Cerita dari Kampung

Hari Buku dan Budaya Baca di Kampung

Karena sekarang kami tinggal di kampung, maka cerita-cerita yang saya tulis tidak jauh-jauh dari keadaan di kampung. Termasuk cerita yang akan saya tulis ini, yaitu tentang budaya baca di kampung.

Tidak jauh berbeda dengan budaya baca pada umumnya sebenarnya, artinya budaya baca di kampung ini juga rendah. Sangat jarang ada rumah yang bahkan sekedar dihiasi rak buku, apalagi ada kegiatan pembacaan buku. Di kampung, yang namanya membaca buku artinya ya membaca buku pelajaran. Selain itu tidak ada. 

Maka beberapa orang yang pertama kali melihat koleksi buku kami yang sebenarnya tidak seberapa ini ada yang bereaksi kaget. “Buku kok sebanyak itu.” Sayangnya lagi, yang bereaksi demikian itu cuma sedikit. Artinya, orang lain yang melihat koleksi buku-buku kami itu kebanyakan bersikap cuek. Cuek itu saya artikan bahwa mereka tidak peduli, tidak tertarik, dan tidak ada keinginan untuk sekedar tau, apalagi keinginan membaca. Tapi semoga kesan saya ini salah. 


Baiklah, saya list berbagai permasalahan yang berhasil saya amati.

Pertama, terkait soal persoalan kemampuan baca dalam arti kemampuan baca tulis tingkat dasar. Beberapa guru mengeluhkan keoada saya ada beberapa murid kelas 3 yang masih kesulitan membaca dan masih mengeja bacaan. Bisa dibayangkan kan, kalau untuk membaca saja susah apalagi untuk cinta baca. 

Kedua, seperti yang saya singgung di atas, membaca yang umum di masyarakat adalah membaca pelajaran. Artinya, urusan membaca selesai hanya di sekolahan. Maka jika masyarakat itu mempunyai koleksi buku, buku-buku itu adalah buku pelajaran. Bahkan orang tua yang paling terpelajar di kampung ini pun saat mengenalkan buku pertama kepada anak-anaknya maka buku itu adalah buku cara belajar membaca, bukan buku bacaan.

Ketiga, buku bukan kebutuhan. Masyarakat belum mempunyai kesadaran akan pentingnya baca, maka mereka pun tidak menganggap buku sebagai kebutuhan. Buku masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder atau bahkan tersier. Memang beberapa keluarga di kampung ini ada yang tergolong keluarga menengah ke bawah, tapi tak seharusnya itu jadi alasan untuk tidak membaca. Tapi, ya sudahlah, persoalannya rumit. Yang kaya saja tidak peduli pada buku, apalagi yang susah.

Keempat, guru-guru pun tidak tertarik untuk membaca. Saya mendapatkan kesimpulan itu karena usaha saya adalah usaha fotocopy yang kebanyakan pelanggan saya adalah guru. Ketika melihat tumpukan buku di kios kami yang kebanyakan buku anak-anak saya, mereka sama sekali tidak tertarik. Hanya satu dua guru saja yang bertanya tentang buku-buku itu. Di sekolah anak saya juga tidak ada perpustakaan anak yang menyediakan buku bacaan anak-anak. Seharusnya buku-buku itu ada meskipun anak-anak belum bisa baca, karena dengan menambah interaksi anak-anak dengan buku bisa menumbuhkan cinta mereka kepada buku. 

Kelima, akar dari semua itu adalah minimnya budaya cinta baca dan cinta buku. Jadi bila ingin permasalahn ini diselesaikan, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menumbuhkan cinta baca dan cinta buku. Itu bisa dilakukan siapa? Keluargalah yang berperan utama, dibantu sekolah, dan masyarakat. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s