Institut Ibu Profesional

Refleksi Komunikasi Produktif

#ODOPfor99days2017 #day25
Satu bulan mengikuti kuliah Bunda Sayang #1 Komunikasi Produktif membawa kesan tersendiri bagi saya. 

Pertama tentang komunikasi terhadap diri sendiri. Bahwa diri ini adalah apa saya ucap dan saya fikirkan. Ketika saya berfikir positif, saya akan menjadi positif. Ketika hal di luar saya saya nilai negatif, maka itu akan membawa pengaruh yang negatif pula. Inilah PR saya. Saya masih sering terpengaruh oleh pandangan orang yang tidak semua bernilai positif. Semua kembali kepada saya.

Kedua, tentang komunikasi dengan pasangan. Jujur saja, untuk komunikasi jenis ini, saya tidak punya satupun referensi. Maksud saya, sebelum mengikuti kuliah ini, saya tidak pernah belajar tentang komunikasi efektif dengan pasangan. Jadi, selama ini pakai ajaran apa dalam berkomunikasi? Tidak ada satupun ajaran yang kami anut. Maka tidak heran beberapa kali sering terjadi komunikasi yang tidak efektif di antara kami. Itulah mengapa, saya selalu percaya bahwa segala sesuatu itu butuh ilmu selain ilmu titen.

Maka dalam pelaksanaan game #1 berupa tantangan 10 hari, saya menyempatkan mencoba menilai komunikasi saya dengan suami dalam dua hari. Berhasil. Tetapi tantangan yang sesungguhnya afalah dalam perjalanan hidup, yang insya Allah semoga, kami selalu bersama. 

Rasanya masih banyak yang harus dibenahi dalam komunikasi di antara kami, terutama pada saya sendiri. Saya biasa memakai kata-kata nylekit ketika tersinggung pada suami. Inilah yang menjadi PR besar saya. Juga ketika emoai meninggi, di saat itulah saya menjadi singa di hadapannya. Maafkan aku ya Mas!

Ketiga tentang komunikasi dengan anak. Di jenis ketiga inilah energi saya banyak terkuras. Saya dulu, sebelum kenal dunia pendidikan anak, sangat buruk dalam berkomunikasi pada anak. Sampai akhirnya saya mengikuti tantangan 365 hari tanpa bentakan saat sulung saya berusia 1,5 tahun (yang sedikit banyak merubah kesabaran saya menjadi lebih baik). Jadi selama 1,5 tahun saya memakai komunikasi menurut selera saya, semau-mau saya, seenak hati saya. Ketika marah ya membentak, ketika bahagia ya tertawa, dan seterusnya. Kemudian saya mendapat buku tentang komunikasi dengan anak yang ditulis Bunda Rani Razak yang isinya seputar 12 gaya berkomunikasi tradisional. Buku itu juga yang banyak memberi pelajaran kepada saya tentang komunikasi efektif dari dan kepada anak. 

Tapi apakah kemudian saya sudah mahir? Oh, belum. Materi Bunda Sayang inilah yang kembali mencambuk saya untuk belajar dan belajar lagi. Dan game 10 hari itulah yang menjadikan saya untuk terus mengingat teori-teori komunikasi produktif sebelum saya membuka mulut, membentuk raut muka, dan menyalakan volume suara. Game itu seolah menjadi pemandu saya dalam berkomunikasi. Lagi-lagi, tantangannya ada di hari-hari selanjutnya, bersama mereka, anak-anak, yang sedikitpun tidak berhak atas komunikasibyang buruk dari saya. 

Yang selalu saya ingat adalah pesan Allah kepada Nabi Musa untuk berkata baik kepada Fir’aun. Kalau kepada Fir’aun saja Nabi Musa disuruh berkata baik, bagaimana bisa kita membentak anak? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s