Spiritual

[Spiritual] Buat Apa Shalat?! #2

Tulisan sebelumnya sudah mengantarkan apa yang disebut shalat yanh sebenarnya dan ssdikit pembahasan tentang pentingnya khusyuk yang perupakan inti dari shalat. Maka tulisan ini melanjitkan pembahasan tentang keharusan khusyuk dalam shalat. 

Kenapa harus khusyuk?

Dan mintalah tolong dengan sabar dan shalat, sesungguhnya keduanya amat sulit kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Ayat tersebut menyatakan bahwa shalat (yang sebenarnya) bisa dijadikan sarana meminta pertolongan, di samping kesabaran. Artinya Allah akan memberi pertolongan bila hambaNya meminta melalui shalat. Dan pertolongan Allah adalah hal yang luar biasa besarnya bila kita benar-benar mendapatkannya. Hal yang luar biasa tentu saja bukan perkara mudah untuk mendpatkannya, bukan? Itulah mengapa, shalat (yang sebenarnya) itu amat berat dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. 

Khusyuk mengharuskan pemahaman yang benar tentang makna seluruh gerakan dan bacaan shalat serta menghujamkannya ke dalam hati. Bila hati telah menghayati semua bacaan dan gerakan shalat, pada puncaknya hati akan mampu mengendalikan lidah dan gerakan dalam kehidupan. Shalat yang benar, yang dilakukan dengan khusyuk akan menghasilkan penuhnya hati kita dengan kehadiran Allah.

Bila hati telah menjadikan Allahu  Akbar sebagai penghayatan, maka ia akan mengendalikan diri kita untuk tidak meletakkan apapun sebagai hal yang lebih penting daripada mendapatkan keridhaanNya. Kehadiran Allah dalam hati kita yang dihasilkan dari shalat yang benar dengan sendirinya akan mendorong kejahatan, kecintaan berlebih pada dunia, dan kemunkaran untuk terdesak, dan bahkan sepenuhnya terusir. Itulah mengapa Allah menyatakan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar.

Mungkin selama ini shalat yang diajarkan kepada kita hanya melalui pendekatan fiqih saja, yaitu bahwa shalat harus dilakukan sesuai syarat dan rukunnya. Namun, sejatinya ada hal yang lebih jauh bisa diambil pelajaran dari aturan fiqh dalam shalat. Misalnya keharusan tempat dan pakaian yanh digunakan untuk shalat tersebut harus bersih dan suci. Bersih dan suci di sini bukan hanya dimaksudkan pada penampakan lahir saja. Lebih dari itu, orang yang shalat harus menggunakan pakaian dan tempat yang suci dari dosa. Penulis buku kemudian mengutip Allamah Thabathabai, 

Bila ada seutas benang dalam pakaian shalat itu diperoleh secara haram atau tidak sah menurut hukum, maka shalatnya pun tidak sah. Orang yang shalat dicegah dari menggunakan milik yang diperoleh lewat cara-cara terlarang atau menginjak-injak hak-hak orang lain. Seterusnya! Shalat hanya diterima bila seseorang telah menyingkirkan segala kerakusan hati, iri hati, serta sifat-sifat jahat lainnya…… Manakala sebagian orang melakukan kejahatan, sekalipun mereka melaksanakan shalat, shalat mereka tidak akan diterima, dan mereka tidak akan menikmati hasil-hasil agunh dsri shalat. 

Ada suatu cerita tentang cara orang saleh melaksanakan shalatnya. 

Diceritakan Hatim Al-Asham adalah salah seorang yang taat beribadah dan tulus. ‘Isham bin Yusuf datang menghampirinya dan bertanya, “bagaimanakah cara kamu shalat?”

Hatim menjawab, “ketika masuk waktu shalat, aku bangkit dari tempatku, kemudian aku mengambil wudhu lahirian dan batiniah. Wudhu lahiriah adalah membasuh anggota wudhu dengan air. Adapun wudhu batiniah adalah membasuh tujuh anggota wudhu tersebut aku basuh dengan tobat, penyesalan atas dosa pada masa lalu, meninggalkan ketergantungan kepada dunia, meninggalkan pujian makhluk, meninggalkan keterikatan kepada benda-benda, meninggalkan kedengkian, dan meninggalkan hasad. 

Setelah itu barulah aku menuju masjid. Saat aku menghadap kiblat, aku melihat diriku sebagai seorang hamba yang selalu bergantung pada Tuhannya. Aku merasa Allah di hadapanku, surga di kananku, neraka di kiriku, sementara ‘Izrail berada di belakangku,dan dua kakiku berada di atas jembatan shirath dan shalatku ini adalah shalatku yang terakhir. Setelah itu aku baru berniat, membaca takbir yang suci, membaca Fatihah dan surat dengan penuh perenungan, kemudian aku rukuk dengan penuh kerendahan diri dan kekhusyukan, aku sujud dan bertasyahud dengan penuh harapan, dan aku baca salam dengan keikhlasan. Aku telah mengerjakan shalat seperti itu selama 30 tahun dan aku selalu meyakinkan diriku bahwa shalatku tidak diterima Allah. 

Bagaimana dengan shalat kita? Shalat saya? Astaghfirullah. 

#ODOPfor99days2017 #day11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s