Institut Ibu Profesional

Apresiasi Latihan Kemandirian


Pagi ini, setelah mengantar sulung ke sekolah, si bungsu Fawwaz (2 tahun 1 bulan) menggelayut manja di pangkuan.

“Atu cayang ibu.”

“Iya, makasih ya Nak. Ibu juga sayang adek. Adek anak siapa sih?”

“Anak ibu Hida, abah (R)odhi. Atu cayang ibu. Ibu, adek mau maem, maem dewe, pake iwak jaer.”

Ya, anak-anak pada fitrahnya adalah makhluk pembelajar. Mereka tau bahwa tidak selamanya mereka kecil, tidak selamanya mereka dilayani, dan mereka pasti punya keinginan untuk maju, tumbuh, dan berkembang.

Setelah menjalani hampir tiga pekan latihan kemandirian, saya rasakan anak-anak semakin percaya diri. Mereka percaya kalau mereka mampu maju. “Aku mau makan sosis. Tapi aku masak sendiri ya,” ujar sulung kami Farras (4 tahun 10 bulan). Atau si adek yang sudah terbiasa melepas celana dan menaruhnya di ember pakaian kotor sebelum ia mandi. “Aku ico Bu (Aku bisa, Bu).” Atau Farras yang sudah cepat kaki-ringan tangan memberekan mainan, mencuci piring sesudah makan, merapikan baju sepulang sekolah, melakukan standar pagi tanpa instruksi, membantu ibu menjaga adek saat ibu banyak kerjaan dk kios, dan lain-lain. 

Beberapa orang keberatan dengan cara kami, misal saat Farras mencuci piringnya. Bagi mereka belum saatnya mereka bekerja. “Biarkan mereka bermain-main dulu,” ujar mereka. Eh tapi, anak-anak enjoy dengan kegiatan mereka. Bahkan anak-anak merasa berharga setelah berhasil mengerjakan pekerjaannya. Dari mana Anda tau? Kalau itu pertanyaan ditujukan ke saya, saya jawab, “Saya lihat dari binar matanya.”

Memang anak akan tumbuh dewasa dengan sendirinya. “Biarkan saja anak bermain, nanti kalau sudah besar dan dewasa, dia akan tau tanggung jawabnya.” Tumbuh dewasa itu pasti. Tapi tentang tanggung jawab, mandiri, dan empati perlu dilatihkan, karena kalau tidak dilatihkan, sifat dan perangai negatif bisa lebih dahulu dominan dalam diri anak. Akibatnya, sifat luhur seperti tanggung jawab, mandiri, dan empati tidak mendapat tempat di diri mereka. Itulah mengapa melatih kemandirian di usia dini mereka sungguh merupakan investasi yang berharga, tidak hanya untuk keluarga kita tapi juga untuk kemakmuran calon-calon keluarga anak-anak kita. Saya teringat dengan uraian pak Dodik dalam hal ini, kira-kira begini, “lebih baik berpeluh keringat dalam latihan daripada berdarah-darah dalam latihan.”

Saya sangat bersyukur mendapat momen “aha!” melatih kemandirian anak dengan lebih disiplin melalui kuliah ini. Saya memang sudah melatih anak-anak mandiri, tapi tidak punya target, tidak punya evaluasi, tidak punya catatan, tidak punya alat ukur, jadi semua terkesan mengalir saja.

Game-game kuliah ini bagi saya semacam titik awal latihan kemandirian anak-anak. Laporan apresiasi kemandirian yang sepuluh hari memang sudah usai, tapi laporan latihan yang sesungguhnya sejatinya baru dimulai. 

Terima kasih IIP yang telah menunjukkan langkah yang tepat untuk keluarga kami. Terima kasih bu Septi dan pak Dodik atas inspirasi yang mengalir ke keluarga kami. Semoga Allah memberi limpahan berkah untuk Ibu dan Bapak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s