hal lumrah, mulai bakar jagung, bakar ayam, pesta petasan, bahkan lebih jauh, pesta miras pun dianggap wajar. Saya pernah menyaksikan tetangga warung menghabiskan 900.000 hanya untuk membeli petasan. Wow! Bukan kekaguman, tapi kemirisan yang saya rasakan.

Saya lahir dan besar di kampung. Kami diajarkan bahwa tidak ada yang istimewa dalam pergantian tahun kecuali acara mengganti kalender. Para petani tetap pergi ke sawah. Para pengrajin tetap menganyam. Para pedagang tetap berdagang. Tidak ada libur. Apalagi pesta pora yang bagi kami tidak bernilai apa-apa selain berfoya-foya. 

Prinsip yang diajarkan adalah “berbuatlah lebih baik terus menerus. Hari ini lebih baik dari kemarin. Dan hari esok lebih baik dari hari ini.” Maka satu-satunya nilai dari tahun baru ini adalah lebih baik dari tahun kemarin. Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s