pernikahan

Untuk Bapaknya Anak-anak…

Ah, Nice Homework IIP #3 sudah lama berlalu. Tapi auranya masih terasa sampai sekarang. Membuat surat cinta untuk sang kekasih hati. Ya, tiba-tiba ingin mengalirkan rasa kepadanya di ujung fajar ini. Di pelukannya, ingin rasanya menulis sesuatu untuknya.

Masih sering merasa penasaran, “kenapa kau memilihku? Kan banyak yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih segalanya dariku?” Biasanya dia menjawab, “kalau aku nggak memilih adek, siapa lagi yang akan menikahi adek?” Menyebalkan kan jawabannya?! Tapi dari situ saya merasa bahwa di situlah awal perjodohan kami. Klik. Dan jawaban paling manjur dari pertanyaan itu adalah, “bahwa cinta tak butuh alasan.”

Perjalanan sampai di sini, jelang enam tahun pernikahan (semoga Allah memanjangkan jodoh kami hingga ke surga, amin). Kemarin kutanya ke dia, “mau datang ke acara IIP yang kubuat?” 

“Nggak,” jawabnya.

“Kenapa sih mas nggak dukung aku?”

“Kalau aku nggak dukung, pasti sudah kularang tuh gabung di IIP.”

Saya pun terdiam. Beberapa momen pun terlintas.

Paketan buku-buku parenting tiba. Saya coba bertanya, “nggak ingin baca buku-buku ini?” Jawabnya, “ah, aku mah pendengar setia tiap dongengan adek.” Artinya dia mendengarkan setiap ocehan saya tentang buku-buku itu. 

Atau saat kudapati dia membaca chit-chat WA saya yang banyak membahas tentang parenting. 

Momen lain, “mas, aku ada jadwal presentasi di matrikulasi. Tolong kondisikan anak-anak ya di jam sekian sampai sekian.” Nyatanya, benar sekali. Anak-anak diajak jalan-jalan saat saya berkonsentrasi pada matrikulasi. 

Yang terakhir saat saya sudah selesai mengerjakan banner untuk acara family gathering IIP, si cinta merasa ‘ga terima’ karena hasil kerjaan saya yang terlalu polos, kaku, dan tak berseni. So, dia format ulang si banner dan jadilah banner cantik untuk acara saya.

Pernah sih saya berpikiran, kenapa suami saya tidak seperti suami si A yang aktif sekali berbicara parenting? Atau seperti suami si B yang ikut terlibat di acara-acara istri? Atau seperti suami si C dan seterusnya dan seterusnya. Stop! Pikiran saya memberhentikan keluhan saya. Saya ingat dengan pesan Bu Septi, “jangan bandingkan diri Anda, pasangan Anda, anak Anda, keluarga Anda dengan yang lain, tapi bandingkan diri Anda saat ini dengan diri Anda pada masa lalu, pasangan Anda saat ini dengan dia dulu-dulu, anak Anda sekarang dengan sebelum-sebelumnya, keluarga Anda dengan kondisi keluarga Anda kemarin!” Dengan begitu, saya tidak akan bisa mengeluh lagi. 

Latar belakang suami denga FoR dan FoE yang dominan patriarki tentu tidak mudah melebur kepada FoR dan FoE saya yang lebih egaliter dalam pola pengasuhan dan pendidikan. Keluarga suami yang seperti ‘mengharamkan’ anak laki-laki masuk dapur kemudian sekarang menjadi sosok suami yang mau membantu memasak, memandikan anak, menyuapi mereka bagi saya itu suatu perubahan yang besar dan tidak mudah. Saya banyak bersyukur tentang itu. 

Saya terus saja terngiang pesan teman sesama fasilitator matrikulasi. “Apakah suami mengganggu proses kita bertransformasi menjadi ibu profesional? Kalau tidak, teruslah berjalan! Kelak suami akan merasakan mnfaatnya.” Kesimpulnnya, kerjakan apa yang kita yakini kebenarannya (dalam hal ini pola pengasuhan anak), selama suami tidak mengganggu jalan kita, syukur-syukur kalau dia mendukung, atau bahkan ikut aktif berjalan bersama kita. Lakukan saja! Biarkan buah tumbuh matang pada masanya.

#ODOPfor99days2017

#day26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s