Institut Ibu Profesional

[Refleksi MIIP] #1: Tentukan Prioritasmu!


Materi pertama, lebih tepatnya materi prolog dari Matrikulasi IIP adalah tentang Adab Menuntut Ilmu. Ini menarik, seperti pengajian yang dilestarikan di pesantren-pesantren, sebelum melangkah jauh belajar, santri-santri baru terlebih dahulu diperkenalkan dengan nazham Alala, yang merupakan kitab paling dasar dari adab belajar. 

Kenapa adab didahulukan? Karena adab adalah pakaian dalam berilmu. Seperti sholat, meski syarat rukunnya terpenuhi, pekerjaan sholat tidak akan sah bila kesucian pakaiannya tidak diperhatikan. Maka dalam menuntut ilmu pun demikian, setinggi apapun ilmu jika tidak dilandasi dengan adab, maka ilmu tersebut tidak ada gunanya. 

Materi adab dalam kelas matrikulasi tidak jauh dari pembahasan di Kitab Ta’lim, yaitu tentang adab terhadap diri sendiri, adab terhadap guru, adab terhadap ilmu, juga terhadap sumber ilmu. Inti dari adab i i adalah tazkiyatun nafs, yaitu menyucikan diri. Bila hati sudah bersih, hal-hal lain dalam belajar akan berjalan dengan mudah. 

Karena era digital semakin meluas dan perkuliahan IIP pun memakai media digital, ada satu adab lagi yang harus diperhatikan. Ini seputar bijak dalam berliterasi digital. 

Yang menjadi perhatian penuh di materi ini bagi saya justru di NHW nya, yaitu pada poin pertama, “jurusan apa yang hendak saya pelajari.” Setelah mempelajari dan mengerjakan NHW ini saya menjadi sadar akan prioritas hidup saya, bahwa harus ada yang diberi kekhususan dan harus ada yang diabaikan. Dengan menyadari hal ini, saya semakin nyaman baik itu ketika masuk di dunia maya maupun berjalan di dunia nyata. 

Saya yang dengan sadar mengambil jurusan ilmu kerumahtanggaan, ilmu Alquran, dan ilmu pendidikan, maka akan fokus di situ. Ada wacana semenarik apapun di dunia maya kalau tidak berkaitan dengan ketiga hal tersebut, saya tak akan menoleh. Begitupun saat di dunia nyata, seramai apapun tetangga kanan-kiri menggosipkan sesuatu selama tidak berkaitan dengan ketiga hal tersebut, saya enggan menghampiri. 

Anda tau bagaimana perasaan saya? Saya merasa terarah, tidak terjebak dalam tsunami informasi, tidak merasa terombang-ambing dalam pusaran aneka pendapat, tidak pula merasa baper saat orang-orang beradu argumen perbedaan mereka. 

Saya mungkin punya potensi beradu argumen dalam beberapa wacana mutakhir. Tapi karena sudah berkomitmen untuk fokus, energi saya bisa saya simpan untuk hal-hal yang saya fokuskan. Itu saja saya sudah merasa kekurangan waktu untuk belajar secara maksimal. 

Nah, setelah membaca postingan ini, sementara Anda merasa terombang-ambing dengan tsunami informasi, ada baiknya Anda ikuti langkah saya. Fokus pada prioritas. Semalat mencoba!

#ODOPfor99days2017

#day28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s