Pendidikan Anak

Mendidik Anak Bermental Kaya

Siapa sih yang tidak ingin menjadi orang kaya? Bisa dikatakan hampir semua orang pengin kaya, kaya harta, kaya ilmu, lebih-lebih kaya hati. 

Kali ini saya fokus pada kekayaan harta. Saya sendiri tidak berambisi untuk menjadi kaya harta. Artinya, saya tetap bekerja, tapi harta bukan tujuan segala-galanya. Nah, kali ini saya ingin menuliskan tentang kaya harta dalam perspektif yang menurit saya sangat menarik. Tulisan ini saya jabarkan dari penjelasan bu Septi di sela-sela kelas matrikulasi.

Pertama, orang yang ingin menjadi orang kaya harus mempunyai mental kaya terlebih dahulu.

BE : punya mental kaya terkebih dahulu, mental kaya itu tidak mengeluh, tangan selalu di atas, dan optimis dg masa depan. Meski saat ini kalaul dihitung materi masih jauh dari cukup.

Ini penting. Mental adalah pola pikir yang akan menentukan tindakan. Orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang mempunyai mental kaya, yaitu orang yang merasa cukup harta untuk dirinya sendiri dan keluarga sehingga ia tidak akan pelit kepada sesama. Sebaliknya, orang yang masih merasa kurang, tidak bersyukur, pelit, itu bukan orang kaya karena ketidakcukupan yang ia rasakan.

Hal yang kedua adalah: 

DO : kerjakan hal-hal yang memang dilakukan oleh orang yang bermental kaya. Semakin tidak punya duit, semakin banyak berbagi yang dimiliki, semakin sering menolong dengan tenaga dan pikirannya, dan mensyukuri semua yang ada saat ini. 

Setelah mental kaya dimiliki, orang kaya ini akan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang kaya yang sesungguhnya (benar-benar kaya), yaitu berbagi. Pepatah bilang, harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita bagikan, karena harta tersebutlah yang menemani kita di alam kubur. Kalau punya harta tapi sedikit, ya itu yang dibagikan. Di sini saya selalu ingat dengan sahabat seperjuangan saya di asrama dulu. Beliau bukan orang kaya (dalam artian bukan orang berlebih harta). Tapi mental beliau adalah mental orang kaya. Setiap dapat rezeki, entah habis mengaji, mengajar, atau yang lainnya, beliau akan membeli ubi, gula, dan santan untuk dimasak jadi kolak. “Aku nggak bisa ngasih makanan yang enak-enak kaya teman-teman Da, kalau bikin kolak gini kan murah, bisa jadi banyak dan bisa dibagikan ke teman-teman.” Bagi saya itu pelajaran yang sangat berharga sekali.

Akhirnya, hal yang ketiga inilah yang akan dimiliki oleh orang kaya.

HAVE : Dengan memiliki mental kaya dan bersungguh-sungguh menjemput rejeki, akhirnya kita akan memiliki apa yg sudah tertulis untuk diri kita. Kita benar-benar kaya dan bermental kaya.

Materi ini sangat penting bagi para ibu karena di tangan ibulah pendidikan anak tertumpu (dan juga bapak tentunya). Anak-anak adalah titipan Dia Yang Kaya, maka sudah sewajarnya kita mendidik mereka dengan mental kaya. Nabi SAW berpesan, “Berakhlaklah denganakhlak Allah.” Artinya, bermentallah kalian dengan mental kaya sebagaimana Allah Sang Mahakaya.  Jangan didik anak-anak kita dengan mental miskin, peminta-minta, suja berkeluh-kesah, meski saat ini kita benar-benar miskin. Selalu tanam kepada mereka bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah. 
Apabila anak bermimpi besar, maka katakan, “Bapak ibu mungkin tidak sanggup, tapi kamu milik Allah yang Maha Kaya, mintalah ke Allah, dan miliki mental kaya.”

*disarikan dari diskusi di forum fasilitator IIP bersama Bu Septi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s