Spiritual

Upacara Kematian

Jum’at lalu simbah suami meninggal dunia setelah enam bulan berjuang melawan penyakit lambungnya. Simbah suami ini adalah adik simbah saya, jadi nenek saya dan nenek suami adalah kakak-adik. Meskipun tidak begitu dekat, saya tidak bisa menahan tangis saat upacara pemberangkatan jenazah dilakukan. Saya merasa kehilangan, meskipun saya ikhlas atas keberangkatannya ke alam kubur.

Dalam upacara tersebut, kami yang hadir diminta kesaksian akan kehidupan simbah. Apakah beliau seorang muslim? Apakah beliau menjalankan aturan agama? Apakah beliau orang baik? Kalau ada salah, apakah kami yang hadir bersedia memaafkan?

Saya tiba-tiba membayangkan bahwa jenazah di hadapan saya ini adalah saya sendiri. Apa yang mereka kesankan tentang saya semasa hidup? Bagaimana kesaksian mereka atas kehidupan saya? Apakah mereka bersedia memaafkan kesalahan yang saya perbuat?

Untuk yang terakhir ini adalah hal yang berat. Saya ingat ketika saya mendengar si A yang enggan datang ke pemakaman si B karena semasa hidupnya si B selalu memfitnah si A. Saya membayangkan bagaimana nasib si B di alam kubur atas perbuatannya. 

Dengan membayangkan dan mengingat kematian seperti ini banyak hal yang bisa dipelajari (jika benar-benar mau belajar).

Pertama, mengingat kematian akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berucap, bertindak, dan berpikir, lebih-lebih ini berkaitab dengan hubungan sesama manusia. Mengingat bahwa kematian pasti akan datang menjemput akan membuat kita menjaga lidah, perbuatan, dan pikiran buruk kita terhadap orang lain. 

Kedua, mengingat kematian bisa menjaga kita dari perbuatan buruk. Orang bilang manusia mati sesuai dengan kebiasaannya. Ada banyak cerita orang shaleh meninggal dalam keshalehannya. Begitu pula sebaliknya. Memang, ada beberapa kisah di luar kebiasaan, misalnya seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing, atau seorang shaleh yang meninggal dalam keadaan bermaksiat. Dua kisah tersebut hendaknya kita ambil sebagai pelajaran bahwa Allah adalah Sang Maha Berkehendak. Sementara kita yang terbatas pengetahuan tentang masa depan, sudah seharusnya kita berusaha dan terua berusaha membiasakan kebaikan karena kita tau kapan mau menjemput. Hanya usaha untuk terus menjadi baik dan terus berdoa, itu yang bisa kita lakukan.

Ketiga, mulailah dengan tujuan akhir. Tujuan akhir penciptaan adalah beribadah kepada Allah. Maka dalam lingkup ibadahlah segala perbuatan, visi, dan misi hidup, kita tancapkan. Selanjutnya, kita bisa belajar dari kematian. Membayangkan kematian kita, kemudian sambutan orang-orang terdekat kita, juga keinginan kita untuk dikenang, adalah cara paling baik menentukan tujuan hidup kita. Kita ingin menjadi suami/istri yang bagaimana untuk pasangan kita, menjadi ayah/ibu yang seperti apa untuk anak-anak kita, menjadi teman dan anggota masyarakat macam apa kita, dan kontribusi apa yang ingin kita berikan untuk kehidupan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang bisa menentukan jalan hidup ibadah kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s