Institut Ibu Profesional

[Aliran Rasa] Perjalanan Projek Keluarga

Jujur saja, saya baru memahami (meski sedikit) tentang projek keluarga secara jelas itu setelah mendapatkan materi ketiga ini. Sebelumnya saya mengetahui tentang projek keluarga dari bacaan atau pengalaman beberapa keluarga, sepertio projek keluarga Bu Septi. Saat membaca pengalaman-pengalaman tersebut, saya merasa kecil dan pesimis bisa mengerjakan projek keluarga.

Namun setelah sedikit demi sedikit memahami materi ini, rasa pesimis saya tentang projek keluarga mulai luntur. Saya bahkan baru menyadari, jenis usaha yang saya dan suami jalani saat ini adalah projek keluarga yang terus berganti. Bisa dikatakan, usaha kami berjalan dari satu projek ke projek lainnya, dan pelakunya adalah kami, saya, suami, anak-anak, dibantu mbah. 

Jadi seharusnya saya tidak asing dalam pelaksanaan projek keluarga karena kami sudah menjalaninya. Namun kenyataannya saya memang masih harus mempelajari agar yang sudah kami lakukan sebagai rutinitas ini bernilai sebgai projek keluarga.

Salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan adalah projek keluarga.

Di sinilah tantangan kami sebenarnya, memberi nilai pada aktivitas keseharian. Maka yang saya lakukan adalah mengkomunikasikan aktivitas kami sebagai sebuah projek, kemudian membagi job description, dan mengukur durasi, serta menentukan tujuannya. 

Projek-projek yang kami lakukan masih sangat sederhana, berdurasi hitungan jam. Dan sifatnya pun masih dalam lingkup keluarga kami saja. Baru di sini level projek kami. Harap maklum, kami, saya maksudnya baru mengenal yang namanya projek keluarga. Namun, bukan di situ letak pelajaran yang bisa kami petik. Pelajaran yang sebenarnya ada pada proses dari projek-projek tersebut.

Yang pertama adalah komunikasi. Saya yang biasanya belanja sendiri atau mengajak anak-anak jadi bisa belajar berkomunikasi secara produktif saat saya menjadikan belanja sebagai projek keluarga. Saya bicara ke kedua balita saya bahwa saya akan mengajak mereka belanja dan berbagi tugas dengan mereka. Di sini terbangun sebuah komunikasi yang sehat antara saya dan mereka. Dari komunikasi ini saya pun diberi pelajaran lanjutan, yaitu anak-anak menjadi percaya diri.

Mereka bisa belanja. Mereka yakin itu. Mulai dari mencatat daftar belanjaan, memilih barang sesuai harga dan kualitas, kemudian konsisten dengan catatan belanjaan, dan akhirnya mereka pulang ke rumah dengan muka bahagia. Artinya mereka bisa merasakan bahwa mereka bisa diandalkan, mereka merasa dipercaya, dan akhirnya mereka bisa mendapatkan kepercayaan diri.

Ke depannya kami berharap bisa mengadakan projek-projek keluarga yang lebih luas manfaatnya. Kami ingin keberadaan kami bisa menjadi manfaat bagi sekitar melalui projek-projek kami.

Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s