Keluarga

Setelah Menunggu 11 Tahun

Ket. Ibu menggendong Iman (anak kedua Kholis), abah berdiri, saya anak pertama (kerudung abu-abu), Kholis, anak kedua (kerudung merah), Nur (kerudung hijau), Hadi (peci hitam), Yazid (peci putih paling depan), Umi (kerudung biru), Ami (kerudung kuning), Mas Rodhi, suami saya (peci putih baju putih), Mbah ibu (kerudung putih), Farras-Fawwaz (anak-anak saya, kaos belang dan kaos kuning), Izzul (anak Kholis yang pertama berkaos putih merah), dan Hannah, anak Nur (berkerudung hijau toska).

Ya, untuk momen seperti ini kami harus menunggu waktu 11 tahun lamanya. Kalau dihitung umur si bungsu, terakhir kami berkumpul seperti ini ketika dia berumur 2 tahun, dan sekarang dia sudah menjelang usia 13 tahun. Kumpul-kumpul seperti ini pun tidak bisa lama, hanya sekitar 8 jam saja. Setelah itu kami kembali ke tempat kami masing-masing. 

Sebelas tahun lalu, lebaran tahun 2006 menjadi pertemuan terakhir kami bertujuh sampai hari Minggu kemarin kami dikumpulkampn lagi dalam formasi lengkap. Adik kedua (kerudung merah) berangkat ke Kairo pada tahun itu dan baru bisa pulang ke Indonesia setelah kelulusannya di akhir tahun 2010. Kami melewati momen-momen lebaran tanpa kehadirannya selama rentang waktu tersebut. Saat kepulangannya itu semua berkumpul di rumah kecuali saya, karena saat itu saya sudah di Lampung dan tidak memungkinkan untuk pulang. Dia pun kembali ke Kairo untuk melanjutkan studinya. Lagi-lagi momen-momen kumpul keluarga saat lebaran kami lalui tanpanya.

Sampai akhirnya dia benar-benar pulang ke Indonesia tahun 2015. Saat itu adik-adik yang di Jogja menyempatkan pulang dan bisa berkumpul di rumah kecuali saya yang masih di Lampung dan tidak memungkinkan pulang. Beberapa saat kemudian dia pindah ke Palu, ke rumah suaminya. 

Tahun 2016 pertengahan, saya dan keluarga kecil saya boyongan ke kampung. Maka lebaran kami bisa berkumpul. Sayangnya adik bersama keluarganya yang di Palu tidak bisa pulang. Lebaran berlalu seperti biasanya.

Maka akhir tahun 2016 seharusnya bisa menjadi momen untuk berkumpul saat dia memutuskan untuk melahirkan anak keduanya di kampung. Saat aqiqah anak keduanya, dua adik yang di Jogja (Yazid, peci putih duduk paling depan, dan Nur yang duduk di samping saya) menyempatkan pulang. Nur bahkan pulang bersama suaminya (tidak ada di foto). Dua adik di pesantren (kerudung kuning dan biru) juga pulang. Nah, saat itu justru adik keempat (Hadi yang berpeci hitam) yang tidak hadir karena masih tugas mengajar di Kendari. 

Akhirnya, baru hari Minggu kemarinlah formasi kami lengkap, abah, ibu, 7 anak, satu menantu, 5 cucu, ditambah mbah ibu. Masih kurang sebenarnya karena dua menantu lainnya tidak bisa datang, satu di Jogja dan satunya lagi di Ternate. Alhamdulillah, akhirnya setelah 11 tahun kami dikumpulkan meski hanya sekejap. Tentu saja yang paling berbahagia di sini adalah orang tua kami. Berkumpul dengan anak dan cucu adalah saat-saat yang selalu dirindukannya dan hal yang paling membuatnya bahagia. Entah kapan lagi saat-saat seperti ini bisa terulang lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s