Cerita dari Kampung

[Cerita dari Kampung] Ketika Cabe Melonjak


Dulu, saat masih tinggal di Lampung dan menjalankan usaha pecel lele, saat-saat begini adalah saat yang menyesakkan. Kalau harga cabe 120.000 sementara kebutuhan kami rata-rata 1/2 kg, berarti kami harus menyisihkan 60.000 untuk cabe saja. Kalau sudah begitu, keuntungan kami akan sangat menipis bahkan bisa jadi tekor. Tapi itu dulu. Kini keadaannya berbalik. Kamilah produsen cabe saat ini.

Tidak banyak pengaruh yang kami rasakan dengan melonjaknya harga cabe yang menurut beritanya sudah sampai kisaran 120.000 rupiah per kilo. Kami tetap memasak dengan porsi cabe yang sama seperti biasanya. Itu karena kami menanam sndiri pohon cabe di pematang sawah. Memang bukan tanaman pokok, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan beberapa kali juga bisa sampai kami jual. 

Tapi tidak banyak keuntungan saat kami menjual cabe. Meski di berita-berita cabe dihargai tinggi, kami baru merasakan harga cabe 40.000 perkilonya. Jadi siapa yang untung besar? Tidak tahu. Meski begitu, kami tetap bersyukur. Setidaknya kami tidak harus membeli.

Tidak hanya cabe, sayur-sayuran pun kami tidak perlu membeli karena kami bisa memanennya dari sawah. Ada terong, oyong, kacang panjang, pepaya muda, kacang koro, labu, dll. Bahkan untuk lauk pun kami tidak perlu membeli di musim ikan ini. Beberapa hari lalu kami panen udang. Alhamdulillah, dapat banyak. Dua hari kemudian paklek panen lele. Kami pun kebagian. Tadi pagi emak pergi ke sawah dan menemukan ikan gabus. Jadi nikmat mana lagi yang bisa kami dustakan?

Beginilah kehidupan di kampung. Sederhana dan pastinya tenang. Urusan perut dijamin aman, apalagi bagi yang punya sawah. Di daerah kami, pertanian dibagi menjadi dua musim. Saat hujan sawah dialihfungsikan menjadi tambak ikan yang biasa kami pergunakan untuk ternak udang, bandeng, ikan mas, dan mujair. Saat musim kemarau sawah beralih ke penanaman padi. Bahkan beberapa sawah di musim hujan begini bisa menanam padi dan ternak ikan sekaligus, meski hasilnya tidak maksimal. 

Kembali ke cabe. Meski bukan tanaman utama, di saat harga tinggi seperti ini hasilnya bisa menjadi kebahagiaan tersendiri. Emak biasa menukar hasil penjualan cabe dengan kebutuhan lain, seperti bawang, minyak, dan gula. Lumayan untuk menghemat pengeluaran belanja harian. 

Begitulah cerita dari kampung saat cabe meroket. Anda punya cerita tentang cabe? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s