Spiritual

[Spiritual] Bertakwa dalam Segala Keadaan


Ketika saya membaca buku 1 Jam bersama Nabi karya Tasirun Sulaiman, saya terhenti lebih lama pada hadis ke-18. 

Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik

Kalau membaca hadis itu sekilas, mungkin yang terpikir adalah perintah takwa. Titik. Apa susahnya? Takwa kan sama dengan berislam, beriman, berihsan. Lalu di mana letak istimewanya? Begitu kira-kira.

Saya dulu berpikiran begitu. Tapi ternyata saya salah. Takwa adalah jantung seorang muslim, begitu penjelasan penulis yanh dinisbatkan pada Kanjeng Nabi. Iman tidak akan berguna bila tidak sampai pada takwa. Takwa adalah buah iman yang benar. 

Jadi bila dilukiskan dalam sebuah lingkaran, maka status lingkaran seorang muslim adalah (dari urutan terluar):

  1. Islam
  2. Iman
  3. Ihsan–>takwa–>ikhlas

Kalau hanya menjalankan rukun Islam saja maka ia hanya sampai pada level muslim. Karenanya ada orang yang rajin sholat tapi mau korupsi. Rajin puasa tapi melakukan riba. Sudah haji tapi rajin menghujat. Itu karena orang-orang ini (nasehat untuk saya juga) belum sampai pada level iman. Keimanan belum merasuk dalam hati mereka yang sejatinya menjadi kekuatan dalam mengendalikan hati, pikiran, dan perilaku mereka. Bagi orang-orang yang berislam ini, Allah hanya ada di masjid, di Mekah, di pengajian. Padahal (masih menurut penulis buku), ibadah hanyalah sebuah sarana. Pada kenyataanya ibadah bisa sebagai penutup dan label. Ibadah juga bisa sebagai alat untuk menipu. Contohnya apa? Rajin sedekah agar disanjung orang. Rajin umroh agar disegani orang. 

Maka yang menjadi keistimewaan dari ibadah adalah takwa. Takwa adalah jiwa ihsan, yakni berbuat kebajikan karena mengharap ridha Allah secara sabar, tawakal, dan tulus. Karenanya takwa ini harus di bawa ke mana-mana, ke kantor, ke pasar, ke kebun, ke sawah, ke kampus, bahkan ke pengajian. Pertanyaannya, memangnya ada ke pengajian tidak membawa takwa? Silahkan tebak sendiri jawabannya!

Jujur saja, baru kali ini saya mendapat penjelasan yang keren tentang takwa. Saya jadi sadar kenapa pesan untuk bertakwa disyaratkan dalam tiap khutbah Jum’at, atau tujuan utama puasa adalah agar kita bertakwa, dan banyak lagi ayat dan hadis tentang takwa. 

Belajar, belajar, dan belajar. Tidak boleh berhenti karena akan ada ilmu dan pengetahuan baru di dalam sebuah pembelajaran. Semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam bertawa. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s