Review

Review : 21 Balon Udara

Buku bacaan pertama di tahun 2017 dan butuh satu setengah hari untuk menyelesaikannya. Kendala utama saya dalam membaca buku saat ini adalah waktu. Kalau dulu saya bisa menyelesaikan bacaan buku semacam ini sekali duduk saja, jangan ditanya untuk sekarang. Dua krucil yang super nempel pada simboknya ini benar-benar membuat saya putar akal agar bisa sekedar baca buku. Karenanya, bisa menyelesaikam bacaan secara cepat adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya, apalagi kalau bisa membuat reviewnya.

Kesan yang menarik dari buku ini adalah latar utama yang dipakai oleh penulis, yaitu Krakatoa (Krakatau) yang ditepatkan dengan waktu meletusnya, tahun 1883. Saya yang tidak tau sejarah Krakatoa menjadi ingin tau seperti apa kejadian sebenarnya, sampai-sampai penulis yang jauh di sana saja tertarik menjadikannya latar cerita (atau memang itu kejadian nyata?). Namun Anda jangn berharap akan mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya (kecuali ledakan hebat) tentang peristiwa tersebut dan juga keadaan alam sekitarnya karena cerita yang meliputi kejadian tersebut adalah fiksi. Digambarkan bahwa di sana ada kehidupan dan cerita tentang batu-batu kristal yang menjadi magnet bagi beberapa keluarga dari San Fransisco, juga tentang rumah-rumah mewah dengan berbagai kecanggihan teknologinya, tentu semua adalah fiksi yang didasarkan pada teknologi dan sains pada masa itu. Oya, buku ini ditulis pada tahun 1947 yang menceritakan kejadian tahun 1883. Jadi teknologi yang diceritakan dalam buku ini juga disesuaikan dengan zamannya. 

Sesuai dengan judulnya, yaitu balon, maka fokus cerita di buku ini adalah tentang balon dan perjalanan sebuah balon raksasa. Maka hal-hal lain selain balon, termasuk tentang Krakatoa dan batu-batu kristal adalah pemanis belaka. Perjalanan dengan menggunakan balon pada masa itu mungkin sama dengan menggunakn pesawat atau heli pada masa ini. Diperlukan kecermatan hitungan pada tiap-tiap ukurannya, yaitu ukuran balon, ukuran berat beban yang dibawa, termasuk juga bahan material dari balon tersebut. Saya memang tidak memahami ukuran-ukuran tersebut ketika dengan begitu panjang-lebar penulis menjelaskan teorinya, karena saya memang sama sekali tidak faham teori-teori fisika praktis. 

Kendati demikian, saya sangat menikamti catatan perjalanan Prof. William yang memang unik, berpetualang menggunkan balon udara. Saya langsung membayangkan bagaimana tidur di atas awan, melewati hujan, membaca buku sambil menatap pegunungan, memancing, mencuci baju di lautan, dan lain sebagainya. Pun saya ikut dag-dig-dug ketika membayangkan pertengakaran burung camar yang akhirnya merobek balon. Jadi terbayang bisa terbang di lngit Cappadocia, Turki, dengan balon udara melintasi bebukitan Turki nan indah. Semoga.

Advertisements

2 thoughts on “Review : 21 Balon Udara

  1. Nyata dan fiktif yanh diramu dengan cerdas. Begitu kata endorsnya. Saya juga kesulitan menemukan mana yang nyata dan fiksi. Hehe. Pesan moral yang jelas mungkin susah ya ditemukan. Ini semacam cerita perjalanan. Dan ini buku untuk anak-anak. Yang pasti kegigihan, ketangguhan, diajarkan di sini.

    Oya, di sini ada diceritakan tentang kampung Krakatoa yang kaya karena mereka punya tambang berlian. Nah ketika gunung tersebut meletus, mereka sadar bahwa kekayaan tidak ada artinya dibanding dengan keselamatan jiwa. Mungkin itu pesan moralnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s