Review

[Review] Le Petit Prince

Sudah lama saya ingin membaca buku ini karena penasaran. Konon buku ini menjadi salah satu buku favorit Gus Dur selain The Venture of Islam (saya lupa siapa yang mengatakannya). Saya menduga pasti buku ini sangat istimewa.

Membaca awal-awal halaman saya merasa agak kecewa karena saya sudah mempunyai kesan bahwa buku ini pasti tidak jauh dari buku A Little Princess-nya Frances Hodgson Burnett. Tapi ternyata dugaan saya keliru. Le Petit Prince tersaji dengan bahasa sastra yang tinggi (begitu tertulis di review), sampai saya terkadang harus mengerenyutkan dahi ketika membacanya. Saya tidak mengerti sastra dan hanya sampai pada level penikmat bahasa indah saja. Jadi untuk karya sastra yang penuh teka-teki (ini asli kesan saya), setinggi apapun karya sastranya, saya belum bisa mencapainya (seperti karya Danarto yang Adam Makrifat). 

Tapi bukan berarti saya tidak menikmati bacaan saya. Saya tetap berusaha mencernanya, memikirkannya, dan menghayati kisah ini, dan inilah hasil penghayatan saya.

Sebuah hentakan diberikan oleh seorang anak tentang kehidupan orang-orang dewasa. Itulah inti dari buku ini. Banyak orang mengira bahwa menjadi dewasa adalah puncak kehidupan. Itu tidak sekedar deretan angka usia, tapi lebih pada pola pikir, kebijakan, dan juga kejernihan dalam bertindak. Maka jika ada orang dewasa yang masih suka berlomba-lomba mengejar dan berebut harta itu tak ubahnya seperti anak kecil berebut gula-gula. Jadi, perilaku yang belum matang selalu diidentikkan dengan anak kecil. 

Namun dalam buku ini semua dibalik. Di sini, di buku ini, dunia diajikan oleh anak kecil melalui mata pandangnya. Jika biasanya orang dewasa yang menentukan arti sebuah kebijaksanaan, maka di sini anak kecillah yang menentukannya. Maka Anda akan sering menjumpai istilah “orang-orang dewasa amat ganjil.”

Kalau begitu, abaikan saja buku ini, toh, cuma anak kecil yang bicara! Tunggu dulu, sebelum Anda memutuskan berhenti membaca buku ini, ada baiknya kita merenung sebentar. Kita, orang dewasa pernah menjadi anak kecil. Pastinya kita mengerti bagaimana rasanya kalau kita diabaikan, disepelekan, atau tidak dianggap. Nah, bila kita mengabaikan si Pangeran Cilik dan segala pendapatnya tentang orang dewasa ini, hal pasti akan melukai hatinya. Jadi, toling, luangkan waktu Anda barang sebentar saja untuk membaca celotehannya. 

Isinya tidak sekedar cerita tentang domba dan bunga mawar yang egois, kok. Ada beberapa nilai moral yang diamanahkan si Pangeran kepada kita, orang dewasa. Apa itu? 

  • Mengadili diri sendiri itu lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana. 
  • Berhati-hatilah terhadap orang sombong atau perilaku sombong yang bisa saja menghinggapimu. Siapa orang sombong itu? Yaitu orang yang hanya akan mendengar pujian-pujin saja.
  • Kamu menjadi bertanggungjawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. 
  • Baik buruk itu sebuah potensi. Ada benih baik bagi tanaman baik, dan ada benih yang buruk bagi tanaman yang buruk. Benih-benih itu tak terlihat alias masih tidur, sampai di saat yang tepat mereka menggeliat, tumbuh, dan seterusnya manusialah yang ikut andil dalam proses tumbuh kembangnya. 

Terakhir, ini poin penting yang bisa saya ambil pelajaran, khususnya untuk profesi saya sebagai orang tuanya anak-anak kecil, hargai mereka, dengar pendapat, cerita, dan imajinasi mereka sebagaimana kita ingin mendengar nasehat dan perkataan kita. 

Advertisements

2 thoughts on “[Review] Le Petit Prince

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s