Perjalanan

[Perjalanan] Mantan Editor

Gambar diambil dari sini 

Gegara pembahasan tentang editor sedang rame di grup ODOP, saya teringat dengan profesi saya beberapa tahun lalu, menjadi editor freelance di sebuah penerbit ternama di Jakarta. Penerbitnya saja yang ternama, sementara saya hanya editor di balik layar yang tak pernah muncul di deretan nama editor asli (emangnya ada editor palsu?) yang tercantum di halaman depan buku.

Saya ingat, saat itu ada rekrutmen editor yang entah dari mana asal infonya. Saya melamar dan kemudian diminta datang untuk tes. Ada sekitar 6 atau 7 orang yang datang waktu itu, dan saya satu-satunya perempuan, kalau tidak salah. 

Tes pertama adalah seputar ejaan yang disempurnakan. Untuk hal ini saya tidak terlalu kesulitan karena saya memang terbiasa untuk adil memenuhi EYD setiap menulis. Tes kedua adalah seputar konten buku. Kami diminta membuat semacam resensi dari baca cepat sebuah buku. Saya tidak ingat proses selanjutnya. Yang pasti setelah itu saya langsung bekerja.

Pekerjaan saya adalah membaca ulang hasil editan dari editor asli (apalah namanya ya?). Jadi nama yang tertulis dalam buku sebagai editor, Salim misalnya, itu mempunyai beberapa editor freelance yang bertugas membaca ulang hasil baca cepatnya. Di situlah saya bertugas. Saya diberi naskah yang sudah diprint out dan sebagian sudah dicoret-coret (masih sedikit sih coretannya) dengan pena warnah merah untuk saya edit lagi. Saya yang baru pertama kali kerja tentu saja bekerja dengan sungguh-sungguh. Mengedit tulisan dengan cermat tiap paragraf, kalimat, kata, dan bahkan tiap huruf agar sesuai dengan EYD dan kontennya tepat adalah tugas saya. 

Biasanya saya mengedit satu buku dalam sekali duduk. Saya memilih waktu malam (dimulai habis Isya’) sampai pagi atau bahkan sampai siang bila jumlah halamannya lebih banyak. Karenanya saya selalu memilih malam Minggu untuk mengedit karena esoknya saya libur kuliah. 

Kenapa harus sekali duduk? Biar selaras dan konsisten ketika mengedit. Jadi misal untuk ejaan kata Al-Quran kan ada beberapa versi, ada yang Alquran, ada yang al-Quran, ada yang Al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Kita boleh memilih versi mana sesuai dengan kebijakan perusahaan. Sekali duduk untuk mengedit akan memudahkan ingatan akan konsisten terhadap kata mana yang kita pilih. Sekali duduk juga akan memudahkan pengeditan konten, bila mana ada paragraf yang berulang dituliskan, atau kerangka yang melompat-lompat, dan hal-hal lain seputar konten. Ini perlu kejelian karena tidak semua naskah yang masuk ke meja penerbit itu ditulis oleh penulis dengan jam terbang tinggi. Beberapa naskah ada yang ditulis penulis semula yang terkadang membuat saya bingung ketika membaca alurnya. Maka dengan sekali duduk dalam mengedit, saya bisa mengetahui alur sebuah naskah secara keseluruhan. Baru setelah itu saya membaca ulang naskah tersebut dengan lebih santai untuk kembali memeriksa dan mengedit.

Apa saja yang saya edit? Semuanya. Mulai dari EYD, transliterasi, kemudian kata-kata dan kalimat yang tidak efektif, dan bahkan paragraf yang tidak efektif pun pernah saya coret. Tapi saya tidak pernah tau, editan siapa, editan versi saya atau versi editor asli yang kemudian diterbitkan karena saya tidak pernah membaca buku yang pernah saya edit. 

Sayangnya, saya tidak lama berada di penerbit itu karena kemudian saya ditarik menjadi tim penulis buku yang digawangi salah satu editor di penerbit besar tersebut. Saya berhasil menulis dua naskah buku (satu terbit) dan mengedit beberapa buku yang juga diterbitkan oleh penerbit baru bikinan sang editor tersebut. Lagi-lagi saya tidak berjodoh lama di dunia penerbitan karena penerbit baru tersebut tidak bisa bertahan lama. 

Tapi saya masih sempat mengedit beberapa naskah buku yang diterbitkan secara indie. Seorang sahabat saya, pengasuh pondok tahfizh di Palembang salah satu orang yang meminta jasa editing saya untuk buku Quantum Tahfizhnya. 

Tahun berikutnya saya bekerja menjadi redaktur di sebuah majalah. Lagi-lagi saya menjadi editor tidak resmi atas semua naskah yang masuk, selain menulis beberapa rubrik. Hampir satu tahun di majalah, saya akhirnya berhenti dan fokus mengajar dan juga disibukkan dengan urusan lomba menulis yang menyita waktu saya hampir setengah tahun. 

Setelah itu saya off di dunia penulisan karena fokus s2, mempunyai anak, mengerjakan tesis, dan mempunyai anak kembali. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s