pernikahan

Me-Time ala Emak-emak Kampung

Siapa bilang me-time hanya milik para mama di perkotaan? Siapa bilang me-time hanya dinikmati para macanternak (mama-cantik-anter-anak)? Para emak di kampung juga memiliki dan mengenal me-time, lho.

Beberapa ibu yang tinggal di kampung memang tidak banyak yang mengenal istilah me-time. Itu karena  masih minimnya penggunaan media sosial di perkampungan. Para ibu masih menikmati acara ngrumpi bareng di waktu senggang mereka. Ketika mengantar anak-anak ke sekolah, misalnya, mereka masih jarang yang bermain telpon pintar, bermain game, atau sekedar memegang telpon. Berbincang, ngrumpi, atau sekedar bergosip ternyata masih menjadi kegiatan menarik dibanding berinteraksi dengan telepon genggam. Karena itulah isu-isu kekinian yang ramai diperbincangkan di media sosial tidak mempengaruhi mereka. Isu me-time salah satunya.

Meski demikian, jika ditanya tentang substansi dari me-time, misalnya ketika ditanya tentang kebosanan, tentang solusi kebosanan, waktu menyenangkan diri sendiri, mereka sangat antusias dalam menjawab. Mereka yang mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang terlihat begitu ceria ternyata juga pernah mengalami saat-saat yang membosankan dalam mengurus rumah tangganya. Sebagian kecil mereka adalah buruh industri rumah tangga seperti penganyam tas, penjahit songkok, atau buruh tani yang bekerja di sawah orang lain. Kelompok terakhir ini pun meskipun bekerja juga pernah menyatakan bosan dengan aktivitas mereka. Jadi, ternyata rasa bosan itu manusiawi yang bisa dialami siapa saja, ibu mana saja, dan berprofesi apa saja, ya.

Lalu apa solusi mengatasi kebosanan itu? Aktivitas apa yang bisa mengobati kebosanan? Adakah waktu dan suasana khusus untuk menyenangkan diri sendiri? Di situlah substansi dari me-time yang bisa digali. Berikut ini jawaban dari beberapa emak-emak kampung yang sempat saya Tanya tentang me-time mereka.

Jalan-jalan dengan Anak

Sebagian emak di kampung biasa menghabiskan waktu libur sekolah anak-anak mereka dengan berjalan-jalan. Jangan bayangkan jalan-jalan di sini adalah jalan-jalan ke mall, swalayan, atau ke bioskop, ya. Jalan-jalan ala emak kampung sangat sederhana. Keliling kampung, ke pasar tradisional dengan kereta-keretaaan, atau paling mentok yaitu jalan-jalan ke alun-alun. Intinya adalah menyenangkan anak. Bagi mereka menyenangkan anak artinya juga menyenangkan diri mereka sendiri.

Off dari Semua Pekerjaan Rumah

Sebagian mereka ada yang menjawab bahwa ketika mereka merasakan bosan yang sangat menyiksa, mereka meliburkan diri dari semua pekerjaan rumah. Trus apa yang mereka lakukan? Mancing di kali yang ada di depan rumah mereka, nonton drama Korea dari CD bajakan yang didapat dari pasar-pasar tradisional, atau apa saja selain mengerjakan pekerjaan rumah. Tentu saja hal ini tidak bisa berlangsung lama karena bagaimanapun, naluri emak-emak kampung pasti tidak akan betah dengan rumah yang berantakan.

Belanja

Belanja adalah obat mujarab penghilang kebosanan sekaligus cara me-time yang dipilih emak-emak kampung. Tidak perlu ke kota, sekedar belanja sayur di tetangga sebelah atau ngebakso di kios kaki lima pun bisa mengobati kebosanan. Asal belanjanya dengan uang cukup dan tidak sampai berhutang, ya.

Mengantar Anak Sekolah

Ternyata, mengantar anak sekolah bisa menjadi ajang silaturrahmi efektif bagi para emak di kampung. Kalau di perkotaan ada istilah ibu-ibu sosialita dengan kemewahannya, di kampung aktivitas mengantar anak ke sekolah adalah ajang sosialita emak-emak kampung dengan kesederhanaannya. Mereka akan berangkat pagi, berkumpul dengan emak-emak lainnya, membincangkan apa saja, mulai dari isu kepala desa sampai hasil panen di sawah, sampai akhirnya anak-anak mereka keluar kelas untuk pulang ke rumah. Bagi mereka hal-hal tersebut sudah bisa membuat hati senang serta bisa mengusir kebosanan.

Bersosial Media

Jawaban ini hanya diberikan sebagian kecil emak-emak di kampung, yaitu emak-emak yang memang sudah melek teknologi. Mereka akan menggunakan sosial media untuk mengusir kebosanan dan menjadikan berseluncur di dunia maya sebagai kesenangan pribadi. Karena menjadi kesengangan pribadi, umumnya sosial media milik emak-emak kampung menjadi ajang senang-senang, jualan, dan mendokumentasikan foto-foto.

Membaca Buku

Tidak banyak emak-emak di kampung yang mempunyai me-time baca buku atau hal-hal yang berkaitan dengan buku. Itu karena minimnya minat baca yang melanda seluruh lapisn msyarakat kita. Jangankan emak-emak kampung, anak sekolahan saja banyak yang memiliki minat baca rendah, iya kan?

Dari jawaban-jawaban para emak kampung di atas, bisa disimpulkan bahwa emak-emak di kampung pun butuh me-time layaknya perempuan-perempuan lainnya. Hanya saja bentuk me-timenya lebih sederhana, tidak neko-neko, dan yang lebih penting bagi mereka adalah me-time itu tidak mengeluarkan banyak biaya.

 

Penulis

Zuh Hidayati. Nama lengkapnya Zuhriyyah Hidayati, ibu dua putera yang sedang tumbuh dan berkembang dalam keceriannya. Memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu dan menyimpan sementara ijazah S2nya demi membersamai kedua buah hatinya. Saat ini penulis menetap di sebuah kampung kecil di Lamongan dan membantu usaha suami di usaha percetakannya. 

Advertisements

2 thoughts on “Me-Time ala Emak-emak Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s