Review · Spiritual

[Spiritual] Buat Apa Shalat?! #1

Dengan tiba-tiba air mata saya keluar tak tertahankan ketika tiba pada halaman 50 buku Buat Apa Shalat?! karya Pak Dr. Haidar Bagir, dosen saya ketika di ICAS dulu. Seharusnya hari ini saya ingin menyelesaikan tantangan dari Pak Satria Dharma, membaca 1000 halaman. Dengan membaca buku ini sampai selesai, saya bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Tapi buku ini berbeda. Ternyata tidak cukup sekali duduk untuk membaca buku ini. 

Sejak halaman pertama, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan dan menghayati tulisannya, bukan sekedar membaca sekilas atau membaca cepat. Saya sendiri, kalau diminta menandai bagian penting dari tiap bab buku ini, maka seluruh halaman pasti sudah saya tandai. 

Maka sebelum jauh melangkah ke bab-bab selanjutnya, saya memutuskan untuk berhenti membaca buku ini, merenungkannya, dan menuliskan refleksi saya, tentang buku ini, tentang shalat saya selama ini. Sungguh ini membuat saya sedih. Dan karenanya air mata ini tak bisa tertahan.

Umur saya sudah memasuki 30 tahun, tapi kenikmatan dan penghayatan shalat (ampuni hamba ya Allah) belum benar-benar saya rasakan. Ini refleksi pertama yang diberikan penulis kepada saya. Beberapa hari lalu saya juga secara sekilas membaca tafsir tentang sabar dan shalat, maka saya semakin ingin memahami mengapa shalat begitu utama? 

Karena shalat adalah mi’raj nya orang-orang beriman. Bila Rasul bertemu dengan Allah ketika mi’raj, maka orang beriman bisa bertemu denga-Nya melalui shalat. Shalat juga menjadi pembeda antara orang mukmin dan orang kafir, shalat adalah tiang agama, shalat adalah amal pertama yang dihisab di Hari Akhir kelak, shalat adalah pencegah perbuatan keji dan munkar, shalat adalah sumber cahaya, shalat adalah sarana kita meminta pertolongan, shalat adalah pelipur lara dan penyejuk jiwa, shalat adalah sarana kesehatan tubuh (yang bisa didapatkan melalui kesehatan jiwa). 

Maka, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa shalat adalah anugerah Allah kepada orang-orang beriman untuk meningkatkan kualitas kehidupannya, selain sebagai sarana beribadah kepada-Nya. 

Lalu, sebenarnya apa sih shalat itu?

Shalat yang sejati adalah bila ia bermanifestasi dalam kebaikan akhlak. Dalam hal ini Imam Ja’far menjelaskan bahwa shalat adalah anugerah Allah untuk manusia sebagai penghalang dan pemisah kepada keburukan. Karenanya, barangsiapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaklah ia memerhatikan apakah shalatnya mampu menjadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Shalat yang diterima oleh Allah adalah hanya sejauh yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Maka tidak mengherankan bila Rasul bersabda, “ada kalanya seseorang shalat terus menerus selama 50 tahun, namun Allah tak menerima satu pun dari shalatnya.” Astaghfirullah. 

Pertanyaannya, bagaimana shalat yang benar itu?

Yaitu shalat yang khusyuk. Khusyuk menjadi syarat utama diterimanya shalat. Shalat itu utama dan banyak manfaatnya. Tapi shalat yang seperti itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk [QS. Al-Baqarah: 45]. Khusyuk adalah kesadaran penuh akan kehambaankita di hadapan-Nya. Ia harusnya membawa konsekuensi pada kecintaan sekaligus ketakutan pada Yang Mahakasih dan Yang Mahadahsyat. Karenanya, seseorang yang shalat dengan khusyuk dengan sendirinya akan memusatkan pikirannya kepada kehadiran-Nya dan membersihkan pikirannya dari apa selain Diri-Nya. Ini hanya bisa dilakukan oleh hati. Dalam hal ini Rasul bersabda, “dua rakaan shalat orang yang khusyuklebih bernilai ketimbang 1000 rakaat shalat orang yang lalai.” 

Rasul juga bersabda, “tidak diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya.” 

Penulis mengutip penjelasan Imam Khomeini yang memberikan ilustrasi tentang shalat yang khusyuk ini. Amal yang pertama dihisab adalah shalat, dan shalat inilah yang menentukan baik-buruknya amal lainnya. Nah, saat dihisab nanti adalah hati atau jiwa kita. Sementara fisik kita saat itu telah hancur. Jika kita shalat tanpa kekhusyukan dan hanya badan kita saja yang shalat (seperti burung yang mematuk-matuk makanannya), maka shalat pun tidak tersisa. Sebaliknya, bila yang melakukan shalat adalah hati, dialah yang akan bicara. 

Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Allah. 

(Bersambung)

#ODOPfor99daya2017 #day10

Advertisements

2 thoughts on “[Spiritual] Buat Apa Shalat?! #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s